Depan / HAM / diskriminasi
Mempersiapkan Dunia Baru !
Peristiwa-peristiwa terakhir ini membukti bahwa nilai-nilai agama memiliki kebebasan untuk diinterprestasikan secara subjektif, bahkan mengalami pembaruan-pembaruan. Sehingga disisi lain ada pendekatan radikal dan ada pendekatan damai namun keduanya tetap berbasiskan agama. Hal ini tidak hanya melulu didominasi oleh agama mayoritas, tapi juga dikelompok-kelompok minoritas lainnya. Hanya saja di Indonesia tentu saja Islam sebagai agama mayoritas mengalami berbagai perkembangan di kedua trend radikal dan yang damai.
Persoalannya apakah kedua pendekatan tersebut benar-benar akan dapat menjawab persoalan kongkrit masyarakat yang ada sekarang ini. Ditengah-tengah berbagai terpaan persoalan ekonomi, sosial dan politik agama justru hanya menjadi legitimasi berbagai tindakan, dari aksi-aksi kekerasan berbentuk teror seperti peristiwa di berbagai tempat di belahan bumi sampai ke Bali; peperangan antar negara, penutupan berbagai tempat hiburan dengan kekuatan militia, poligami, perceraian, permusuhan antar sekte atau antar agama, penindasan terhadap kaum perempuan dan berbagai contoh yang bisa dideret disini.
Seperti kata Marx, bahwa pada tingkat tertentu agama akan menjadi candu dalam masyarakat. Tapi harus diluruskan disini,--- bahwa bukan berarti,--- seperti yang ditafsirkan oleh berbagai kalangan agamawan,---bahwa ini merupakan anjuran agar orang tidak beragama. Marx justru membuktikan bahwa pembenaran-pembenaran atas nama agama selalu akan muncul untuk melegitimasikan kehendak subjektif seseorang ataupun kelompok, sehingga persoalan yang sesungguhnya tidak akan pernah terungkap. Plintiran pandangan Marx sering digunakan justru untuk mempertahankan kemunafikan kaum farisi : atas nama agama mempertahankankekuasaan ekonomi dan politik mereka.
Lanjut Marx lagi bahwa agama telah menjadi institusi yang akan terus digunakan untuk berkuasa. Hal ini justru jauh dari ajaran setiap keyakinan yang sesungguhnya lahir untuk pembebasan dan berakhir pada kedamaian.
Masyarakat yang katanya beragama justru harus meninjau ulang agama yang dianut, apakah doktrin-doktrinya tetap konsisten dengan ajaran-ajaran semula atau justru hanya berisi kehendak-kehendak subjektif yang memanipulasi kesadaran umat dan ketundukan terhadap insitusi agama-agama masing-masing.
Kalau ditarik secara prinsipil dari latar belakang sejarah lahirnya agama-agama dapat ditelusuri dimana mata air dan kemana muara ajaran-ajaran agama tersebut. Ajaran Islam lahir untuk pembebasan masyarakat dari sistim perbudakan. Ajaran Kristus berintikan pada hukum kasih terhadap sesama manusia. Ajaran Budha berintikan pada kedamaian. Demikian Ajaran Hindu, Tao, dan Konfucius juga tidak jauh berbeda.
Ribuan Tahun ajaran-ajaran tersebut tetap hidup dalam rangkaian sejarah pembentukan masyakat, tapi belum ada satu sistimpun yang berasal dari agama tertentu yang secara tuntas menyelesaian persoalan masyarakat. Justru semua pendekatan selalu mengorbankan pendekatan lainnya, sehingga tidak pernah tercipta secara utuh apa yang diinginan berbagai ajaran nabi, kaum bijak, orang pintar, ataupun filsuf.
Dunia semakin tua, seumur dengan usia ajaran-ajaran tersebut, adakah yang salah dari ajaran, atau penerapan ajaran, atau pada setiap penganutnya masing-masing, sehingga dunia yang tua renta ini tidak pernah menjadi satu dunia bagi semua orang, yang walaupun berbeda-beda tapi bisa hidup berdampingan saling menghormati dan menghargai.
Ajaran Marx justru menunjukkan bahwa apa yang dicita-citakan di atas tidak ada hubungannya dengan ajaran agama. Justru semua ajaran agama tidak akan menjadi hipokrit hanya setelah cita-cita di atas telah tercapai. Satu dunia, tanpa ada yang harus ditindas dan harus menindas, tanpa ada batas-batas kepemilikan atas alat produksi dan negara, tanpa ada keharusan untuk perang. Hanya dalam syarat-syarat tersebut ajaran-ajaran berbagai agama tersebut akan tumbuh dengan subur.
Artinya, dibutuhkan satu kekuatan untuk mempersiapkan lahan subur bagi ajaran-ajaran bijak yang pernah ada dalam sejarah. Lahan subur tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan ajaran agama, etika, moral ataupun nilai-nilai. Karena sebuah sistim secara kongkrit harus segera dibangun, melahirkan sistim yang berjalan “menjadi” alamiah. Hanya setelah sistim itu menjadi sistim dunia dan berjalan secara alamiah dan konsisten untuk kepentingan umat manusia, maka ajaran-ajaran agama akan menjadi bagian penting untuk meletakkan nilai-nilai kemanusiaan, ketuhanan, kebudayaan dan berbagai norma yang dihasilkan oleh peradaban umat manusia.
Kaum umat beragama harus melakukan refleksi. Bahwa satu tatanan dunia baru harus segera diciptakan, agar hipocracy segera dihentikan, sehingga “semua” atas nama agama tidak lagi digunakan untuk kepentingan anti kemanusiaan dan semua hal yang munafik, yang justru mengotori ajaran-ajaran agama yang telah lahir sebagai peradaban manusia. Mobilisasi usaha membangun tatanan dunia baru inilah yang membutuhkan konsentrasi tenaga, pikiran dan keseriusan, oleh semua orang yang justru berkepentingan agar ajaran-ajaran agama suatu saat dapat dihidup dan diterapkan.
Untuk itu memang adalah tidak mungkin dilakukan tanpa pembalikan, tanpa revolusi, tanpa pemusnahan terhadap sistim lama yang sudah tua dan menindas ini. Phobia terhadap revolusi inilah yang harus dihilangkan untuk mempermudah gerak sejarah perubahan yang mendasar.
Dalam proses pembalikan dan penghapusan sistim lama, maka dunia akan terbelah dua. Mereka yang diseberang, yang tetap ingin mempertahankan sistim tua dan menindas, atas nama agama-agama, namun merupakan kemunafikan anti ajaran-ajaran baik dan tulus dari agama-agama itu sendiri. Merekalah sebenarnya manusia-manusia egois, selfish, materialis dalam arti gila harta, dan kaum pemilik modal yang ketakutan kehilangan kekuasaannya.
Sedangkan,--- kita disini yang berusaha konsisten dengan ajaran agama-agama kita masing-masing, berusaha mempersiapkan lahan subur agar ajaran-ajaran tersebut dapat tumbuh nantinya, setelah struktur masyarakat dirubah secara total dan revolusioner. Bersama-sama dengan kaum yang selama ini tertindas diseluruh dunia menggalang kekuatan membangun dunia baru dengan tatanan barunya.
Sudah saatnya kaum beragama mengambil peran di depan, tapi dengan pandangan dan semangat baru demi terciptanya masyarakat di dunia baru. Kaum beragama justru lebih tahu dan peka untuk membedakan mana yang baik dan buruk merujuk pada perubahan maju masyarakat. Mengetahui salah dan benar merujuk pada kemanusiaan universal. Sehingga tatanan dunia baru tersebut memberikan syarat-syarat objektif bagi ajaran-ajaran agama itu berkembang secara subur dan saling melengkapi, karena tidak ada alasan lagi untuk saling bermusuhan dan saling mematikan.
Inilah revitalisasi kehidupan umat manusia, tanpa ada prejudice dan kebencian sebuah tatanan dunia baru pasti akan terwujudkan. Suka atau tidak, kaum beragama tetapharus mengambil peran. Karena dunia ini milik bersama, dari manapun latar belakang, apapun keyakinan dan ideologi yang ada, kehidupan milik kita bersama.
Penulis adalah wartawan.
