@import url(modules/tagadelic/tagadelic.css);

March, 2006


Nyadran di Bengawan Solo:Kembang Setaman dan Kidung bagi Korban

Pengantar

Peringatan Tragedi 1965 tahun ini jatuh di penghujung bulan Ruwah – penjawaan untuk kata Arab “arwah” – menjelang masa puasa. Bagi masyarakat Jawa bulan Ruwah merupakan saat keluarga mengingat leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Biasanya keluarga-keluarga yang masih menjalankan tradisi kejawen mengadakan sadranan untuk menabur bunga di makam dan mengirim doa bagi orang tua dan kerabat yang telah tiada. Mengikuti tradisi ini, pada Minggu, 2 Oktober 2005, kelompok Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba) Solo menyelenggarakan upacara nyadran bagi anggota keluarga dan kawan-kawan mereka yang menjadi korban dalam pembantaian di Jembatan Bacem, Desa Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Di bawah adalah catatan Lingkar Tutur Perempuan tentang acara bersejarah tersebut.

Temu Rindu Menggugat Senyap : Catatan Pandangan Mata

Pengantar:

Pada 24 Juli 2005 Lingkar Tutur Perempuan mendapat kehormatan menjadi saksi sejarah reuni para perempuan korban Tragedi 1965 di Yogyakarta. Acara yang diberi nama “Temu Rindu Menggugat Senyap” ini berlangsung selama kurang lebih 5 jam tanpa ada gangguan yang berarti dan membuka ruang pengungkapan kebenaran tentang salah satu tragedi kekerasan paling berdarah di negeri ini. Di bawah ini adalah catatan pengamatan kami selama acara berlangsung. Selamat membaca!

Membuka Ruang Jumpa dan Mengungkap Rasa