Mei, 2008


Berteman yang Baik

Seorang penderita HIV & AIDS yang selalu mendapat perlakuan negative dari masyarakat yang tidak paham akan apa itu HIV& AIDS.

Suara perempuan korban tragedi 1965

Komisi Nasional Perempuan, hari Rabu (20/2) sore bertemu Presiden SBY, di Kantor Presiden. Mereka masing-masing adalah Kamala Chandrakirana (Ketua Komnas Perempuan), Ninik Rahayu (Wakil Ketua), Sylvana M. Apituley (Wakil Ketua), Arimbi Heroepoetri, Azriana, Neng Dara Affiah, Sri Wiyanti Eddyono dan Vien Soeseno masing-masing sebagai komisioner.

Yang Muda Yang Dipercaya

liaa

Yang Muda Yang Dipercaya

Rasa haru dan bangga, melihat para remaja berkumpul bicara tentang kekerasan. Remaja, satu kategori baru yang dibuat oleh disiplin psikologi untuk menandai usia manusia yang “tidak lagi anak-anak” namun juga “belum dewasa”. Oleh dunia industri, mereka sering ditempatkan sebagai “segmen” alias pasar, baik industri perbukuan, sinetron, mode, dll. Mereka adalah sasaran empuk. Menghadiri acara “Anak Muda dan Persepsi tentang Kekerasan” yang diadakan oleh Syarikat dan Kampung Halaman, 24 Mei 2008 di Jogja Student Center, bukanlah melihat remaja sebagai obyek. Mereka adalah subyek. Mereka membuat film berjudul “Bi You Yi Sheng (Masih Ada Jalan untuk Hidup)”, memutar, dan mendisukusikannya. Film ini dibuat oleh 3 orang pelajar SMA di Bandung. Lia, salah satu pembuat film itu hadir sebagai pembicara. Film dokumenter yang menceritakan kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Bandung itu didekati secara khas ala anak muda, bernuansa penuh curiosity tanpa menggurui.

Stop Aids Now

 

Gender Development Project
Stop Aids Now Jawa

Ngobrol dan Nonton Film Bi You Yi Sheng

DEngar
DENGAR! MEI 2008

KDRT
(Kekerasan Dalam Remaja Terkini)
Pemutaran film dokumenter  dan ngobrol bareng  bersama pembuat film

“Wah, gimana ya caranya kita dapat mengungkap sejarah? Sepertinya sulit banget deh. Tapi walaupun sulit, kita harus tetap berusaha. Penasaran, ada apa sih di balik ini?” Lia Listiana, pembuat film Bi You Yi Seng.
“Ya susah lah kalo ngomong begitu mah... Yang begitu gak boleh diceritakan sama anak-anak, gak boleh.” Seorang bapak yang diwawancari oleh pembuat film Bi You Yi Seng tentang kekerasan yang pernah ia alami di tahun 1973.
“Ternyata, kayaknya bapak itu takut banget ya. Mudah-mudahan walaupun cuma dengar suaranya saja bisa menceritakan, menjadi bukti apa yang telah ia alami. Ternyata trauma itu sangat dalam ya.” Lia Listiana, pembuat film Bi You Yi Seng.

(Tulisan ini diambil dari audio film Bi You Yi Seng yang dibuat oleh Lia, Ridwan dan Wilda, pelajar SMA di Bandung dalam program workshop film dokumenter “Putih Abu-Abu” yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Syarikat Indonesia dan Komnas Perempuan)

Workshop Penulisan Hasil Penelitian

Workhop finishing Penulisan hasil penelitian Syarikat Indonesia diikuti oleh rekan-rekan dari Bandung, Cianjur, Subang, Purwokerto, Boyolali, Batang, dan Jepara. Dr. Budiawan rela berlelah-lelah memberikan kritikan selama 2 hari pada Sabtu - Minggu 10 - 11 Mei 2008. di Joglo Syarikat Mlati Sleman.

Diharapkan hasil dari penulisan tentang fakta-fakta sejarah ini memiliki kekuatan untuk menambah wacana tetang aspek-aspek tragedi 1965, baik dari sisi survivor maupun nilai juang kehidupan untuk generasi muda, agar dapat melihat konflik bukan dari perspektif menang dan kalah namun akibat dari konflik yang berkepanjangan terlepas konflik tersebut direkayasa maupun tidak.

Kebangkitan nasional yang selama ini menjadi acuan berbangsa seharusnya dapat menjadi titik obyektif bangsa dimana bisa melihat sejarah dengan lebih aktual, misalnya dengan organisasi apakah yang pertama kali menggunakan nama Indonesia, karena memang pada jaman dahulu yang bergerak adalah kepentingan-kepentingan kedaerahan.

Catatan Pinggir, Februari 2008

Langkah-Langkah Memulai Usaha Sendiri
Sari A. Rosa

Langkah awal yang mesti anda lakukan sebelum memulai usaha baru adalah mengumpulkan banyak ide-ide bisnis, entah dari pengalaman sehari-hari, kli[ping majalah dan koran ataupun dari iklan-iklan. Setelah menetapkan ide bisnis yang rinci yang akan Anda jalankan,

WAWANCARA, Prawiro Teguh (ketua ranting Gerwani) Korban perempuan tragedi 65/66 ”Yang Penting Kebutuhan Hidup Terpenuhi....”

Prawiro Teguh (ketua ranting Gerwani)
Korban perempuan tragedi 65/66

”Yang Penting Kebutuhan Hidup Terpenuhi....”

Inilah sepenggal harapan mbah Teguh, demikian Beliau biasa dipanggil, saat komparasi bertandang kerumahnya beberapa waktu yang lalu di daerah Kotagedhe untuk silahturahmi dan berbagi pengalaman hidupnya. Di tengah himpitan ekonomi dan statusnya sebagai ekstapol-yang kita ketahui bersama demikian lekat dengan diskriminasi-Beliau tetap aktif berproduksi kue, satu-satunya pekerjaan yang masih ditekuninya sampai sekarang. Bahkan ketika usia Beliau yang telah lanjut, semangat itu tak jua luntur ditelan jaman. Berbeda dengan banyak tapol yang lain, mbah Teguh tidak menerima pengucilan yang berarti dari masyarakat tempat tinggalnya begitu dinyatakan bebas dari penjara. Beliau dengan mudah berbaur dan terintegrasi secara mendalam dalam masyarakat. Bahkan Beliau menjadi pelopor sebuah kelompok usaha bersama kue kembang waru.

OPINI, Kain Jarik Melati Putih: Metode Pengembangan Ekonomi Ibu Korban di Kulon Progo

Kain Jarik Melati Putih:
Metode Pengembangan Ekonomi Ibu Korban di Kulon Progo

Eka Septi Wulandari

Septi WulandariAda yang mengatakan orang Cina pintar berdagang, kalau mereka menjual bubur lama-lama bisa meningkat punya restoran, tapi kalau orang Jawa berdagang bubur lama-lama bisa bangkrut. Orang China lebih disiplin mengelola bisnisnya, mereka berusaha untuk meningkatkan aset usahanya, sedangkan orang Jawa sering “pekewuh”, jika pembelinya masih saudara atau teman baik, mereka justru memberikan harga lebih murah, atau  dagangan secara Cuma-Cuma. Itu sebabnya seringkali pengusaha Jawa bangkrut sebelum berkembang.

REPORTASE KEBIJAKAN, Kebijakan Diskriminatif & Hak Ekosob “ Potret 47 Tahun Kebijakan Diskriminatif ”

Kebijakan Diskriminatif & Hak Ekosob
“ Potret 47 Tahun Kebijakan Diskriminatif ”

Huru-hara politik Oktober 1965 ternyata tidak saja menjadi tonggak bagi berubahnya wajah kekuasaan politik di Indonesia, melainkan lebih dari itu juga telah menjadi lonceng kematian bagi cita-cita kehidupan sosial, politik, dan juga ekonomi setiap individu dari ratusan ribu atau bahkan jutaan rakyat Indonesia. Rezim Orde Baru yang marak menggantikan rezim lama Soekarno pasca peristiwa 1965 itu justru memanfaatkan instrumen-instrumen pemerintahan Republik untuk membangun dan melanggengkan kekuasaannya. Negara, yang sejatinya bertujuan untuk melindungi segenap tumpah darah rakyat dan bangsa Indonesia tanpa kecuali, di tangan rezim pemenang dan berkuasa justru menjadi alat paling efektif dalam melegitimasi pemasungan dan pengkebirian terhadap hak sebagian warga negara yang dianggap sebagai musuh negara.