Februari 2009

Download Formulir Pengaduan atas Laporan Pelanggaran Kampanye Pemilu 2009 ke Panwaslu

Sen, 23/02/2009 - 00:51 - antok |

Mendukung perdamaian dan anti kekerasan adalah nafas yang selalu digunakan dalam berbagai bidang. Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 ini harus melibatkan berbagai pihak dengan satu nafas yaitu anti kekerasan dan perdamaian. Intrik-intrik politik yang terjadi tentusaja bukan buatan orang bodoh atau warganegara biasa yang dalam mencari sesuap nasipun masih kelabakan, dan entah esok hari mau makan apa. Tidak beda jauh dengan adanya krisis global maupun surplusnya APBN, tetep saja pendapatan harus diperjuangkan rupiah demi rupiah dari waktu ke waktu seakan tidak ada perubahan yang berarti.

SisipanUkuran
FORMULIR PENGADUAN.doc265.5 KB

Reformasi Agraria Indonesia

Min, 22/02/2009 - 15:39 - antok |

Reforma Agraria
(Potret Pasang Surut Sejarah kebangsaan Indonesia)
Tri Chandra Aprianto

Sifat yang bermuka-dua dari banyak gerakan revolusioner dan kontra-revolusioner kadang-kadang mempersulit pemberian sebutan yang tepat pada gerakan seperti itu. Karena bunyi istilah revolusi pada banyak kalangan tidak seburuk kontra-revolusi maka hanya sedikit gerakan yang secara terang-terangan menyebut dirinya kontra-revolusi. (Wertheim, tt:233)

SisipanUkuran
pasang surut sejarah RA di Indonesia-chandra-.pdf123.04 KB

Ponari Putra petir, Kampanye damai pemilu dan Narsistik

Kam, 19/02/2009 - 16:04 - antok |

Kampanye air damai pemilu Indonesia 2009 Kampanye air damai pemilu Indonesia 2009 Kampanye air damai pemilu Indonesia 2009 Kampanye air damai pemilu Indonesia 2009 Kampanye air damai pemilu Indonesia 2009

Ponari Putra Petir dan Kampanye damai Pemilu yang narsistik

Seorang bocah dari Jombang berusia sepuluh tahun itu tiba-tiba menjadi seorang tabib yang mumpuni. Kata seseorang ahli bahwa kemampuan potensi diri Ponari muncul dengan sendirinya karena triger petir yang sekaligus memberi kekuatan energi pada sebuah batu yang diyakini bertuah. Namun dia mengatakan pula bahwa power itu katanya tidak baik dan sangat kuat. Hanya dengan dicelupkan ke air dengan niat nama atau foto atau KTP atau apapun kemudian diminumkan ke pasien maka diharapkan akan segera sembuh.

Pemilu Indonesia tahun 1999

Sel, 17/02/2009 - 06:27 - antok |

Setelah Presiden Soeharto dilengserkan dari kekuasaannya pada tanggal 21 Mei 1998 jabatan presiden digantikan oleh Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Atas desakan publik, Pemilu yang baru atau dipercepat segera dilaksanakan, sehingga hasil-hasil Pemilu 1997 segera diganti. Kemudian ternyata bahwa Pemilu dilaksanakan pada 7 Juni 1999, atau 13 bulan masa kekuasaan Habibie. Pada saat itu untuk sebagian alasan diadakannya Pemilu adalah untuk memperoleh pengakuan atau kepercayaan dari publik, termasuk dunia internasional, karena pemerintahan dan lembaga-lembaga lain yang merupakan produk Pemilu 1997 sudah dianggap tidak dipercaya. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan penyelenggaraan Sidang Umum MPR untuk memilih presiden dan wakil presiden yang baru.

Ini berarti bahwa dengan pemilu dipercepat, yang terjadi bukan hanya bakal digantinya keanggotaan DPR dan MPR sebelum selesai masa kerjanya, tetapi Presiden Habibie sendiri memangkas masa jabatannya yang seharusnya berlangsung sampai tahun 2003, suatu kebijakan dari seorang presiden yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebelum menyelenggarakan Pemilu yang dipercepat itu, pemerintah mengajukan RUU tentang Partai Politik, RUU tentang Pemilu dan RUU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Ketiga draft UU ini disiapkan oleh sebuah tim Depdagri, yang disebut Tim 7, yang diketuai oleh Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid (Rektor IIP Depdagri, Jakarta).

Pemilu Indonesia masa Orde Baru

Sel, 17/02/2009 - 06:18 - antok |

Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.

Setelah 1971, pelaksanaan Pemilu yang periodik dan teratur mulai terlaksana. Pemilu ketiga diselenggarakan 6 tahun lebih setelah Pemilu 1971, yakni tahun 1977, setelah itu selalu terjadwal sekali dalam 5 tahun. Dari segi jadwal sejak itulah pemilu teratur dilaksanakan.

Satu hal yang nyata perbedaannya dengan Pemilu-pemilu sebelumnya adalah bahwa sejak Pemilu 1977 pesertanya jauh lebih sedikit, dua parpol dan satu Golkar. Ini terjadi setelah sebelumnya pemerintah bersama-sama dengan DPR berusaha menyederhanakan jumlah partai dengan membuat UU No. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar. Kedua partai itu adalah Partai Persatuan Pembangunan atau PPP dan Partai Demokrasi Indonesia atau PDI) dan satu Golongan Karya atau Golkar. Jadi dalam 5 kali Pemilu, yaitu Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997 pesertanya hanya tiga tadi.

Hasilnya pun sama, Golkar selalu menjadi pemenang, sedangkan PPP dan PDI menjadi pelengkap atau sekedar ornamen. Golkar bahkan sudah menjadi pemenang sejak Pemilu 1971. Keadaan ini secara lang-sung dan tidak langsung membuat kekuasaan eksekutif dan legislatif berada di bawah kontrol Golkar. Pendukung utama Golkar adalah birokrasi sipil dan militer. Berikut ini dipaparkan hasil dari 5 kali Pemilu tersebut secara berturut-turut.

Pemilu Indonesia Kedua pada tahun 1971

Sel, 17/02/2009 - 06:11 - antok |

Ketika Jenderal Soeharto diangkat oleh MPRS menjadi pejabat Presiden menggantikan Bung Karno dalam Sidang Istimewa MPRS 1967, ia juga tidak secepatnya menyelenggarakan pemilu untuk mencari legitimasi kekuasaan transisi. Malah Ketetapan MPRS XI Tahun 1966 yang mengamanatkan agar Pemilu bisa diselenggarakan dalam tahun 1968, kemudian diubah lagi pada SI MPR 1967, oleh Jenderal Soeharto diubah lagi dengan menetapkan bahwa Pemilu akan diselenggarakan dalam tahun 1971.

Sebagai pejabat presiden Pak Harto tetap menggunakan MPRS dan DPR-GR bentukan Bung Karno, hanya saja ia melakukan pembersihan lembaga tertinggi dan tinggi negara tersebut dari sejumlah anggota yang dianggap berbau Orde Lama.

Pada prakteknya Pemilu kedua baru bisa diselenggarakan tanggal 5 Juli 1971, yang berarti setelah 4 tahun pak Harto berada di kursi kepresidenan. Pada waktu itu ketentuan tentang kepartaian (tanpa UU) kurang lebih sama dengan yang diterapkan Presiden Soekarno.

UU yang diadakan adalah UU tentang pemilu dan susunan dan kedudukan MPR, DPR, dan DPRD. Menjelang pemilu 1971, pemerintah bersama DPR GR menyelesaikan UU No. 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan UU No. 16 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Penyelesaian UU itu sendiri memakan waktu hampir tiga tahun.

Pemilu Indonesia pertama yang Damai di tahun 1955

Sel, 17/02/2009 - 06:06 - antok |

Pemilu 1955 yang damai

Ini merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10 tahun. Kalau dikatakan pemilu merupakan syarat minimal bagi adanya demokrasi, apakah berarti selama 10 tahun itu Indonesia benar-benar tidak demokratis? Tidak mudah juga menjawab pertanyaan tersebut.

Yang jelas, sebetulnya sekitar tiga bulan setelah kemerdekaan diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, pemerintah waktu itu sudah menyatakan keinginannya untuk bisa menyelenggarakan pemilu pada awal tahun 1946. Hal itu dicantumkan dalam Maklumat X, atau Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta tanggal 3 Nopember 1945, yang berisi anjuran tentang pembentukan par-tai-partai politik. Maklumat tersebut menyebutkan, pemilu untuk me-milih anggota DPR dan MPR akan diselenggarakan bulan Januari 1946. Kalau kemudian ternyata pemilu pertama tersebut baru terselenggara hampir sepuluh tahun setelah kemudian tentu bukan tanpa sebab.

Tetapi, berbeda dengan tujuan yang dimaksudkan oleh Maklumat X, pemilu 1955 dilakukan dua kali. Yang pertama, pada 29 September 1955 untuk memlih anggota-anggota DPR. Yang kedua, 15 Desember 1955 untuk memilih anggota-anggota Dewan Konstituante. Dalam Maklumat X hanya disebutkan bahwa pemilu yang akan diadakan Januari 1946 adalah untuk memilih angota DPR dan MPR, tidak ada Konstituante.

Kampanye Damai, Golput Jawa Tengah

Sab, 14/02/2009 - 21:23 - antok |

Peta Golput di Jateng

Oleh Agust Riewanto

TIDAK lama lagi, pemilu legislatif akan berlangsung pada 9 April 2009. Salah satu persoalan yang kini dicemaskan banyak kalangan dalam hajatan lima tahunan itu adalah kemungkinan rendahnya angka partisipasi publik dalam pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Jateng.

Kecemasan terhadap tingginya angka golput di Jateng dalam pemilu mendatang amat beralasan, mengingat sepanjang etape pemilu secara langsung digelar di negeri ini —mulai dari Pilpres 2004 dan Pilkada 2005-2008— angka golput cukup tinggi. Bahkan di sejumlah daerah, perolehan suara golput mengalahkan perolehan suara calon terpilih.

Kampanye Damai, MUI dan Golput

Sab, 14/02/2009 - 19:01 - antok |

Kampanye damai pemilu indonesia 2009 Kampanye damai pemilu indonesia 2009 Kampanye damai pemilu indonesia 2009 Kampanye damai pemilu indonesia 2009 Kampanye damai pemilu indonesia 2009 Kampanye damai pemilu indonesia 2009 Kampanye damai pemilu indonesia 2009 Kampanye damai pemilu indonesia 2009 Kampanye damai pemilu indonesia 2009 Kampanye damai pemilu indonesia 2009 Kampanye damai pemilu indonesia 2009 Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menolak fatwa MUI tentang golput dalam pemilu 2009. Komnas HAM menilai adalah hak bagi setiap warga Negara untuk menggunakan atau tidak hak pilihnya dalam pemilu.

Demikian dikatakan Ketua Komnas HAM, Ifdhal Kasim dalam jumpa pers di Kantor Komnas HAM Jalan Latuharhary Menteng Jakarta Pusat, Senin 2 Pebruari 2009.

Kampanye damai pemilu indonesia 2009 harus menghormati Hak memberikan suara atau memilih merupakan hak dasar setiap individu warga negara yang harus dijamin pemenuhannya oleh negara. Hak memberikan suara atau memilih tersebut memberikan hak bagi pemilih untuk menggunakan atau tidak menggunakan hak pilihnya, tegas Ifdhal.

Kampanye Damai Pemilu Indonesia

Sab, 14/02/2009 - 17:16 - antok |

Tidak ada yang tidak setuju dengan berlangsungnya pesta demokrasi yang damai dan kondusif di Indonesia pada Pemilu Legislatif tahun 2009 ini. Berbagai elemen bangsa tentu mendukung Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009. Sangatlah naif dan jahat apabila tidak setuju dengan Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009.