Caleg Nahdliyin
Pelatihan Caleg Nahdliyin
oleh PCNU dan Lakpesdam Blitar
Menjelang pemilu 2009 ini Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ Kabupaten Blitar menggelar pelatihan caleg bagi warga Nahdliyin. Acara yang digelar di Aula kantor PC NU kab. Blitar pada hari Ahad 25 Januari kemarin menunjuk Lakpesdam sebagi pelaksana Pelatihan. Acara ini diadakan dalam rangka membekali kader-kader NU yang macung anggota legislatif. Adapun bekal yang diberikan berupa peningkatan kapasitas Caleg. Materi-materi yang diberikan diantaranya konsep politik Islam (Fiqih Siyasah) yang disampaikan Ky. Farhan ma’ruf selaku katib syuriyah NU kab. Blitar, TUPOKSI legislatif, legislatif drafting dan anggaran yang disampaikan oleh Aminudin Fahruda dari SOMASI yang juga anggota Litbang NU kab. Blitar kemudian materi Menejemn Opini Publik yang disampaikan Arif Afandi mantan pemimpin redaksi Jawa Pos yang sekarang menjabat wakil walikota surabaya. Serta tausyiyah yang disampaikan oleh KH Nurhidayatulloh Dawami selaku ketua Tanfidiyah NU kab. Blitar.
Manajemen konflik berbasis warga
MANAJEMEN KONFLIK BERBASIS WARGA[1]
Robert B. Baowollo[2]
Pengantar
Saya dengan sengaja memilih judul makalah berbeda dengan tema yang diberikan panitia (’Model-Model Resolusi Konflik Berbasis Karakter Lokalitas’) karena dua alasan: pertama, pembahasan dan diskusi tidak perlu terjebak pada pekerjaan melakukan kompilasi atas model-model resolusi konflik – suatu pekerjaan yang jelas tidak mungkin selesai dalam satu sesi diskusi; kedua, saya menghindari penggunaan frasa ’lokalitas’ atau ’karakter lokalitas’ karena ingin memberi tempat pada aktor lokal ketimbang karakteristik lokal dan deskripsi atau spesifikasi kondisi locus konflik. Saya memilih memakai frasa ’berbasis warga’ (community based) mengandaikan bahwa adalah komunitas yang terlibat dalam konflik itulah yang harus diberdayakan untuk menjadi aktor pertama dan utama dalam mengelola konflik, baik itu konflik intrakelompok maupn konflik antarkelompok.
Merajut Akar-Akar Kebangsaan Indonesia
Merajut Akar-Akar Kebangsaan
Oleh: Abdurrahman Wahid*
Judul diatas memberikan pengertian kepada kita bahwa kebangsaan kita bukanlah sesuatu yang bersifat bulat dan tetap. Kita lihat umpamanya, bahwa pada abad ke-6 masehi kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan telah di datangi oleh Fahien, yang menyebarkan agama Budha di daerah Sriwijaya. Ketika kemudian Sriwijaya mengirimkan orang-orang Budha ke pulau Jawa pada abad ke-8 maka mereka mendarat di pelabuhan Pekalongan dan meneruskan perjalanan ke Selatan melalui Keras, Kajen dan sebagainya. Mereka mendaki gunung Dieng, dan mendapati kerajaan Kalingga yang beragama Hindu. Kerajaan Kalingga itu dibiarkan saja mengikuti agama Hindu, dikawasan yang sekarang bernama kabupaten Wonosobo. Orang-orang Budha itu melanjutkan perjalanan melalui Kabupaten Magelang, dan mendirikan Candi Borobudur yang beragama Budha. Sebagian dari orang-orang Sriwijaya itu melanjutkan perjalanan ke daerah Yogyakarta. Di sana mereka mendirikan kerajaan Kalingga, tapi beragama Budha.

