@import url(modules/tagadelic/tagadelic.css);

February, 2004


Deliar Noer Dukung Keputusan MK

Deliar Noer Dukung Keputusan Mahkamah Konstitusi

25 Pebruari 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta: Tokoh politik nasional Deliar Noer mendukung keputusan
Mahkamah Konstitusi yang memulihkan hak dipilih bekas anggota Partai Komunis
Indonesia (PKI) dalam pemilihan umum. Dukungan tersebut disampaikan Deliar Noer
saat dihubungi Tempo News Room, Rabu (25/2).

Komisi Pertahanan Pertanyakan Keputusan Mahkamah Konstitusi

Komisi Pertahanan Pertanyakan Keputusan Mahkamah Konstitusi


25 Pebruari 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta: Anggota Komisi Pertahanan dan Keamanan DPR berharap
keputusan Komisi Konstitusi yang mencabut larangan hak memilih dan dipilih bagi
anggota PKI dalam Pemilu ditinjau ulang. Mereka akan mempertanyakan keputusan
itu melalui mekanmisme yang berlaku di DPR.

Pers Release

Mahkamah
Konstitusi (MK), (24/2), menilai pasal 60 huruf g UU nomor 12 tahun 2003 tentang
Pemilihan Umum (Pemilu) bertentangan dengan beberapa pasal dalam UUD 1945
yang tidak membenarkan adanya diskriminasi terhadap warga Negara. Pasal 60
huruf g UU nomor 12 tahun 2003 tentang Pemilu yang dimaksud adalah: (g)
Bukan bekas anggota oraganisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk
oraganisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung maupun tak langsung
dalam G30S/PKI atau organisasi terlarang lainnya.
Kabar
dari MK di atas jika diperhadapkan dengan ancaman terhentinya reformasi hukum
di
Indonesia dapat dirasakan
sedikit menggembirakan.

Terlibat Langsung dan Tidak Langsung

Diskriminasi Terhadap Korban Tragedi 1965-1966 [1]

Selama ini penglihatan atas tragedi 1965-66 di Indonesia seringkali terjebak dalam determinisme sejarah. "Dalang" dari sebuah peristiwa dicari-cari dan diperdebatkan. Banyak energi dihabiskan untuk mencari-cari "sebab" hingga cenderung untuk melupakan "akibat"nya. Meskipun peristiwa sejarah itu masih dapat diperdebatkan kebenaran dan obyektivitasnya.

Seminggu sudah saya mendengar Ngadam, ....

REKONSILIASI AKAR RUMPUT UNTUK DEMOKRASI DAN HAM[1]

Oleh Saiful H. Shodiq*

Sudah seminggu ini saya mendengar seorang anak buah Bung Tomo dalam
masa revolusi di kota B, sakit sesak nafas. Bersama seorang dokter muda yang
kebetulan datang dari Jakarta, saya berkunjung ke rumah kayunya yang rapuh.
Kunjungan ini sebuah komitmen persaudaraan, penghormatan dari yang muda pada
yang tua. Terlalu mulia, mungkin, untuk dikatakan demi kemanusiaan. Dan bukan
lagi perjumpaan untuk menggali cerita tentang perjuangan hidupnya sebagai
seorang petani dan pejuang revolusi, pemimpin masyarakat dan organisasi petani,
atau tentang partainya, hingga terjadinya tragedi 1965-1966.

Dari Ksatria menjadi Paria

Dari Ksatria menjadi Paria; [1]

Degradasi Peran dan Pembunuhan Politik Sistematik

Catatan Awal Peristiwa 1965/66 di Jogjakarta [2]

Merpati Tak Pernah Kembali ke Kandang