LAPORAN UTAMA, Krisis Budaya Melanda Negara Harus Segera Bertindak, RUAS Februari 2008


syarikat - Posted on 06 May 2008

Jamal“KAPITALISME, hedonisme, dan pragmatisme eksploitatif yang mengedepankan kepentingan pribadi menjadikan keadilan dan kesejahteraan masyarakat tidak tercapai. Sebaliknya, aji mumpung mendapatkan keuntungan dan mengedepankan kepentingan pribadi terlihat sangat menonjol di negeri ini. Tidak hanya di pemerintahan, pebisnis, penegak hukum tapi juga masyarakat. Itulah budaya yang terlihat menonjol di negeri ini,”  komentar Jamal Yazid, anggota DPRD Kab. Boyolali saat ditanya tentang peran strategis kebudayaan guna pembentukan karakter bangsa.

Menurutnya,  Indonesia bukan negara agama. Bukan negara sekular. Tapi  setiap langkah masyarakatnya melandaskan pada hal-hal spiritual yang harus diterapkan atau seharusnya berimbas secara langsung terhadap pelaksanaan kehidupan sehari-hari.
”Sayangnya, sikap ini dari waktu ke waktu mengalami degradasi dan bahkan luntur sehingga kualitas manusia Indonesia makin menurun. Etika dan perilaku berbudaya terpinggirkan oleh hal-hal yang bersifat materi. Meski orang itu pintar tapi nilai-nilai moralnya tidak terinternalisasi secara baik hingga terjadi pemisahan antara nilai moralitas (agama) dan duniawi,” ujarnya.
            Dalam amatannya, kebudayaan atau karakter bangsa saat ini sedang dilanda krisis. Buktinya, praktek illegal banyak terjadi baik pemerintahan, pebisnis, penegak hukum dan masyarakat. Bahkan sering terjadi konspirasi yang melibatkan berbagai bidang tersebut sehingga berakibat pada kegagalan negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Padahal, rakyat adalah pemilik mandat yang memiliki kedudukan tinggi dalam sebuah negara.
            ”Untuk itulah perlu segera diciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, penegak hukum yang profesional yang berfungsi sebagai pelayan rakyat – dan bukan pemeras rakyat – pebisnis yang tak hanya mengejar untung dan merusak lingkungan tapi juga masyarakat yang cerdas dan beretika,” tambahnya.
Memang, saat ini budaya kita sedang terpuruk. Berbagai perilaku menyimpang terus saja terjadi. Jika tak segera dibenahi bangsa ini akan tercerabut dari akar budaya warisan para leluhurnya untuk kemudian tergantikan oleh budaya individualisme, hedonisme, pragmatisme dan konsumerisme yang jelas-jelas merugikan rakyat.  Jika tak segera diperbaiki bangsa ini akan makin terjerat dalam krisis kebudayaan yang berkepanjangan. Untuk itulah perlu segera dilakukan perbaikan menyeluruh. Tak hanya perbaikan moral dan spiritual tapi juga perilaku dan akal budinya.
”Tak ada cara lain yang bisa dilakukan oleh negara kecuali segera bertindak memberdayakan (menguatkan) rakyatnya. Budaya sebagai koridor utama pembentukan karakter bangsa harus segera dilaksanakan dengan berbagai cara baik oleh negara melalui produk hukum dan oleh masyarakat sendiri,” ujar anggota fraksi PKB ini kepada RUAS.
”Sudah saatnya kita buang jauh-jauh sikap budaya yang cenderung merusak dan merugikan bangsa sendiri sebagaimana yang terjadi selama ini. Tak hanya korupsi, kolusi dan nepotisme, tapi juga peristiwa yang terjadi di tahun ’65. Bagaimana pun juga peristiwa itu tidak boleh terulang. Hukum harus ditegakkan karena penghilangan nyawa seseorang adalah pelanggaran kemanusiaan,” ujarnya menutup pembicaraan.