Catatan Bedah Buku Ketika Sejarah Berseragam


antok - Posted on 30 Agustus 2008

Empat Catatan Membaca Buku Ketika Sejarah Berseragam
Oleh: Yoshi Fajar Kresno Murti.

Pertama,

Kate McGregor dalam bukunya Ketika Sejarah Berseragam mengakui di bagian pendahuluannya, bahwa dengan momen lengsernya Suharto, bukunya itu menjadi suatu rekaman beku tentang cara militer merekam masa lalu selama niasa Orde Baru (ha1.32)

Narnun, bagi saya, hal yang menarik, pertama-tama bukan hanya pada bagaimana masa lalu dikonstruksikan namun pada kesadaran bagaimana gambaran mengenai masa lalu tersebut dipaksakan. Bukan hanya pada cara mengonstruksi masa lalu, tetapi pada bagaimana konstruksi mengenai masa lalu tersebut dipaksakan menjadi narasi (supaya) kolektif. Menjadi narasi yang (di)resmi(kan), demikian kata Kate (ha1.10). Buku Ketika Sejarah Berseragam setidaknya sangat menarik untuk memberi petunjuk: tentang bagaimana cara mengonstruksi masa lalu, sekaligus bagaimana cara tersebut juga menjadi sarana pemaksaan atau intimidasi konstruksi mengenai masa lalu Indonesia.

Pemahaman pada soal sarana (bukan sekedar cara) pemaksaan konstruksi masa lalu ini sangat penting bagi saya, setidaknya untuk membantu menjawab pertanyaan: Bagaimanakah cara saya membaca - tepatnya menggambarkan - buku Ketika Sejarah Berseragam? Ini pertanyaan penting bagi posisi pembacaan. Setidaknya, saya sebagai warga sebuah negara bangsa Indonesia sejak lahir. Saya, sebagai manusia yang dihasilkan dari mengenyam ajaran dan produk-produk keseragaman historiografi Indonesia melalui pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi, termasuk melalui produk-produk visualnya (film, museum, monumen, dil) yang disosialisasikan - tepatnya dipaksakan - secara terus-menerus.

Dengan memahami adanya sarana-sarana pemaksaan atau bentuk-bentuk intimidasi dalam mengonstruksi sejarah Indonesia, membaca buku Ketika Sejarah Berseragam tidaklah sepenuhnya menjadi beku. Pemahaman seperti ini tetap meletakkan militer (sebagai institusi maupun ideologi) sebagai bagian utama dari wacana dan tindak kekerasan, wacana dan tindak kriminalisasi, serta praktek manajemen ke(tidak)amanan dalam perjalanan bangsa dan negara Indonesia hingga sekarang.

Kedua,

Hal lain yang menarik saya dalam Ketika Sejarah Berseragam, yaitu: Segala macam teks dan sarana dalam membangun historiografi masa lalu Indonesia sesungguhnya cermin dari kerapuhan dan keterbelahan di dalam tubuh elit kekuasaan yang didominasi oleh militer dalam rezim Orde Baru. Konflik dan konsolidasi elit kekuasaan yang didominasi oleh militer dalam rezim Orde Baru sesungguhnya menyebar dan disebarkan keluar melalui berbagai bentuk saluran atau teks (film, museum, monumen, buku ajar sejarah, hari-hari peringatan dan latihan-latihan indoktrinasi).

Seperti: muka buruk cermin dibelah. Lemah syahwat, istri dan orang lain disalahkan.

Ketiga,

Dengan pemahaman adanya nalar paksaan atau ;ntimidasi (yang menelan banyak korban) dan cermin kerapuhan dalam tubuh militer sendiri di dalam produksi dan rzproduksi sejarah Indonesia, kita tidak cepat "menghakimi" berbagai macam teks, kejadian atau ekspresi yang terus terulang dalam keseharian masyarakat hingga hari ini. Apalagi men-cap-nya sebagai bentuk militerisasi. Misalnya: Bulan Agustus ini Museum Yogya Kembali tetap dikunjungi banyak pelajar, upacara penurunan bendera di kampung tetap dilaksanakan, juga lomba gerak jalan, pendirian pos ronda - gapura - patung-patung, dll.

Memang sih, Kate McGregor mengatakan, bahwa masyarakat Indonesia secara bersamaan dihadapkan pada berbagai sumber gambaran tentang masa lalu Indonesia, dan bahwa gambaran-gambaran ini berfungsi bersama-sama untuk membentuk kesadaran bersejarah bangsa Indonesia, sebagaimana dimaksudkan oleh "militer" (ha1.13). Namun, Kate juga memeringatkan via Vickers, bahwa semakin versi militer dijaga begitu ketat, akan membuat orang meragukan kebenarannya. Semakin akan membuat orang terpesona pada yang ‘alternatif’(Ha1.186). .

Produksi dan reproduksi pos ronda, gapura, patung-patung, dll, misalnya,... tetap dibangun orang hingga hari ini, sesungguhnya tidak hanya menunjuk bahwa gambaran mereka dibangun tidak sepenuhnya tergantung pada order dan nalar rezim militer, tetapi tergantung pada kebutuhan massa dan juga pasar.

Keempat,

Jika historiografi negara bangsa merupakan meta-narasi yang sentralistik dan tidak adil (karena mengandung logika “the other”), dan jika sejarah nasional merupakan sesuatu yang abstrak untuk dikerjakan tanpa mengandung kekerasan, bagaimana kita menulis sejarah hari ini?

Jika “everything is illumination”, dan jika siapa saja ternyata bisa “menulis” sejarahnya sendiri di konteks sekarang, dimana posisi sejarawan hari ini?

Katherine McGregor, Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia, Yogyakarta, Penerbit Syarikat, Mei 2008

Penulis dan Arsitek freelance

Judul film...