Merajut Kebersamaan dari Luka Kekerasan


syarikat - Posted on 30 Maret 2007

kemala chandrakirana

Jakarta, 15 Desember 2006

Hari ini kita memperingati hari ibu pada sebuah muara dari perjalanan panjang, yang terdiri dari serangkaian perjumpaan antar para pejuang perempuan lintas generasi. Dalam perjalanan ini, kami, perempuan tua dan muda dari berbagai penjuru Indonesia, menelusuri sejarah kekerasan yang dialami perempuan dari masa ke masa, dari daerah ke daerah, yang ternyata saling kair mengait. Dari luka-luka kekerasan ini, kami bertekad merajut kembali diantara kita sesame perempuan.

Perjalanan ini dimulai dari kedatangan delegasi ibu-ibu korban peristiwa 1965 ke Komisi Nasioanl anti kekerasan terhadap perempuan (Komnas Perempuan) pada tanggal 29 Mei 2006 yang lalu, di mana mereka menyampaikan pengalaman kekerasan dan diskriminasi yang terjadi pada saat peristiwa tahun 1965 dan setelah mereka kembali bergabung dengan masyarakat selepas pembebasannya dari tahanan yang berlangsung 10-15 tahun lamanya. Sejak pertemuan pertama Komnas Perempuan dengan ibu-ibu ini, kami di Komnas Perempuan mempunyai keyakinan bahwa tantangan yang diberikan oleh ibu-ibu korban peristiwa 1965 pada tanggal 29 Mei tersebut diatas harus ditagggapi bersama-sama dengan organisasi-organisasi perempuan dan sesama perempuan yang menggerakkan pengorganisasian pada jamannya masing-masing.

Setelah tujuh tahun bergumul dengan realitas kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, kami di Komnas Perempuan bertekad untuk memperlakukan pengalaman ibu-ibu korban peristiwa 1965 sebagai bagian dari sejarah kita bersama yang sudah saatnya kita tatap dengan seksama – dengan kepala dingin dan hati yang jernih – agar tidak terus menerus menjadi tabu yang justru memunculkan kegelapan yang menyesatkan. Karena jika kita tetap mengelak untuk melakukannya tahun ini, 41 tahun setelah kejadian, maka peristiwa ini tentu akan terus menghantui kita sepanjang masa. Dalam diskusi kami kemarin, sangat jelas bagaimana peristiwa 1965 terus menyusup dalam pengalaman kekerasan terhadap perempuan di Timor Timur, Aceh, Poso dan dalam perjuangan muda pembela HAM di berbagai kota.

Perjalanan bersama ini mendapatkan nyawa dari suara penuh harapan dari ibu-ibu korban yang kini berusi 55 – 75 tahun, dan diberi inspirasi oleh anak-anak kita yang sedang duduk di bagnku sekolah menengah sebagai suara dari masa depan. Dengan kecanggihan tehnik membuat film dokumenter yang tak terbayangkan oleh kita, anak-anak penerus perjuangan bangsa ini melakukan sebuah pencarian dan merekam perjumpaannya dengan ibu-ibu korban dan keluarganya. Hari ini, kita akan menikmati 3 film dari perserta loba yang berjudul “Putih abu-abu: Masa Lalu perempuan” yang telah dipilih oelh Dewan Juri.

Dalam rangka memperingati hari Ibu, hari ini kita menegaskan tekad kita, sebagai perempuan Indonesia untuk melihat dan menerima fakta-fakta dari masa lalu kita sendiri sebagaimana adanya, betapapun sulit dan menyakitkannya, dengan penug kesadaran bahwa semua ini adalah demi kebaikan masa depan anak cucu kita. Tekad ini semakin kuat mengingat kondisi bangsa kita yang sedang mengalami sebuah masa yang penuh kekerasan dan kecurigaan diantara kita sendiri. Konflik bersenjata dari Aceh hingga Papua : budaya kekerasan yang merajalela dimana-mana dan merasuk ke dalam rumah-rumah tangga kita sendiri: desakan-desakan untuk unggulkan dominasi satu agama diatas realitas keberagaman bangsa. Jika kita menelusuri siapa yang terus menerus menyulut api kekerasan dan arogansi (chauvimisme) ini? Kebanyakan dari mereka adalah kaum laki-laki.

Pertanyaan yang mengantar dialog kami kemarin, antara pejuang-pejuang perempuan lintas generasi, adalah : Apakah kita, kaum perempuan, akan sekedar larut dalam arus besar yang penuh kekerasan, arogansi dan kecurigaan ini? Ataukah kita akan membebasakan diri dari arus yang mencelakakan ini dan merintis jalan sendiri untuk menciptkan arus yang berbeda, arus yang akan mengantarkan kita pada masa depan yang lebih baik? Kita akan bisa melakukan ini secara baik tanpa keberanian menatap masa lalu kita sendiri dan mempertanggunjawabkannya sebagai sejarah kehidupan kita sendiri sebagai perempuan dan bangsa.

Dari suatu perjumpaan berikutnya, benteng-benteng pemisah di antara kaum perempuan perlahan-lahan tapi pasti mulai terbongkar, dan jalur komunikasi di antara kita mulai mengalirkan semangat untuk mencari kebenaran. Dari proses ini, kita semakin yakin bagaimana semangat tulus perempuan, sebagai ibu-ibu bangsa, adalah sebuah kekuatan yang sungguh-sungguh menakjubkan, yang akan mampu merajut kembali kebersamaan yang telah tercabik selama puluhan tahun, antara sesama perempuan sendiri dan antara berbagai golongan masyarakat yang hidup di bumi nusantara ini.

Melalui proses ini , kami bertekad untuk menemukan pembelajaran bersama dari pengalaman pahit kekerasan masa lalu yang akan kita sampaikan ke anak cucu kita agar hal yang sama tidak pernah terulang lagi di bumi Indonesia yang kita cintai ini. Kita bertekad untuk tidak membiarkan tubuh kita, kaum perempuan, untuk diperalat oleh kepentingan politik pihak lain, apapun aliran politiknya. Kita bertekad untuk tidak membiarkan kebersamaan kita, kaum perempuan dipecah belah oleh perebutan kekuasaan yang bukan perjuangan kami sendiri. Melalui perjalanan bersama, kami memaknai ulang arti menjadi ‘ibu’ bagi sebuah bangsa yang sedang kehilangan jati diri dan perikemanusiaannya.

Mari kita jadikan ‘Hari Ibu’ sebagai kesempatan yang baik untuk menemukan dan menyiarkan makna ‘Ibu Bangsa’ di masa penuh gejolak ini ke komunitas dan organisasi kita masing-masing, dengan bercermin pada masa lalu betatapun pahitnya. Mari kita jadikan hari Ibu menjadi hari yang kita rayakan bersama sebagai bagian dari langkah kita, kaum perempuan, untuk membuka lembar sejarah baru bagi Indonesia yang menghargai martabat kemanusiaan setiap warga tanpa kecuali.

Akhir kata, kami ucapkan ‘Selamat Hari Ibu’

Kamala Chandrakirana adalah Ketua Komisi Nasional anti Kekerasan terhadap Perempuan