Antara Menulis Sejarah dan Mengkaji Politik Ingatan
Oleh Budiawan
Setiap upaya mengungkap misteri sejarah hampir selalu mengundang kontroversi. Sebab, misteri sejarah itu sendiri meninggalkan sikap ambivalen. Di satu sisi ada hasrat yang menggebu untuk ingin tahu; tetapi di sisi lain ada keraguan apakah hasrat ingin tahu itu bisa terpuaskan.
Keraguan itu sendiri bersumber dari kondisi bahwa suatu peristiwa atau episode atau tokoh sejarah disebut diselimuti misteri karena jejak-jejak historis yang ditinggalkannya – apapun bentuknya – sangat tidak mencukupi sebagai bahan rekonstruksi masa lalu. Itulah sebabnya orang cenderung menerima narasi sejarah yang telah menjadi semacam “kesepakatan umum”, namun tetap tak mampu membunuh, jika bukan memelihara, hasrat ingin tahu itu. Tidaklah mengherankan, munculnya setiap upaya mengungkap misteri sejarah dengan menyodorkan “fakta-fakta baru” hampir selalu mengundang antusiasme publik. Tetapi, hal ini tidak dengan sendirinya membuat “fakta-fakta baru” itu diterima sebagai “kebenaran baru”. Di sinilah letak kontroversi itu.
Sebenarnya, kontroversi itu bisa diminimalisir, jika tidak bisa dihindari sama sekali, apabila sejarawan atau siapapun yang menyodorkan “fakta-fakta baru” itu tidak berpretensi mengungkap misteri sejarah itu secara keseluruhan. Dibutuhkan suatu kerendahan hati bahwa “fakta-fakta baru” itu hanya mengungkap sebagian misteri. Itupun harus dibarengi dengan kesediaan bahwa “fakta-fakta baru” itu siap diuji oleh siapapun. Agar “fakta-fakta baru” itu tahan uji, si sejarawan itu sendiri harus bersedia terlebih dahulu mengujinya sendiri setuntas mungkin. Di sini si sejarawan bukan hanya dituntut bekerja keras untuk mengumpulkan data di tengah kelangkaan sumber, tapi juga berpikir keras menguji data itu kalau perlu secara berulang-ulang sampai pada suatu titik jenuh.
Melihat prosedur normatif yang berliku semacam itu, maka sejarawan yang berpretensi mengungkap misteri sejarah, entah sebagian apalagi secara keseluruhan, sebenarnya termasuk “manusia ulet dan pemberani”. Ia ulet mengais data di tengah kelangkaan sumber. Ia berani menguji data yang terbatas itu sebelum mengangkatnya dan mengumumkannya sebagai “fakta-fakta baru”. Tetapi, yang paling pokok adalah bahwa ia berani bertarung melawan “keraguan publik”. Jika berhasil, karyanya akan dikenang sebagai “pembawa pencerahan”. Jika gagal, publik mungkin akan mencibirnya sebagai “pencari sensasi”.
***
Antara lain dengan bingkai pemikiran seperti itulah kontroversi hampir setiap buku atau tulisan yang berpretensi mengungkap misteri sejarah bisa dipahami dan sekaligus ditimbang kualitasnya. Salah satu contoh mutakhir buku yang baik oleh penulis maupun penerbitnya didaku sebagai karya sejarah yang tengah menjadi kontroversi adalah Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno, karya sejarawan yang sekaligus pastur Jesuit Dr Baskara T. Wardaya dan diterbitkan oleh Galangpress (2008). Buku ini menjadi kontroversi karena publik antusias menyambutnya tapi meragukan “fakta-fakta baru” yang disodorkannya.
Sebagaimana diketahui, sosok Supriyadi sebagai tokoh pemberontakan terhadap tentara pendudukan Jepang di Blitar, Jawa Timur, selama ini dianggap menyisakan banyak misteri. Akhir kisah perlawanannya dan episode-episode selanjutnya dianggap sebagai babakan sejarah yang gelap karena teramat minimnya jejak-jejak sejarah yang ditinggalkannya. Fakta bahwa pemerintah mengangkatnya sebagai Menteri Pertahanan ‘in absentia’ mengukuhkan keyakinan publik bahwa ia telah gugur dalam pemberontakan di Blitar yang singkat itu, kendati orang tidak tahu di mana jasadnya.
Anggapan itu telah menjadi semacam kesepakatan umum sedemikian rupa sehingga setiap upaya mengungkap misteri itu pun menuai kontroversi; dan kini untuk kesekian kalinya kontroversi itu terjadi. Namun, kontroversi itu tidak pernah berkelanjutan, karena hal itu hanya terkait dengan momen tertentu, yakni saat-saat menjelang peringatan proklamasi kemerdekaan RI. Begitu momen itu lewat, maka kontroversi itu pun lenyap.
Yang menarik dari kontroversi di seputar buku Mencari Supriyadi adalah penjelasan Andaryoko Wisnu Prabu selaku narasumber utama maupun penulis buku itu sendiri yang seakan-akan menunjukkan sikap rendah hati, tapi kalau dicermati sebenarnya adalah sikap setengah hati. Sebagaimana dituturkan Baskara T. Wardaya dalam artikelnya “Sejarah dan Narasi Masyarakat” (Kompas, 27/9):
“bagi dia [baca: Andaryoko] yang paling penting bukan melulu tentang dia sebagai Shodanco Supriyadi, tetapi tentang perlunya mempelajari kembali sejarah Indonesia. Ia pun tidak keberatan jika ternyata ada orang lain yang lebih mampu membuktikan diri sebagai Shodanco Supriyadi yang sebenarnya”.
Hal itu diperjelas lagi oleh penulisnya, yang mengatakan bahwa :
“soal apakah benar Andaryoko itu Shodanco Supriyadi atau bukan, hal itu bukan fokus dari buku itu. Fokusnya lebih pada pemberian ruang bagi salah seorang pelaku sejarah untuk menuturkan kembali pengalaman dan pendapatnya terkait sejarah Indonesia. …soal apakah benar Andaryoko adalah Shodanco Supriyadi atau bukan, buku itu menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca untuk menilai dan mengambil sikap”.
Tampak bahwa di balik sikap yang seakan-akan rendah hati itu terkandung sikap setengah hati. Ada semacam ketidak-percayaan diri dengan pendakuan itu, sekaligus ketidaksiapan untuk diuji dengan prosedur-prosedur konvensional normatif penelitian dan penulisan sejarah. Di situ ada ironi: buku itu didaku sebagai buku sejarah, tetapi tidak mau (karena tidak siap) diuji dengan metodologi ilmu sejarah, lalu berlindung di balik “kecerdasan dan kedewasaan pembaca”.
***
Ceritanya akan lain jika sejak awal Baskara tidak berpretensi menulis sejarah tokoh Supriyadi, tetapi mengkaji politik ingatan orang-orang – termasuk Andaryoko – yang pernah mendaku sebagai Shodanco Supriyadi. Tujuan kajian politik ingatan bukan menyodorkan “fakta-fakta sejarah”, tetapi mencari makna tuturan-tuturan ingatan itu. Dalam kajian politik ingatan, pertanyaan apakah Andaryoko itu benar-benar Shodanco Supriyadi atau bukan tidak penting, karena yang menjadi fokus perhatian adalah mengapa ia mendaku-diri sebagai Shodanco Supriyadi, apa makna pendakuan itu bagi diri dan orang-orang atau komunitas di sekitarnya, dalam konteks dan kaitannya dengan apa ia melakukan pendakuan itu. (Pertanyaan-pertanyaan serupa juga bisa diajukan kepada orang-orang yang sebelumnya pernah mendaku sebagai Supriyadi).
Hasil akhir kajian semacam itu bukan narasi sejarah Shodanco Supriyadi, tetapi mungkin semacam gambaran kondisi psiko-sosial sebagian warga masyarakat, atau satu generasi yang pernah dimuliakan tapi kini nyaris dilupakan. Yang dicari di sana adalah pengakuan atas keberadaan mereka sebagai bagian dari perjalanan sejarah bangsa.
Di kalangan sarjana Indonesia, kajian politik ingatan semacam itu sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya asing. Kajian Andi F. Bakti atas memori kolektif masyarakat Sulawesi Selatan tentang Kahar Muzzakar dalam Mary S. Zurbuchen [ed.] Beginning to Remember: The Past in the Indonesian Present (2005) layak disimak. Di situ Andi memaparkan bahwa meskipun narasi resmi nasional menyatakan Kahar Muzzakar telah mati, sebagian kelompok masyarakat di Sulsel pasca-Suharto meyakini bahwa tokoh itu masih hidup. Bukan tujuan Andi untuk membuktikan apakah keyakinan itu benar atau salah secara faktual, tetapi mempersoalkan mengapa mereka memiliki keyakinan semacam itu. Dikaitkan dengan berbagai isu yang berkembang luas dalam masyarakat Sulsel, maka Andi pun sampai pada diskusi tentang politik identitas, sentimen anti-Jawa, obsesi pada formalisasi syariat Islam, yang kesemuanya itu tidak ada hubungannya dengan Kahar Muzzakar sebagai fakta sejarah, tetapi Kahar Muzzakar sebagai ikon kedaerahan.
Kajian semacam itu memang kurang dilirik para sejarawan. Tetapi, jelas jauh lebih bermanfaat secara akademis dan buat khalayak luas daripada kajian sejarah setengah hati.
=============
Budiawan
dosen pengampu matakuliah “Kekerasan dan Politik Ingatan”
di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya,
Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta.
email: bdwn@lycos.com
HP: 081804285644


Komentar
Pingback
[...] Melihat prosedur normatif yang berliku semacam itu, maka sejarawan yang berpretensi mengungkap misteri sejarah, entah sebagian apalagi secara keseluruhan, sebenarnya termasuk “manusia ulet dan pemberani”. Ia ulet mengais data di tengah kelangkaan sumber. Ia berani menguji data yang terbatas itu sebelum mengangkatnya dan mengumumkannya sebagai “fakta-fakta baru”. Tetapi, yang paling pokok adalah bahwa ia berani bertarung melawan “keraguan publik”. Jika berhasil, karyanya akan dikenang sebagai “pembawa pencerahan”. Jika gagal, publik mungkin akan mencibirnya sebagai “pencari sensasi” (3). [...]