LAPORAN UTAMA, Merebaknya “Aliran Sesat” Bukti Ormas Islam Belum Berhasil “Ngurusi” Umat

KH. Moh. Hadi MahfudzzMerebaknya berbagai aliran yang diklaim sebagai "aliran sesat" oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) menimbulkan pro dan kontra. Ada yang setuju banyak pula yang tidak. Repotnya lagi, sebagian kelompok masyarakat malah bertindak anarkis dengan cara merusak lokasi penyebaran aliran-aliran itu dan menebar teror psikologis terhadap tokoh aliran dan pengikutnya.

Dilihat dari sisi hukum maupun HAM (Hak Asasi Manusia) aksi kekerasan tersebut tidak bisa dibenarkan karena sudah menjurus pada tindak criminal yang jelas bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku. Namun persoalannya tidak berhenti sampai di situ. Ada problem di balik semua peristiwa kekerasan yang telah terjadi.

Menurut KH Moh Hadi Mahfudz, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Mlaten, Kauman, Kabupaten Tulungagung, reaksi keras sebagian kelompok masyarakat menyikapi munculnya "aliran sesat" pada prinsipnya tidak dibenarkan. Namun tindakan itu muncul akibat kepercayaan masyarakat terhadap proses penegakan hukum sudah hilang. Mereka, menganggap “aliran sesat”  dan meresahkan masyarakat. Berkali-kali dilaporkan kepada aparat penegak hukum, namun tidak memperoleh tanggapan yang memadai.

Masalah Baru
Akumulasi ketidakpercayaan itulah yang kemudian memicu aksi kekerasan di masyarakat. Namun Gus Hadi yang juga Rais Syuriah PCNU Tulungagung berharap agar tindakan anarkis, apapun bentuknya, harus dihindari, sebab akan menimbulkan masalah baru yang lebih rumit dan kompleks.

Gus Hadi juga melihat, tidak sepenuhnya masyarakat berpikir sempit menyikapi  perbedaan, termasuk munculnya aliran-aliran sempalan yang dianggap sesat. Masyarakat, khususnya muslim, bisa menerima aliran-aliran itu sepanjang tidak ada unsur pelecehan agama di dalamnya. Masalahnya, ajaran-ajaran yang disebarkan "aliran-aliran sesat" pada umumnya mengandung unsur pelecehan terhadap agama. "Intinya, tindakan anarkis muncul akibat adanya pelecehan agama," ungkap Wakil Ketua MUI Tulungagung ini.

Munculnya "aliran sesat", diakui atau tidak, menunjukkan bahwa tokoh-tokoh agama dan ormas-ormas (organisasi masyarakat) Islam di Indonesia seperti Nahdhatul Ulama' (NU), Muhammadiyah belum berhasil 'ngurusi' umat. Ormas-ormas ini lebih disibukkan persoalan internal kelembagaan ketimbang menata pendidikan dan dakwah yang benar di masyarakat. Akibatnya, masyarakat awam kurang mendapatkan sentuhan religi, sehingga praktik kehidupannya kering dari nilai-nilai agama.

Massa Mengambang
 Secara formal mereka mengaku Islam, tetapi dalam kenyataannya banyak syari'at belum dijalankan. Umumnya kelompok ini belum memiliki keyakinan agama secara kokoh. Kondisi seperti itu lalu "dimanfaatkan" oleh tokoh-tokoh aliran tertentu, yang seringkali dicap sebagai sesat, untuk menyebarkan ajaran mereka. Apalagi, agama merupakan sarana atau alat yang efektif untuk mempengaruhi masyarakat.

"Kenapa muncul aliran-aliran seperti itu? Kita mengakui sesungguhnya yang salah kita (tokoh agama dan ormas Islam) juga. Sebab sampai sejauh ini ternyata kita belum mampu memberikan pencerahan agama secara luas kepada masyarakat. Ini sekaligus menjadi  otokritik," tutur Gus Hadi.

Masyarakat muslim yang belum punya keyakinan agama yang kokoh adalah massa mengambang. Berdasar kalkulasi, jumlahnya jauh lebih besar dibanding muslim yang taat. Nah, kenyataannya ormas Islam belum mampu menjangkau seluruh wilayah massa mengambang. Wajar jika kemudian mereka "diemong" oleh aliran-aliran tersebut.

"Langkah awal yang bisa kita lakukan adalah  mendata massa mengambang yang keyakinan dan pemahaman agamanya belum kuat. Kalau mereka benar-benar diketahui beragama Islam, kita masuk dan kita beri konsep-konsep Islam sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Rasulullah. Lebih jauh kita menjadi pagar  dari aliran-aliran yang masuk, yang dimungkinkan menyimpang,"papar Gus Hadi.

Yang tidak kalah pentingnya lagi adalah menata pendidikan Islam sejak dini. Sebab, sekarang ini banyak orang pandai ilmu/teori agama, tapi praktiknya nol. Selama pendidikan Islam masih menghasilkan out put seperti itu tidak akan terjadi keseimbangan karena agama hanya berkutat di wilayah otak (ilmu), tidak sampai merasuk ke dalam hati dan memancar ke dalam perilaku (amal).
(Wahid Nasirudin)