Syarikat Indonesia Regional Jawa Timur
SILATURAHMI SYARIKAT INDONESIA
REGIONAL JAWA TIMUR
“MERAJUT SILATURRAHMI, MEMBANGUN KERJA SAMA”
Hotel Fatma Jombang, 13 Mei 2006
Klarifikasi Pemberitaan Pembubaran Paksa
Klarifikasi atas pemberitaan pembubaran paksa
“Pasamoan
Perempuan-Perempuan Tangguh”
di Wisma Brantas No. 2
Bandung,
Sabtu 20 Mei 2006.
lang=EN-GB>Pada hari Sabtu, 20 Mei 2006,
sekitar pukul 11 siang di Wisma Brantas telah terjadi pembubaran paksa atas
kegiatan Pasamoan Perempuan-Perempuan Tangguh dengan tema, “Menggugah Memori Menggapai Rekonsiliasi Memperkuat NKRI” yang
diselenggarakan oleh Komnas Perempuan, Syarikat (Masyarakat Santri untuk
Advokasi Rakyat) Indonesia, dan INCReS (Institute for Culture and Religion
Studies).
Kronologis Peristiwa Penyerbuan Seminar
Kronologis peristiwa penyerbuan seminar
Pasamoan perempuan-perempuan tangguh
Wisma Brantas
20 Mei 2006
Tanggal 1 Mei
Panitia melakukan rapat persiapan acara dan pembagian tugas
Living with a spectre of the past
Traumatic Experiences
among Wives of Former Political Prisoners of the ‘1965 Event’ in Indonesia
Budiawan
Sanata Dharma University
Introduction
Like the end of most authoritarian rulers elsewhere, the fall of Suharto in Indonesia has opened an opportunity for the survivors of the past political violence to break their silence publicly. Of those who have taken the chance to articulate their sense of self are former political prisoners of the ‘1965 Event’ (or eks-tapol in the popular Indonesian term). They have expressed their claim as victims, instead of perpetrators, of the past tragedy. Such an expression appears in memoirs, autobiographies or other forms of self-narrative booming since several months after Suharto stepped down in May 1998, [1] and the formation of some organizations among them. [2] The primary objective of these self-articulations is to seek a public recognition of their truth claims of the past, in order to release their burden of the past.
Peran Ulama
PERAN ULAMA DALAM REKONSILIASI BANGSA
Salahuddin Wahid
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang
| Kalau kita dilukai atau disakiti orang lain, naluri kita bangkit untuk membalasnya. Kalau bisa luka balasan lebih dalam dan lebih parah daripada apa yang kita derita. Luka itu baru sembuh kalau si penjahat menerima hukumannya. Perasaan dendam itu terus berada didalam diri kita selama si penjahat tidak atau belum mendapat hukuman yang setimpal. | ![]() |
Indonesian Global Healing
Konferensi Internasional Global Healing II
Indonesia Session
Ubud Bali, 3-8 Mei 2006
Laporan: Pipit Ambarmirah
Pada tanggal 3-8 Mei 2006 berlangsung acara Global Healing di Bali yang diikuti oleh peserta dari seluruh dunia. Ini adalah acara Global Healing kedua yang dilakukan di Indonesia, tetapi untuk sesi khusus Indonesia adalah yang pertama kali dan dikoordinir oleh P3I (Pusat Partisipasi Perempuan Indonesia).
Sesi Indonesia dijadwalkan pada tanggal 5 dan 6 Mei 2006. Peserta dari Indonesia berjumlah 19 orang sudah termasuk panitianya. Peserta dari Indonesia berasal dari berbagai propinsi misalnya Yogyakarta, Jakarta, Aceh, Ambon, Atambua, Papua, Sulawesi, Sumatra, Bali dan lain-lain.
Mengenal Plantungan di hari Kartini
Kehendak untuk Mengingat yang Dilupakan[1]
Budiawan
Tentang politik ingatan
Ketika ingatan individu dituturkan kepada khalayak, maka ingatan individu tersebut telah tertransformasikan menjadi ingatan sosial. Bila transformasi ingatan itu berlangsung secara lintas-generasi, maka di situ terjadi proses transmisi atau pewarisan ingatan. Oleh karena itu ingatan tidak selalu merupakan “rekaman” – sebuah istilah yang mencerminkan pengertian memori sebagai sesuatu yang fisik-mekanis – pengalaman langsung, melainkan tuturan pengalaman masa lalu, yang hidup dalam suatu masyarakat pada suatu zaman. (Sebagian besar dari kita, misalnya, jelas belum lahir di zaman pendudukan tentara Jepang. Tetapi berbagai penderitaan dan kepahitan hidup pada masa itu kita anggap sebagai bagian dari ingatan kita-sebagai-bangsa Indonesia, tak lain karena pengalaman itu secara periodik dituturkan-ulang).
Kado untuk Ibu
Merasakan Pengalaman Etis?
Oleh: GADIS ARIVIA
Konsep hidup beretika tidaklah sulit dipahami. Keputusan etis berkait erat dengan konsep-konsep seperti ”keadilan”, ”hak”, ”kewajiban”, ”kebaikan”, dan ”kebenaran”. Namun, manusia lalu mempersulit konsep-konsep ini dengan berbagai argumentasi yang ”tidak adil”, ”tidak berhak”, ”tidak baik”, dan ”tidak benar”.
Diculke ndhase, digondeli buntute
Kita berdiri di negri yang (katanya) menjunjung tinggi hak hakiki setiap pribadi. Kita menghirup udara negri yang (katanya) menjunjung tinggi kemanusiaan. Dan kita bernaung di bawah atap langit negri yang (katanya) berpaham demokrasi. Tapi faktanya? Diskriminasi masih saja terjadi. Demokrasi, kesetaraan dan kemanusiaan menjadi kata yang tanpa makna.
Ruas Edisi XXI, 2006
“JANGAN pernah menikah muda, “ kalimat itulah yang paling diingat oleh Suratmi (67 th) saat aktif jadi anggota Gerwani. Baginya, Gerwani waktu itu adalah organisasi yang sangat peduli pada hak-hak kaum perempuan. Penentangan terhadap diskriminasi pembagian warisan “wong lanang sapikul – wong wadon sagendhongan,” atau lelaki tidak boleh beristri lebih dari satu, dan larangan berselingkuh, adalah contoh konkretnya. Dalam pandangan Suratmi – dan juga kebanyakan anggota Gerwani – organisasi itu memiliki tujuan yang baik..........


