Depan /
June, 2008
REKONSILIASI, Mantan TAPOL & Masyarakat Main Kethoprak Bersama
REKONSILIASI
Mantan Tapol & Masyarakat
Main Ketoprak Bersama
PENTAS ketoprak rakyat lakon “Karta Pokil” yang akan digelar Syarikat Indonesia bekerjasama dengan para mantan tapol ’65 dan masyarakat Kulonprogo tak hanya bertutur tentang bahaya AIDS tapi juga tentang stigmatisasi perempuan yang pernah dituduh makar dalam sebuah negara.
TEROPONG, Bisakah Kita Memilih Dari Rahim Siapa Dilahirkan?
TEROPONG:
Bisakah Kita Memilih
Dari Rahim Siapa Dilahirkan?
KETIKA seseorang mendapatkan pendamping yang secara fisik lebih baik dari dirinya, orang akan bergarau dengan mengatakan: untuk memperbaiki keturunan. Dalam falsafah Jawa, keturunan tidak hanya dilihat secara fisik, tetapi juga asal-usul atau silsilah keluarga. Inilah yang disebut bibit.
Berkaitan dengan bibit, para eks Tapol dan anak-anaknya sering dianggap mempunyai silsilah yang ”cacat”, dan itu acapkali menjadi penghambat bagi mereka untuk menikah. Contohnya, Tri Endang Batari, anak eks Tapol dari Pengasih, Kulon Progo, Yogyakarta.
WAWANCARA, Diskriminasi Anak TAPOL Di Era Demokrasi
WAWANCARA:
Diskriminasi Anak Tapol
di Era Demokratisasi
Pengantar Redaksi:
PERKAWINAN adalah perjalanan hidup yang harus dilalui. Tetapi sering juga dijumpai banyaknya kendala untukmenuju ke sana. Dalam tradisi jawa menentukan pasangan calon selalu mempertimbangkan bibit, bebet dan bobot.Hal itulah yang sering membenturkan kita dalam impian untuk berumah tangga, terlebih lebih kalau sudahdihadapkan pada black list dari daftar keluarga. Untuk itu Ruas mewawancarai ibu Maspiah (43 th), pengurusPaguyuban Petani Perempuan Manyaran - BanyakanKediri yang juga pernah jadi pengurus PMII tentangpersoalan itu. Berikut ini cuplikannya:
OPINI, Poligami Dan Potensi Kekerasan Terhadap Kaum Perempuan
OPINI
Poligami dan Potensi Kekerasan
Terhadap Kaum Perempuan
Oleh : Ahmad Nawawi ‘Aqiel
NAMANYA sederhana, Sujana. Pria berusia 36 tahun yang sehari-hari punya profesi sebagai pedagang tanaman hias ini tidak setenar Aa Gym, profesinya pun tidak berhubungan langsung dengan sesuatu yang berkaitan dengan dakwah. Tetapi dalam hal jumlah istri, Mang Jana begitu panggilan akrabnya, tidak kalah dengan Aa Gym. Mang Jana memiliki dua orang istri. Istri terakhirnya ia nikahi tiga bulan yang lalu.
LAPORAN UTAMA, Perkawinan: Menurut Agama dan Pandangan Umum
LAPORAN UTAMA
Perkawinan :
Menurut Agama & Pandangan Umum
“Bojo siji ditresnani sampek mati.
Ora ganti-ganti kaki-nini.
Mesthi diayomi sing Maha Suci”
KALIMAT bahasa Jawa yang berarti - istri atau suami satu disayang sampai mati, tidak ganti hingga jadi kakek-nenek pasti dilindungi oleh Yang Maha Suci – di atas hanyalah sekedar sastra. Tapi para pengikut Budha menjadikannya sebagai pedoman untuk menjalani pernikahan.
Hak Ekosob di Indonesia

Pelaksaanaan Kovenan Internasional
Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Indonesia
Pada 30 September 2005 DPR dan Pemerintah sepakat meratifikasi piagam penting hak asasi manusia (Bill of Rights) yaitu International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights dan International Covenant on Civil and Political Rights. Proses ratifikasi tersebut dilakukan pada 28 Oktober 2005, dimana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan UU No. 11 tahun 2005 tentang pengesahan Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik dan No. 12 tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Ratifikasi terhadap the bill of human rights ini tentu saja membawa harapan baru bagi kondisi yang lebih kondusif bagi pemajuan penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia di negeri ini.
Ruas, Juni 2008
EDITORIAL
Merevitalisasi Nilai-nilai Lama
PERKAWINAN, sebagaimana perceraian dan poligami adalah sesuatu yang selalu menarik dibicarakan. Berbagai tayangan di televisi bisa jadi buktinya. Kawin cerai seolah telah menjadi biasa dengan berbagai alasan seperti ketidak-cocokan, perselingkuhan, ekonomi dan beragam soal lainnya.
Kethoprak untuk Kampanye HIV dan Aids
KETOPRAK RAKYAT
“Karto Pokil”

Tulisan: Bondan Nusantara
Pelaku: Pak Gendra, Mbok Gendra, Jaya Kepruk
Risang, Yu Kerti, Karta Pokil, Resmi
BABAK : I PEKARANGAN OMAHE PAK GENDRA
SETTING : Omahe wong desa (ora sugih)
WAYAH : Bubar Ngasar
SWASANA : Gembira
IRINGAN : Tembang Lumbung Desa ditabuhi Kothekan.
LAKU : Nalika tembang meh entuk sak lagon, Pak Gendra teka saka njaban omah karo nggawa besek merga mentas wae kendhuren. Polatane sajak gembira trus lungguh amben, mbukak besek.
Seeing the Indonesia’s past from my village
By Budiawan
Mdm. Francois Mitterand’s visit
I had never dreamed before that the river near the village where I grew up was visited by the former first lady of France, Mdm. Francois Mitterand. It was February 2, 1999, eight months after Suharto stepped down following the mass student demonstrations and racialized pogroms in a number of big cities in Indonesia, Mdm. Mitterand and a number of French and Indonesian human rights advocates visited the river. Another group of visitors coming with them were tens of former political prisoners who had been accused of being involved in the September 30, 1965 events, i.e., the kidnapping and killing of six top army officers and a lieutenant. (Since the Indonesian Communist Party [or the PKI] was accused of having masterminded the killing, anybody having been associated with the Party was either killed or imprisoned without trials for years).
Puisi "SAMPAH" dan "DIRINYA".
SAMPAH

Sampah...
Sampah...
Dan sampah...
Kalian yang terbuang... tetaplah terbuang
Kami...
Tidak akan pernah mau
Kami tidak akan pernah mau ada kalian
Kalian
Tidak akan pernah pantas kalian ada di sekeliling kami
Tidak akan pernah ada ruang buat kalian
Bukankah kutukan itu
Kutukan itu... datang hanya untuk kalian
Bukan untuk kami...
Maka
Nikmatilah... nikmatilah
Rasakanlah
Semua hasil jerih payahmu
Semua hasil perilakumu
Hanya sesal dan kehancuran yang akan menghampirimu
Pergilah kalian
Lenyaplah kalian
Jangan pernah ada disini
Di Dunia kami...
