Jangan Lagi Ada yang Menjauh
Oleh: Ahmad Tohari
Belum lama ini, terbit sebuah buku berjudul Menyintas dan Menyeberang karya Singgih Nugroho. Buku yang ditulis berdasarkan penelitian lapangan ini mencoba mengungkap penyebab perpindahan agama sekelompok masyarakat di sebuah desa di wilayah Salatiga, Jawa Tengah.
Terungkap bahwa di desa tersebut cukup banyak warga masyarakat yang berpindah dari agama Islam ke agama Kristen. Motivasinya macam-macam. Sebagian mengaku berpindah keyakinan atas pilihan sadar mereka. Tetapi, ada juga yang mengaku pindah agama untuk memenuhi keinginan mencari rasa lebih nyaman.
Seorang di antara mereka mengatakan, ''Setiap kali ada santiaji (baca: ceramah--Pen), orang-orang yang dituduh PKI selalu dicaci maki dan dianggap setan. Padahal, banyak juga di antara mereka sebenarnya memeluk agama.'' Rupanya, banyak di antara orang-orang yang berpindah agama itu adalah mereka yang dulu disebut OT atau 'orang terlibat'.
Pengakuan orang ini langsung mengingatkan saya pada seorang tetangga yang bernasib sama. Tahun 1977, tetangga saya itu dibebaskan dari penahanan di Pulau Buru karena dituduh terlibat pemberontakan PKI tahun 1965. Dia dan seluruh keluarganya beragama Islam. Namun, pulang dari Pulau Buru, tetangga itu sudah beralih keyakinan menjadi kristiani.
Alasannya sama dengan pengakuan orang Salatiga itu, ''Ceramah imam tentara Islam selalu menista kami sebagai kaum yang jahat. Padahal, yang kami tunggu adalah suasana di mana kami dapat merenung atas apa yang telah terjadi. Kemudian, kami ingin diterima kembali dan untuk itu kami mau melakukan apa saja. Tapi, tidak untuk terus dinista dan dianggap jahat.''
Tentang penyebab orang berpindah keyakinan, para agamawan bisa menerangkannya dengan sederhana. Yaitu, ''Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, juga mencabut petunjuk dari orang yang dikehendaki.'' Namun, dalil itu tidak menutup pintu bagi siapa saja yang ingin belajar melalui keberadaan hukum sebab-akibat.
Dan, pelajaran itu akan dimulai dengan pertanyaan, apakah benar kita tidak menyikapi mereka dengan santun, memaafkan, dan menerima mereka kembali dengan kasih sayang? Mari jujur, jangan-jangan jawabnya memang ya. Buktinya, sampai hari ini masih terasa sikap diskriminatif terhadap OT dan anak cucu mereka.
Sindiran bahkan cercaan terhadap mereka masih acap terdengar. Dari mimbar, masih sering terlontar ungkapan yang menyakitkan hati. Pasti, hal-hal itulah yang membuat mereka merasa tersiksa. Tidak nyaman, kemudian mencari tempat yang terasa lebih teduh untuk bernaung, lebih memberi harapan.
Apa yang terjadi di Salatiga itu sesungguhnya bukan yang pertama. Pada tahun 70-an, di Cigugur, Kuningan, Jabar, juga terjadi peristiwa yang mirip. Di sana, sekelompok masyarakat adat telah disikapi terlalu lugas, dicap musyrik. Akhirnya, karena merasa dilecehkan, mereka menjauh dan menjauh. Padahal, sebelumnya, mereka secara turun-temurun mengaku beragama Islam karuhun (leluhur).
Pertanyaan berikut, apakah masih ada orang-orang yang akan menjauh dari kita? Ya, tergantung apakah dalam berdakwah kita berhasil mencitrakan Islam sebagai agama rahmat atau tidak. Bahkan, kita sendiri harus mampu meniru Kanjeng Nabi: bersikap lembut, penuh maaf, kaya akan kasih sayang, apalagi kepada mereka yang sedang menderita. Bukankah Kanjeng Nabi bersikap tegas hanya kepada mereka yang benar-benar bertindak sebagai musuh?
Atau, bagaimana mungkin orang-orang mau percaya innallaha ghafurur rahim bahwa Allah sungguh-sungguh Maha Pengampun serta bersifat belas kasih bila kita sendiri hobi bertindak kasar dan tidak suka memaafkan? Sayangnya, justru itulah yang terasa sekarang ini. Tidak sedikit juru dakwah yang melupakan sifat lemah lembut Kanjeng Nabi.
Juru dakwah semacam itu lebih suka meniru gaya polisi yang ke sana ke mari membawa pentung untuk memukul siapa saja yang dianggapnya salah. Dan, bila gaya ini tidak diakhiri, tentu masih akan ada orang yang menjauh.
Sumber : HU Republika, 22 September 2008

