Depan /
March, 2008
Komnas HAM Usut Kejahatan Soeharto
"Tak akan selesai tanpa dukungan politik."
JAKARTA -- Meninggalnya mantan presiden Soeharto tak menyurutkan niat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk kembali mengusut jejak kejahatan HAM semasa penguasa Orde Baru itu memerintah. Hal itu dilakukan untuk membuktikan adanya dugaan pelanggaran HAM berat pada periode itu.
"Tindakan ini dilakukan untuk meneruskan mandat Komnas HAM dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000," kata Wakil Ketua Komnas HAM M. Ridha Saleh saat dihubungi semalam. Dalam undang-undang itu, kata dia, Komnas HAM diperintahkan melakukan kajian terhadap kasus-kasus kejahatan melawan kemanusiaan yang dilakukan rezim Orde Baru.
DPR Dukung Pengusutan Kasus HAM SOEHARTO
"Jangan hanya gertak sambal. Komnas harus menentukan kasus prioritas."
JAKARTA -- Sejumlah fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat mendukung upaya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk kembali mengusut jejak kejahatan HAM semasa presiden Soeharto memerintah. Namun, dua fraksi menentang.
Dua hari lalu, Komnas HAM menyatakan akan mengusut kembali jejak kejahatan HAM semasa Presiden Soeharto memerintah. Hal itu untuk membuktikan adanya dugaan pelanggaran HAM berat pada periode itu dan merealisasi mandat Komnas sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Komnas membentuk empat tim. Dua tim meneliti kasus penembakan misterius (Petrus) dan kasus pembunuhan massal setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dua tim lainnya menelusuri kasus dugaan pelanggaran HAM terkait dengan kebijakan daerah operasi militer (DOM) di kawasan Aceh dan Papua.
Keindahan Maaf
Dari Kompas, Sabtu, 1 Maret 2008 | 00:27 WIB
Jaya Suprana
Pertengahan Februari 2008 pada sidang pleno parlemen, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd resmi menyampaikan pidato permohonan maaf atas perlakuan buruk terhadap kaum Aborigin pada masa lalu.
Khusus bagi anak-anak Aborigin yang ”dicuri”, dipaksa berpisah dari keluarga mereka yang kemudian disebut The Stolen Generations (Generasi-generasi Tercuri ), Kevin Rudd yang belum lama terpilih sebagai PM Australia menggantikan John Howard menyatakan, ”To the mothers and fathers, to the brothers and sisters we say sorry. And for the indignity and degradation on a proud people and proud culture we say sorry.” (Kepada para ibu dan ayah, para saudara Anda semua, kami memohon maaf. Dan atas pelecehan dan pelanggaran hak asasi masyarakat sebuah kebudayaan terhormat, kami memohon maaf)
