OPINI, Kain Jarik Melati Putih: Metode Pengembangan Ekonomi Ibu Korban di Kulon Progo


syarikat - Posted on 12 Mei 2008

Kain Jarik Melati Putih:
Metode Pengembangan Ekonomi Ibu Korban di Kulon Progo

Eka Septi Wulandari

Septi WulandariAda yang mengatakan orang Cina pintar berdagang, kalau mereka menjual bubur lama-lama bisa meningkat punya restoran, tapi kalau orang Jawa berdagang bubur lama-lama bisa bangkrut. Orang China lebih disiplin mengelola bisnisnya, mereka berusaha untuk meningkatkan aset usahanya, sedangkan orang Jawa sering “pekewuh”, jika pembelinya masih saudara atau teman baik, mereka justru memberikan harga lebih murah, atau  dagangan secara Cuma-Cuma. Itu sebabnya seringkali pengusaha Jawa bangkrut sebelum berkembang.

Hal itu juga tampak dari keluarga survivor 1965, yang mencoba berbisnis.  Kalau boleh jujur, sebagian besar keadaan ekonomi keluarga survivor 65 masih dibawah rata-rata. Kondisi ini terjadi karena beberapa sebab, diantaranya adalah karena peristiwa 65 yang mempengaruhi kehidupan ekonomi mereka. Ayah sebagai pencari nafkah utama hilang, tak pernah diketahui nasibnya. Ibu mengambil peran pengganti sebagai pencari nafkah sekaligus kepala rumah tangga.

Mereka yang sebelum tahun 65 mempunyai pekerjaan tetap, misal sebagai guru, dengan terpaksa harus dipecat dari pekerjaannya karena dianggap terlibat dengan peristiwa 65. Himpitan masyarakat dan stigma yang diberikan memaksa mereka untuk tetap berjuang mempertahankan kondisi ekonomi keluarga. Sebagian besar dari mereka bahkan harus menjual harta benda peninggalan keluarga untuk tetap bisa mempertahankan hidup. Sebagian berusaha sekedar mencari nafkah untuk makan keluarga. Hanya Semangat mereka untuk menyekolahkan anak-anak mereka membuat hati mereka membaja untuk mengejar ketinggalan dengan sesama.

Namun ternyata perjuangan mereka tak pernah berakhir, stigma terhadap anak mereka juga belum berakhir, sebagian masih tidak bisa mendapatkan pekerjaan di pemerintahan. Sekedar untuk mempertahankan hidup, mereka tetap mengerjakan pekerjaan yang menghasilkan sedikit uang, mereka bertani, berdagang, beternak. Generasi pertama ibu-ibu survivor 65  saat ini usianya sudah sepuh-sepuh, diatas 60 tahun semua. Namun mereka masih semangat untuk mengadakan pertemuan setiap bulan, untuk itu mereka mengajak generasi selanjutnya untuk mengikuti pertemuan mereka.

Berawal dari Program Syarikat yang telah dilakukan untuk ibu-ibu di Kulon Progo, sejak tahun 2006, terbentuklah pertemuan rutin ibu-ibu di Kulon Progo dengan nama Melati Putih yang mengadakan pertemuan tiap dua (2) bulan sekali. Awalnya memang hanya informasi dan sekedar kemajuan yang telah diperoleh bersama teman-teman Syarikat yang menjadi topik pembicaraan, disamping itu juga topik-topik seputar keadaan politik di tanah air.

Lama kelamaan muncul ide untuk mengadakan arisan dan simpan pinjam, akan tetapi untuk arisan tidak terlalu di respon karena anggota melati putih yang terdiri dari ibu-ibu yang sudah tua, tidak bisa secara rutin menghadiri pertemuan sehingga dikhawatirkan justru akan merugikan bagi anggota lainnya. Kemudian disepakati untuk mengadakan simpan pinjam, dengan modal awal sebesar satu juta dan simpanan pokok sebesar dua puluh ribu rupiah, simpan pinjam berjalan dengan lancar, tapi karena anggota Melati Putih belum terlalu banyak akhirnya beban hutang menjadi banyak.  Bahkan ada anggota yang pinjamannya belum lunas tidak berani mengajukan pinjaman yang baru. Akhirnya disepakati bahwa uang yang tidak dipinjamkan, digunakan untuk meakukan usaha.

Mulai bulan Desember 2007 Melati Putih merintis sebuah usaha. Diawali dari pertemuan yang seringkali karena kondisi hanya dihadiri oleh lima sampai sepuluh orang, mereka mendiskusikan tentang ‘berusaha’ meningkatkan keadaan sosial ekonomi mereka dan kalau bisa generasi selanjutnya.

Diskusi dimulai dengan membedakan aset dan liabilitas. Ibu Sumilah, dengan mengutip buku dari Robert T Kiyosaki menerangkan tentang perbedaan aset dan Liabilitas. Ketidakmampuan membedakan aset dan liabilitas inilah yang menyebabkan sebagian besar keluarga 65, dan manusia pada umumnya bangkrut.

Mereka mengira aset adalah benda berharga yang mereka miliki dan sewaktu-waktu bisa dijual, sedang  definisi sederhana dari aset adalah “sesuatu yang memasukkan uang ke kantongmu” sedangkan liabilitas adalah “sesuatu yang mengeluarkan uang dari kantongmu”. Untuk menjadi ‘kaya’ harus pandai membedakan aset dan liabilitas.  

Bahkan setiap kita mengeluarkan uang dalam benak kita harus bertanya uang ini akan menambah aset atau menjadi liabilitas. Dari diskusi membedakan aset dan liabilitas tersebut akhirnya muncul kesepakatan dari anggota Melati Putih untuk membeli aset. Meskipun dengan modal yang sedikit mereka akhirnya bersepakat untuk membeli dua puluh kain jarik sebagai aset mereka. Kain Jarik itu terdiri dari kain jarik yogya sepuluh lembar dan kain jarik solo sepuluh lembar.  Kain itu disewakan kepada umum. Hal itu disepakati karena berbagai alasan, dana yang ada belum terlalu banyak, dengan dibelikan jarik dan disewakan, maka barang masih tetap ada, dan organisasi mempunyai pemasukan.

Pengelolaan dilakukan oleh mbak Endang salah seorang anggota Melati Putih yang sudah mempunyai usaha salon. Jarik kita titipkan di tempat mbak Endang  dengan pembagian satu bagian untuk keuntungan Melati Putih, satu bagian untuk pengelola, satu bagian untuk disimpan sebagai kas. Kas akan digunakan sebagai dana cadangan, selain itu juga untuk membeli sabun cucu dan mengupah yang mencuci kain jarik setelah di sewa.

Memang usaha ini baru rintisan awal, sebagai usaha yang dikelola oleh Melati Putih. Namun meskipun begitu, pengelolaan usaha ini sangat serius dan diharapkan bisa menjadi contoh bagi organisasi lain untuk meniru usaha ini. Pelatihan kewirausahaan sangat diperlukan dalam hal ini untuk meningkatkan kemajuan dan aset yang telah dimiliki oleh Melati Putih.

Sekilas dari usaha yang telah dilakukan Melati Putih untuk berusaha membedakan Aset dan Liabilitas.

Salam