Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat

Tokoh Pembela Kaum Tertindas Itu Telah Kembali Untuk Tak Kembali

gus dur dan pram

Belum usai persoalan kemelut bangsa yang melanda negeri ini, tiba-tiba kita dikejutkan oleh musibah yang menimpa pejuang demokrasi, HAM, dan pluralisme, yaitu Abdurahman Wahid. Ia, setelah sempat dirawat beberapa hari dan menjalani cuci darah seperti biasa biasa, meninggal pada Rabu, sekitar pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM). Seluruh elemen masyarakat Indonesia pun berduka atas kepulangannya. Gusdur, demikian ia sering disapa, adalah guru bangsa yang telah mewarnai perjalanan Indonesia, Islam, dan keindonesiaan.

Selamat jalan Gus Dur

gus dur

Kiai Haji Abdurrahman Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940. Mengenyam pendidikan mulai sekolah dasar di Jakarta pada tahun 1953 kemudian melanjutkan ke SMEP di Yogyakarta tahun 1956. Kemudian, beliau yang lebih akrab dipanggil dengan Gus Dur melanjutkan pendidikan di pesantren Tambakberas Jombang pada tahun 1963. Gus Dur juga sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar, Department of Higher Islamic and Arabic Studies, Kairo selesai pada tahun 1966 kemudian melanjutkan ke Fakultas Sastra, Universitas Baghdad, Irak, hingga tahun 1970.

Kembali ke Indonesia, Gus Dur berkarier menjadi guru dan dosen. Menjadi Guru Madrasah Mu'allimat, Jombang (1959 - 1963), Dosen Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974), dan Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974).

Workshop Resolusi Konflik Akar Rumput Cipanas Garut

Memori kolektif, menjadi wacana yang memang harus didengung-dengungkan dan di pahami bersama, mengapa negeri nan indah dengan jutaan penduduknya ini memiliki memorabilia konflik dan kekerasan yang berseragam, ditambah dengan peristiwa-peristiwa masalalu yang penuh dengan kekerasan dan konflik lokal semakin mendinamisasikan kepentingan-kepentingan politik lokal dengan benang merah yang sama yaitu kekerasan, baik terselubung, tak terdengar maupun yang nyata-nyata dipertontonkan. Kekerasan dan trauma menjadi warna yang sangat dominan apabila kita menengok jauh ke masa lalu, betapa duka dan nestapa penghuni wilayah akar rumput ini tidak pernah bisa bersuara, jika bersuarapun harus dengan filter kebudayaan dan kesenian yang tertata indah untuk telinga yang barangkali memang memiliki hati nurani kekerasan dalam seni yang terpancang di otaknya, tanpa jiwa.

Memadu Nalar Rekonsiliasi

Arie Sujito

Goresan luka akibat konflik dan kekerasan yang berkepanjangan, memang tak mudah disembuhkan. Negeri ini terlalu banyak balutan luka, dengan begitu banyak puing-puing reruntuhan akibat ledakan emosi, menebalnya sikap curiga dan kebuntuan nalar, sehingga gagal membangun kemampuan bersama untuk perdamaian. Ledakan masalah semenjak peristiwa demi peristiwa dalam rentang negeri ini beridi, pertengkaran antar pihak yang membawa korban dan kekacauan membuat ketakutan, sejauh ini belum semua mampu diungkapkan secara jernih. Tidak sulit menyebut, saat kekuasaan berwatak fasistik dan otoriter, ruang mencari keadilan tentu menyempit. Tafsir sejarah adalah rekayasa dan konstruksi hegemonik sang pemilik kuasa. Disanalah, tidak ada dialog untuk mencari titik sambung agar kebenaran dan keadilan terwujud. Jika demikian adanya, maka rekonsiliasi mengalami hambatan dan kebuntuan.

Masa lalu dan Politik Penyesalan

imam aziz

Masa Lalu dan ‘Politik Penyesalan’

Barangkali ada di antara kita, yang di waktu yang lalu melakukan kejahatan, membunuh, menghilangkan orang barangkali, dan para pelaku itu barangkali masih lolos dari jeratan hukum, kali ini negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi drakula dan penyebar maut di negeri kita. (Konperensi Pers Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pasca ledakan bom Kuningan, Jum’at 17 Juli 2009)

Masa lalu, sebuah topik penting yang menjadi perhatian kalangan akademik, politik, maupun aktivis untuk mamahami salah satu problematika dalam negara transisional. Apa makna masa lalu pada masa kini dan masa depan? Bagaimana masyarakat dan bangsa mengatasi peristiwa-peristiwa traumatik?