November 2008
Between History writing and Political of Memory Analysis
By Budiawan

Every effort to reveal the mystery of history is almost always invites controversy. For, the mystery of history is itself ambivalent attitude to leave. On one side there is a tendency to want to know the changing, but on the other hand, there is doubt want to know whether the desire can take pride in it.
Self-doubt that comes from a condition that an event or episode of history or covered called mystery because the impressions-historical impression that abandoned - any shape - is not sufficient as a material reconstruction of the past. That is why people tend to accept the historical narratives that have become a kind of "general agreement", but still not able to kill, if not maintain, enticing you want to know that. It is not surprising, the emergence of the efforts to reveal the mystery of history with menyodorkan "new facts" almost always invite the public enthusiasm. However, this does not by itself create "new facts" was accepted as a "new truth". Here is the location of the controversy.
Refresh Nasionalisme, Pluralisme, dan Sejarah Indonesia

Kita, Sejarah dan Kebhinekaan:
Merumuskan Kembali Keindonesiaan*
Oleh: I Gusti Agung Ayu Ratih**
Di sini kami berdiri di ambang subuh jaman baru, jaman yang akan membawakan terang ke seluruh Jawa. Dan sekali jaman itu terbit, akan lebih banyak dituntut perjuangan, penderitaan, berperang dan memenangkannya; mula-mula sekali adalah melawan Sang Baginda Prasangka, kemudian Sri Ratu Kepicikan dan Kekerdilan, putri-putri, yang dipuja dan dituruti oleh sebagian terbesar penduduk Jawa. … Ada kami lihat Adipati-Adipati Sri Baginda Kepicikan, Kekerdilan, dan Prasangka menggigil sakit hati karena terhina undang-undangnya yang keramat itu tersentuh.
------- Kartini, Een Gouverneur-Generaalsdag
Penopang Kekuasaan Soeharto di Indonesia
Pilar Simbolik Penopang Kekuasaan Soeharto
Oleh: Purnawan Basundoro
Di negara-negara penganut demokrasi modern penopang utama kekuasaan adalah rakyat. Rakyat melegitimasi kekuasaan melalui pemilihan umum. Indonesia kurang mengalami penglaman dalam hal ini. Hampir semua presiden di Indonesia memiliki legitimasi yang amat rendah dari rakyat, hanya presiden terakhir saja yang dipilih langsung oleh rakyat sehingga cukup legitimat. Hal ini menandakan bahwa masa lalu Indonesia belum menjadi negara yang demokratis. Sukarno naik menjadi presiden karena posisinya yang amat menonjol selama periode pergerakan sampai pendudukan Jepang. Posisinya hampir tidak tergoyahkan, dan upaya untuk meruntuhkannya hanya bisa dilakukan dengan sebuah konspirasi yang cukup canggih antara elemen-lemen penentang di dalan negeri dengan elemen-elemen di luar negeri. Hasilnya adalah pertumpahan darah di hampir semua wilayah Indonesia yang mengantarkan Jenderal Suharto menjadi presiden. Dengan demikian legitimasi terkuat naiknya Jenderal Suharto menjadi presiden adalah ceceran darah anak negeri yang melahirkan dalih bahwa untuk menghentikan ceceran darah tersebut maka ia harus mengambilalih kekuasaan. Lalu mengapa ia bisa bertahan sampai 32 tahun berkuasa? Apakah ia selalu mereproduksi legitimasi ceceran darah tersebut untuk melanggengkan kekuasaannya? Ataukah ia disangga oleh pilar-pilar yang demikian kokoh? Apa saja pilar-pilar penyangga kekuasaannya tersebut?
