Hidup Bersama Keluarga Korban Tragedi 1965-66
BADAI PASTI (AKAN) BERLALU
Pengalaman Hidup Bersama Keluarga Korban Tragedi
1965-66[1]
Oleh: Saiful H. Shodiq[2]
Prolog
|
Soeharto lengser keprabon. Beberapa bulan Konteks agenda jaringan itulah Syarikat Indonesia |
![]() |
Menghitung Kerugian Ekonomis Tragedi 1965
Menghitung Kerugian Ekonomis Tragedi 1965
Oleh: M. Imam Aziz
![]() |
Tragedi kemanusiaan 1965-66 berupa pembunuhan, penyiksaan, pemenjaraan, diskriminasi sosial dan politik bagi orang yang dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September dan anggota/simpatisan Partai Komunis, telah mengubah kehidupan social, ekonomi, politik dan hukum dari jutaan korban yang tersisa hingga sekarang. Tidak adanya kemauan politik dari negara dan masih kuatnya sentimen anti-komunis di kalangan masyarakat Indonesia, telah mengabaikan kenyataan adanya berlarut-larutnya pelanggaran hak-hak sipil dan politik, dan hak-hak ekonomi, social dan budaya dari korban tragedi kemanusiaan. Perlakukan diskriminatif terhadap korban tragedi 1965 yang akut, telah menyebabkan kerugian ekonomis yang luar biasa besar dan dampaknya adalah kemiskinan yang sangat nyata. Ketiadaan keadilan hukum dan diskriminasi telah mengakibatkan pemecatan dari tempat kerja, perampasan tanah, bangunan, lahan pertanian, tertutupnya akses kerja yang layak, dll. sehingga mayoritas korban tragedi 1965 hidup di dalam kemiskinan yang parah selama bertahun-tahun dan turun temurun. |



