Ramadhan dan Budaya bangsa


antok - Posted on 08 September 2008

RAMADHAN DAN BUDAYA POLITIK BANGSA INDONESIA

*Oleh: Sapto Raharjanto

Marhaban ya Ramadhan, sudah hampir satu minggu ini seluruh umat Islam di berbagai penjuru dunia melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, termasuk di Negara kita, ada banyak kegiatan peribadatan di bulan yang penuh barokah ini, penulis sendiri ini ingin melihat sebuah sisi lain dari bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, yaitu bagaimana Ramadhan dan budaya politik di Indonesia, sebelum kita masuk lebih dalam untuk memaknai bulan Ramadhan dan budaya politik di Indonesia yang akhirnya banyak menimbulkan krisis multidimensional ini, alangkah baiknya terlebih dahulu kita mendefinisikan makna agama seperti yang dibangun oleh Max Weber yang menurut pengertiannya lebih pada serangkaian jawaban atas koherensi terhadap dilema eksistensi manusia seperti, kelahiran, kematian, sakit, yang membuat umat manusia harus menjawabnya dengan agama. Pengertian ini kemudian berimplikasi pada kepastian umat manusia untuk beragama, sebab umat manusia selalu dihadapkan pada masalah-masalah yang senantiasa eksis, seperti, kematian, kelahiran dan sakit.

Berkaitan dengan definisi di atas, keberadaan agama sebenarnya  merupakan penghubung antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhannya. Agama menjadi alat bagi manusia untuk mencari ketenangan dan ketentraman dikala kesusahan menjadi hantu dalam hidupnya. Karena itulah sejak ribuan tahun yang lalu keberadaan agama telah menopang kehidupan umat manusia, Agama juga telah menjadi kekuatan paling dahsyat yang berpengaruh bagi kehidupan manusia, dan menciptakan komitmen untuk menemukan nilai kasih dan keindahan. Dari sini jelas bahwa manusia memerlukan agama sebagai penopang kehidupan. Tanpa agama manusia akan menjadi absurd tidak jelas menatap hidup. Manusia akan pincang karena kehidupan tidak cukup hanya dengan aturan manusia. Aturan agama sangat relevan mengatur untuk menata kehidupan umat manusia.

Ibadah puasa sendiri apabila kita definisikan akan mengandung makna spiritualitas yang sangat luar biasa nilainya terutama untuk menemukan sebuah nilai kasih dan keindahan. Dalam hal ini ialah bagaimana puasa bisa melatih kepekaan sosial untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang beruntung dan seringkali merasakan lapar dan dahaga di dalam kehidupan mereka yang terbelit oleh kemiskinan dan ketertindasan. Selain hal tersebut melalui puasa Ramadhan kita diharapkan bisa menebar benih perdamaian dan cinta kasih serta menghargai sebuah perbedaan dan bukannya mewarnai perbedaan dengan budaya kekerasan.

Di sisi lain bulan Ramadhan yang penuh berkah ini kita dilatih untuk bisa mengendalikan hawa nafsu, ya hawa nafsu inilah yang pada akhirnya bisa kita uraikan sebagai penyebab dari krisis multidimensional di republik ini, nafsu untuk berkuasa secara membabi buta dan sama sekali tidak mempedulikan nilai amanah ketika berkuasa, sehingga yang ada bukanlah vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara tuhan) tetapi suara uang adalah suara tuhan, selain itu nafsu untuk menumpuk harta ketika berkuasa pada akhirnya melahirkan prilaku korup. Dan budaya ini berlaku mulai dari eksekutif, legislatif sampai yudikatif semuanya berlomba-lomba untuk korupsi ketika berkuasa, dan yang patut untuk kita amati akhir-akhir ini bagaimana setiap momentum baik itu hari besar nasional seperti pada peringatan 100 tahun kebangkitan nasional dan perayaan 63 tahun kemerdekaan Republik Indonesia maupun momentum momentum yang erat hubungannya dengan nilai-nilai ketuhanan seperti bulan Ramadhan ini kerapkali ditunggangi oleh tujuan-tujuan politik untuk berkuasa, penulis sendiri mengamati selama kurang lebih seminggu ini mulai bermunculan iklan-iklan politik dari partai-partai politik, kandidat pemimpin nasional yang banyak mengutip ayat-ayat suci al-qurʼan dan nasihat-nasihat yang menyejukkan hati tetapi sayang beribu sayang ternyata iklan-iklan tersebut masih dibumbui oleh pesan sponsor untuk mencoblos partai maupun tokoh pada moment hajatan politik di tahun 2009 nanti, lalu dimanakah letak nilai-nilai kekhlasan dan lillahita allah dari para calon-calon pemimpin bangsa ini yang selalu membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan politisnya dan kerapkali mengandung unsur pamrih. Agama sendiri ada karena komponen-komponen yang hakiki, seperti ruang dan waktu yang sakral, komunitas dan institusi keagamaan. Komponen-komponen ini merupakan sarana untuk menjaga nilai-nilai kesucian agama. Lalu ketika semua komponen ini menjadi kuda troya politik maka nilai-nilai kesucian agama menjadi ternoda dan agama menjadi kehilangan nilai sakralnya sebagai komponen untuk mengatur pola tatanan kehidupan manusia manakala sarana ini dijadikan tujuan dan alat pembenaran sebuah janji-janji politik yang masih semu.

Ketika penulis menyaksikan berita di televisi mengenai adanya bantuan sembako yang diberikan kepada masyarakat miskin, maka sangat miris bagaimana kita saksikan antrean yang sampai ribuan orang yang terkadang ada banyak ibu-ibu yang terinjak injak, belum lagi bagaimana ibu-ibu berdemo untuk bisa mendapatkan minyak tanah, antrean masyarakat untuk mendapatkan gas LPG yang semakin hari harga LPG tersebut semakin melambung tinggi, lalu apakah ini wajah republik ini yang semakin lama banyak melahirkan OMB (Orang Miskin Baru) dan the lost generation sebagai imbas dari kemiskinan yang melilit rakyat Indonesia sehingga standarisasi gizi untuk anak yang merupakan generasi penerus pembangunan di Indonesia sangat rendah dan marilah kita kembali ke lima, sepuiluh, limabelas dan dua puluh tahun lalu maka kita pasti akan ingat tiap kali menjelang hajatan lima tahunan ini pasti akan muncul politisasi keluhuran nilai agama untuk tujuan kekuasaan, tetapi kenyataannya dalam sepuluh tahun terakhir bangsa Indonesia semakin menjadi bangsa pengemis yang bisa kita definisikan menjadi sebuah pepatah dalm bahasa Inggris From king to beggar dan definisi untuk rakyat Indonesia sendiri menjadi semakin banyak tikus yang mati di lumbung padi.

Akhirnya dalam tulisan ini rakyat Indonesia hanya bisa berpesan bahwa kita butuh agama perdamaian dan marilah kita menghindari politisasi agama. Kita wajib menjaga agama kita agar tetap menjadi sumber perdamaian, ketenangan dan keindahan oleh karena itulah kita harus arif dan bijaksana dalam meyakini agama dan menjauhkan agama dari segala paham yang membuat agama menjadi keluar dari nilai-nilai kesuciannya.

          Mudah-mudahan agama tetap menjadi penopang hidup kita, yang senantiasa mengawal dan memberi jalan menuju hidup yang sebenarnya. Amin.

*Penulis adalah Anggota regio Jawa Timur Masyarakat Santri Untuk Advokasi Rakyat Indonesia (Syarikat Indonesia)
dan  Asisten Peneliti dalam program penelitian Islam dan Politik Ingatan di Indonesia Melbourne University

Alamat: Perumahan Sumber Alam Blok A No 11 Jember Jawa Timur 68121, email: sapto_11@yahoo.com, Tlp: 081336103916