Diskusi Buku Menyintas dan Menyeberang


antok - Posted on 23 August 2008

Penelitian menunjukkan bahwa Islam terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan agama yang dianggap sangat dekat dengan pelaku kekerasan di masa itu. Persepsi itu terbangun dari keterlibatan sejumlah ormas Islam di beberapa daerah dalam menyikapi peristiwa 1965, dan itu dianggap sebagai representasi dari kelompok Islam secara keseluruhan. Sikap keras sebagian kelompok Islam terhadap orang-orang yang memiliki keterikatan dan keterkaitan dengan komunis banyak dipengaruhi ketidaktegasan pemisahan antara agama dan politik, dirasakan oleh korban sebagai sebagai citra Islam secara keseluruhan.

Situasi ini jauh ketika para korban tapol menjumpai agama Kristen melalui pergaulan dengan jemaat maupun pendeta yang berempati terhadap penderitaan mereka. Keputusan mereka untuk pindah dari Islam dan konsisten memeluk kristen serta turut menyebarkannya seusai dibebaskan, meskipun mendapat gugatan dari kalangan Islam maupun Kristen sendiri, adalah bagian penting dari sejarah pergumulan hidup mereka untuk mendefinisikan dirinya dan menciptakan ruang otonom yang memungkinkan untuk menjadi subyek bukan sekedar obyek sejarah lingkungannya.

Syarikat Indonesia dan Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Sanata Dharma mengundang anda untuk diskusi buku: Menyintas dan Menyebrang, Perpindahan Massal Keagamaan pasca 1965 di Pedesaan Jawa

Hari/tanggal: Jumat, 22 Agustus 2008
Jam : 13.30 WIB - Selesai
 Tempat : Ruang Palma, Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Pembicara: Singgih Nugroho, M.A (Penulis),

Dr. Waryono Abdul Ghofur (Dosen Dakwah UIN Sunan Kalijaga)

Sigit Soekotjo (LSP Sinode Gereja Kristen Jawa)
Moderator : Wahyudi Akmaliah Muhammad

(Mahasiswa Pasca IRB Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta)


Acara ini dihadiri puluhan tamu yang berasal dari kalangan akademis dan pelaku sejarah -korban-. Pada kesempatan ini penulis buku mengatakan bahwa judul asli dari thesisnya adalah Pembaptisan massal pada 1965 di Salatiga dan sekitarnya, kemudian setelah diedit berganti judul menjadi Menyintas dan Menyeberang, beberapa faktor yang melatarbelakangi perpindahan agama tersebut adalah :

  • Kaum Islam abangan, kaum Islam abangan pada saat itu berada di daerah perkebunan dengan komunitas PKI-nya, kemudian PKI dibasmi oleh komunitas/ormas agama, dan orang yang tidak jelas agamanya akan di PKI-kan, karena kebanyakan orang abangan hanyalah mengakui Islam saja namun tidak secara jelas menjalankan syariah agama Islam.
  • Pindah agama karena tekanan politik dan ketertarikan, PKI karena dianggap atheis maka ketika dipenjara memperoleh pendidikan agama dan diidoktrinasi dengan ideologi Pancasila, meskipun begitu setelah pulang mereka mengalami stigma dan hukuman sosial yang berat, karena ada perang wacana tentang kristenisasi pasca 1965, meskipun kebanyakan hanyalah wacana politik, ada juga Islamisasi namun santa sedikit.
  • Kekecewaan
  • Komunikasi
  • Tidak paham.

Pembicara kedua bapak Waryono Abdul Ghofur mengatakan setelah sebelumnya mengucapkan selamat kepada penulis, kemudian mengenai konversi agama, itu bukan semata-mata karena memilih yang praktis, misal di islam kalau kentut itu harus berwudlu kalo tidak ada air maka tayamum (tidak praktis). Ada beberapa hal mengapa orang berpindah agama,

  • praktis
  • kepentingan tidak ditemukan (adanya hegemoni-hegemoni)
  • social-politik (terlepas dari skenario)

Perdebatan konstituante, dimana agama akan dijadikan ideologi. Negara kita ini merupakan Negara La Wala (bhs arab: tidak ini dan itu) maksudnya negara sekuler tidak, negara agama juga bukan. Mungkin, saat itu pemerintah mengarahkan orang Islam untuk membunuh karena kekhawatiran akan dijadikannya Negara sekuler. Di dalam Islam dijumpai agama yang dekat dengan Islam itu adalah Kristen, tapi pada kenyataanya sekarang Islam malah jauh dengan Kristen (musuh). Kemudian sekarang ini pembacaan Al-Qur’an tidak melulu sesuai dengan teks, yaitu kontekstual. Bahasa agama itu sangat ampuh untuk mempengaruhi orang. Seperti contoh, Negara menggandeng ulama untuk program KB dengan menggunakan berbagai macam dalil. Artinya sekarang dakwah sudah mulai dipolitisasi

Mengatasnamakan agama dan tuhan itu adalah pisau yang sangat manjur. Mengatasnamakan agama itu adalah surga. Mengapa Ahmadiyah ditolak? Karena ada kepentingan yang diingini oleh pemerintah. Dan sekarang ini ada kekhawatiran dari golongan NU, karena sekarang di Indonesia Islam itu harus yang kayak arab (pake jubah, pakai celana di atas polok kaki, dll) kemudian untuk tahun 65 itu saya kurang tahu apakah Muhammadiyah sudah ada apa belum untuk membendung antara korban dan pelaku. Ketika agama tidak sesuai dengan apa yang dinginkan oleh pemeluk agama itu, maka agama disingkirkan.

Pak Waryono juga mengatakan apakah ada penelitian sosiologi di UIN, dan tidak tahu apakah hal itu bisa diterima secara prinsip pendidikan Islam.

Pembicara ke tiga bapak Sigit mengatakan juga: "Terima kasih. Saya juga mau mengucapkan kepada mas Singgih yang telah menulis dan telah dibukukan. Sebenarnya obyek yang saya tulis itu sudah ditulis, peristiwa yang dijadikan objek di Salatiga, ngampel, Samarang kota, Kendal dll. Bahasa pembaptisan massal itu kayaknya kok nggak enak, karena memang sebenarnya tidak massal. Pembaptisan ini jauh dengan apa yang dikatakan massal seperti yang terjadi di Kutoarjo, yang dilakukan oleh kyai shahdrah dengan membaptis sebanyak 7000 orang. Kalo di GKJ itu 100 orang dengan tidak bersamaan. Pada awalnya kami dari GKJ memang menawarkan agama, kayak berdagang siapa yang mau ikut ya mari kalo tidak mau ya tidak masalah. Akhirnya lama kelamaan kami diundang datang ke kelompok untuk melakukan promosi tentang agama. Promosi itu bukan hanya terjadi saat tahun 63 dan 65 tapi juga pada tahun 30an. Jadi bukan menjadi hal baru adanya promosi agama. Pada saat 65, ketika ada perpindahan agama, GKJ tidak mampu menanganinya, tapi sebisa mungkin melayani. Istilahnya, saat tiu GKJ tidak siap panen, karena kurang tenaga, sarana, pendeta, guru agama. Kemudian GKJ merekrut dan mengadakan pelatihan cepat untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut hingga dapat melayani orang yang mau masuk Kristen. Setelah situasi aman, ada orang yang keluar gereja dan menurut kami itu tidak masalah karena mereka mempunyai hak untuk memilih agamanya."

Tanggapan-tanggapan dari peserta bedah buku diantaranya adalah:

  1. Syamsul

    Dalam buku mas singgih kenapa tidak menyinggung soal KTP? Karena melalui KTP korban menerima stigmatisasi dan diskriminasi. Pada tahun 70an ORBA melakukan screening tentang WNI dan komunis, apakah orang-orang yang berpindah agama itu belum mempunyai KTP? Tahun 65 KTP sudah ada atau belum?

  2. FX. Ngadiyo

    Saya tidak bertanya, tapi mau cerita. Yang dibicarakan tidak luput dari agama dan politik. Sekarang agama disamakan dengan partai, begitu pun sebaliknya. Dulu partai komunis tidak mencampur-adukkan agama. Tentang keberpindahan agama itu daru hati nurani masing-masing bukan kelompok. Pindah agama dari satu agama ke agama yang lain itu tidak menjadi masalah. Yang dikatakan tadi salah semua, tentang allah dan syurga. Allah ada dihati kita masing-masing.

  3. Andrew

    Saya apresiasi untuk pak Singgih Mengenai fokus yang diangkat tentang keberpindahan agama, islam dengan penghegemonian itu terus bagaimana islam sendiri itu membakup? Dikatakan tadi gereja tidak siap untuk sarana prasarana, nantinya kan ada label. Sebenarnya ada yang belum terselaikan ketika nanti orang yang telah berpindah agama itu berbaur dengan keluarga, bagaimana sikap GKJ?

  4. Kiki,

    Di jawa timur bagian tengah dan dan barat, ketidak pastian ekonomi dan politik itu menciptakan keadaan yang tidak pasti tentang keimananan, menurut….. Rame-rame pindah ke Kristen karena pengin praktis, lalu bagaimana dengan orang jawa (kejawen/abangan)?. Apakah itu tidak politik agama Negara pada saat itu? Selain mencari aman apa ada alasan lain?

  5. Samuel Suharto

    Apakah ada perpindahan Kristen ke islam? Apakah sudah diteliti?

  6. Sirait

    Apakah penyeberangan itu akibat ada simpatik dan antipati terhadap personal? Pendakwah, ketika di penjara melakukan dakwah, biasanya membuat simpatik dan empati

  7. Pekalongan

    Saya orang Islam, perlu diketahui. Bersama-sama orang-orang tahun 65 berbondong-bondong pindah agama itu karena dianggap anti agama. Apa yang dibuat itu akan kembali, allah ada di mana-mana. Kemudian orang berpindah ke Islam, Kristen dan lain-lain. Kebanyakan dari islam ke Kristen. Ada 2 sebab yang menurut saya mengapa orang pindah ke agama Pertama masalah perut Kedua masalah kesehatan Saya sebagai orang islam memang malu. Dulu waktu di pulau buru ketika banyak tapol yang kelaparan orang silam hanya berdiam diri, tidak membantu para tapol untuk makan. Sedangkan orang Kristen membantu para tapol. Dalam hal beragamapun begitu, ketika ada ceramah orang islam, pendakwah hanya menjelek-jlekkan para tapol dan dianggap sampah, sedangkan dari Kristen mengatakan, meskipun mereka tapol tapi mereka manusia dan bisa bertobat. Untuk masalah kesehatan, orang Kristen sangat perhatian kepada para tapol, sehingga para korban bisa terbantu mengechek kesehatannya.

  8. Krisna

    Gereja dipisahkan oleh politik, PDS (Partai Damai Sejahtera) itu milik siapa? Menteri agama menetapkan agama resmi itu tahun 72, terus tahun 65 yang disebut agama resmi itu apa?

Demikianlah hal yang menarik dari diskusi buku Menyintas dan Menyeberang, dan lebih menarik lagi kita bisa mencermati buku ini.