REKONSILIASI, Menepis Stigma lewat Seni


malamini - Posted on 26 August 2008

Oleh: Pipit Ambarmirah

SALAH satu cara yang dapat digunakan untuk rekonsiliasi kultural adalah lewat kesenian rakyat. Selain bisa untuk mengobati trauma juga sebagai ajang melestarikan kesenian rakyat yang hampir dilupakan.
Pada Minggu terakhir Mei 2008, selama 4 hari berturut-turut tanggal 26, 28, 29 dan 30, Kulon Progo, Bantul, Yogyakarta dan Prambanan diadakan road-show ketoprak rakyat yang berjudul “Karto Pokil” dan teater remaja RDJ (“Ra Duwe Jeneng”).

Inti cerita ketopraknya adalah tentang salah satu warga yang dikucilkan oleh masyarakat karena terkena penyakit HIV AIDS. Bagaimana kemudian dia dikucilkan, dihina dan selalui dicurigai di manapun dia melakukan kegiatan karena ia juga pernah dituduh terlibat pergolakan politik masa lalu.

Tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh korban tragedi ‘65. Bahkan tidak tanggung-tanggung, sampai anak cucunya juga menerima stigma yang sama dan mendapatkan perlakuan yang berbeda dari masyarakat serta pemerintah lewat UU yang mendiskriminasikan mereka sampai saat ini.

Untuk korban Tragedi‘65 yang perempuan juga ditambah stigma yang menghancurkan identitasnya sebagai perempuan yang punya hak sama dengan warga lainnya. Kemudian bagaimana tokoh tersebut bertahan dan mencoba menjelaskan kepada masyarakat.

Ketoprak yang naskahnya ditulis Bondan Nusantara, dimainkan oleh para seniman dan seniwati dari Kulon Progo yang tergabung dalam grup “Melati Budoyo” ini dikoordinir oleh Septi Wulandari. Beberapa dari pemainnya adalah keluarga korban Tragedi ‘65. Ada yang anak korban, istri, cucu dari mantan tapol.

Pada awal pementasan, perbedaan kemampuan para pemain yang beberapa memang sering berkecimpung dalam dunia kesenian memang kelihatan. Tapi kemudian pada pementasan-pementasan selanjutnya semua pemain semakin berkembang. Karena setiap selesai pementasan ada evaluasi bersama tentang penampilan yang telah dilakukan.

Selain ketoprak ada teater remaja dengan nama RDJ (“Ra Duwe Jeneng”)  yang juga menceritakan tentang bahaya HIV AIDS, serta bagaimana seharusnya kita memperlakukan mereka. Dengan slogan, “ Jauhi penyebabnya tapi bukan orangnya!”

Aparat desa yang ketempatan pun tidak kalah hangatnya dalam membantu terlaksananya kesenian ketoprak rakyat ini. Demikian pula antusiasme masyarakat saat menonton. Bahkan ketika pementasan terakhir di Prambanan, ada 3 warga yang minta untuk diikutsertakan dalam pentas ketoprak tersebut. Mereka sudah berdandan dari rumah.

Untungnya pemain ketoprak “Melati Budoyo” sudah berpengalaman dalam hal improvisasi setelah 3 kali berturut-turut pentas. Sehingga warga yang ikut merasa senang dan memperoleh porsi cukup. Tantangan terhadap kemampuan para pemain yang mendapatkan tambahan pemain mendadak ini dibuktikan dengan permainan yang tetap memikat dan mengundang gelak tawa penonton.  

Dalam berkesenian, diskriminasi dan jurang perbedaan status sosial relatif mencair.  Mereka bekerja sama, baik antara pemain, panitia lokal maupun penonton. “Meski masih berskala kecil, kami senang bisa berekonsiliasi dengan warga masyarakat,” tutur salah seorang pemain.