Pengungkapan Fakta 1965 Tanpa Disertai Ancaman


syarikat - Posted on 18 October 2007

SLEMAN, KOMPAS - Sebagai upaya rekonsiliasi mewujudkan perdamaian di Indonesia, masyarakat perlu memberi kesempatan bagi pengungkapan fakta-fakta yang terjadi di seputar tahun 1965. Karena ada berbagai macam fakta di lapangan, pengungkapannya diharapkan dapat dilakukan tanpa disertai ancaman pada kelompok lain yang berbeda pandangan. Hal tersebut menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam diskusi dan bedah buku mengenai nasib dan kisah tragis tahanan politik 1965 bertajuk Menyeberangi Sungai Air Mata karya Antonius Sumarwan SJ di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Sabtu (29/9). Anggota Majelis Syarikat Indonesia M Imam Aziz yang menjadi pembicara dalam diskusi itu mengungkapkan, salah satu upaya mewujudkan rekonsiliasi adalah melalui pengungkapan fakta-fakta di tahun 1965 yang selama ini tidak pernah terungkap.

"Selama ini pengungkapan fakta di seputar tragedi 1965 pada umumnya hanya sekadar mengungkap peristiwanya saja, tanpa menyampaikan secara lebih mendalam latar belakang mengapa peristiwa tersebut terjadi. Siapa saja yang terlibat di dalamnya pun sampai sekarang masih susah diungkapkan," kata Aziz.

Menurut dia, perlu diciptakan forum-forum diskusi yang memungkinkan masyarakat mengungkapkan fakta yang diketahui tanpa adanya intimidasi atau ancaman atas fakta itu. Masyarakat hendaknya tidak menutup mata terhadap adanya fakta-fakta lain dalam satu kasus yang sama. "Rekonsiliasi sendiri pada dasarnya bukan hanya mengungkap fakta, tetapi juga mendamaikan fakta-fakta itu. Mendamaikan fakta dengan mengadu domba harus dibedakan," tutur Aziz. Belenggu

Dosen Ilmu Sosial dan Politik UAJY Bambang K Prihandono menyampaikan, saat ini generasi muda yang ingin membangun peradaban damai dan multikultur tak ingin lagi dibelenggu dengan perdebatan siapa yang salah terkait peristiwa 1965. "Peristiwa 1965 harus dilihat dari perspektif kemanusiaan, bukan sekadar pertentangan ideologi karena baik ideologi kanan maupun kiri sama-sama menelan korban," ujarnya.

Sumarmiyati, salah seorang korban dari peristiwa 1965 juga menyerukan agar masyarakat menghentikan hidup terkotak-kotak berdasarkan ideologi, etnis, golongan, dan lain sebagainya. (DYA)