OPINI, Melanggengkan Kekuasaan Lewat Dendam & kebencian


malamini - Posted on 26 Agustus 2008

Oleh: Cyprianus Lilik K. P. *

Apa arti nasionalisme? Apa arti menjadi Indonesia? Tanyakan pada sekian banyak anak muda, tanyakan pada diri sendiri. Dan ternyata, kita dibuat gelisah karenanya. Barangkali, hanya anak-anak yang memiliki jawaban relatif lengkap dan positif. Tetapi itu takkan berlangsung lama. Tentu saja. Karena masih segar di kepala mereka pelajaran kebangsaan yang diperoleh. Sayangnya, biarpun mereka bisa menjawab toh jawaban-jawaban itu tak lagi selengkap anak-anak sekolah di zaman Orde Baru karena jawaban itu lahir dari indoktrinas. Akan tetapi ketidak-mampuan kita memandang positif rasa kebangsaan – bahkan merasakan kehadiran  kebangsaan – itu sebagai bagian eksistensial dari individualitas kita adalah sebuah kehilangan yang besar.

 

Dendam Keindonesiaan
MUNGKIN kita semua punya “dendam keindonesiaan.” Kiri, kanan, eks komunis hingga religius radikal, suku-suku di rimba Papua hingga juragan Cina kaya. Akibatnya, kita seolah merasa jadi korban.
Kita lupa bahwa semestinya perasaan menjadi korban bisa menyatukan. Menggiring kembali pada rindu kesatuan yang memerdekaan. Kita seolah lupa bahwa ketertindasan kita bukan satu ketertindasan karena ia lahir dari rezim cerdas yang menjadikan kita menjadi penindas, yang paling sukses menciptakan hantu bagi yang lain.

Akan tetapi, ketika rezim itu menghilang, kita kehilangan cara mendefinisikan diri. Kehilangan pengkisah tidur malam tentang ketertindasan yang berlumur darah, sekalipun kisah itu menina-bobokan kita dari penghisapan terus-menerus atas diri sosial, diri fisik, dan diri ekologis kita.

Sesungguhnya, kita perlu memiliki kesadaran baru bahwa masa lalu yang beradarah-darah itu telah diputar-balikkan dan dimitos-ilusikan sebagai suatu pembenaran mutlak atas berlangsungnya kekejaman dan kesewenang-wenangan tanpa mempedulikan keindonesiaan dan kemanusiaan.

Sebagaimana tugas seorang perintis pembuka hutan, kita harus selalu melihat ke masa depan. Meski penuh liku, gelap dan menyeramkan, kita tidak boleh surut. Cuma saja, ketika parang diayunkan, janganlah kemudian menebas bangsa sendiri, teman sendiri atau mereka yang tak sependapat dengan kita.

Kita mesti sadar, kelamnya hutan keragaman, yang menakut-nakuti kita dengan kotak-kotak purba bernama SARA, adalah cara masa lalu menguasai kekinian. Tak hanya dengan warisan hutang, tetapi dengan sentimen purba tentang ‘yang lain’ yang siap menikam.

Kedalaman Hati
Sementara orang-orang menyeru persatuan, tindakan rekonsiliasi justru semakin terlambat. Narasi yang menyatukan kita sebagai korban rezim otoritarian, perlahan mulai redup dan hilang karena kita terserak oleh pilihan-pilihan yang sempit.
Sebagian sahabat Muslim menyerukan syariat dan khilafah. Sebagian teman Kristen menuntut Kota Injili dan sebagian lainnya berteriak merdeka dan menyatakan keluar dari satu rajutan benang bernama Negara kesatuan.

Teriakan-teriakan itulah yang membuat kita seolah menghidupi perjuangan kesejatian, menemukan nyala kedirian yang lebih menjanjikan dan menyejahterakan. Tetapi diam-diam, bukankah ini isyarat bahwa kita belum terbebas dari ketakutan dan teror masa lalu? Dari tindakan kejam yang dibungkus senyuman? Akankah kita berani mendengar suara yang berasal dari kedalaman hati yang rindu keadilan dan kemanusiaan?

Lantas bagaimana kita berekonsiliasi dan menemukan kembali “tanah subur” yang hilang dirampas mitos masa lalu? Barangkali, kalau  kita sungguh ingin rujuk kembali – karena kita tidak tahu mengapa harus saling bersengketa –  kita harus mampu melampaui kedirian, melampaui masa lalu, melampaui masa depan dan masuk menusuk ke dalam kenyataan.

Dendam & Kebencian
Melampaui kedirian, karena kita sadar sepenuh bahwa kesadaran diri kita adalah mutlak dibentuk oleh tipu daya indoktrinasi, identitas semu, dan ilusi permusuhan.

Melampaui masa lalu, barangkali kalau kita mencari sejarah, seharusnya kita mengikuti ucapan Revrisond Baswir bahwa kita pernah punya sejarah yang hilang dalam tahun-tahun tertib developmental negara tiran, sejarah perlawanan dan pemerdekaan tanpa henti dalam erat nyala persaudaraan dan gairah perjuangan. Keindonesiaan Tan Malaka, Sukarno, Cokroaminoto, Agus Salim, Wakhid Hasyim, Sam Ratulangi, dan lain-lain.

Melampaui masa depan, melampaui bayang pilihan sesaat yang menyerakkan keindonesiaan kita dalam keragaman perjuangan dan masing-masing lintasan impian, bayang-bayang yang sementara kita raih demi menemukan rasa aman, tetapi terus membelenggu kita dalam kotak-kotak keterasingan. Tetapi sebuah masa depan yang menyakini bahwa mustahil keadilan dan perdamaian ada tanpa persaudaraan dan persatuan, terlebih dalam tantangan universal yang makin tak karuan.

Dan inilah makna sesungguhnya dari kembali pada realitas : bahwa kita berhadapan dengan kompleksitas hidup bersama yang semakin tidak ringan. Bahwa kompleksitas ini tak bisa dihadapi hanya dengan keyakinan, ideologi, atau paham, tidak pula dengan keterpisahan, keterkotakan, dan kecurigaan, tetapi dengan, analisa sosial, praksis kesejarahan, dan solidaritas perjuangan. Bahwa akhirnya, kebencian dan dendam hanyalah sebuah cara lama dari kekuasaan untuk melanggengkan penindasan.