REKONSILIASI, RAKA SWASTA, Nasi Sudah Jadi Bubur, Tak Perlu Disesali


syarikat - Posted on 06 Mei 2008

SENIMAN adalah manusia merdeka. Tapi di era Soekarno mereka harus memilih tempat untuk mengekspresikan karyanya. Ada yang ikut Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), ada yang ikut LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) dan ada pula yang masuk Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia).
Celakanya, begitu negeri ini dilanda prahara politik tahun ’65, banyak seniman anggota dan simpatisan Lekra ditangkap dan dipenjara karena dituduh PKI. Padahal  karya-karya mereka begitu bermakna bagi tumbuh suburnya jiwa nasionalisme. Satu di antaranya adalah Raka Suwasta, seniman lukis bali yang dipenjara karena menjadi anggota Lekra. Berikut ini penuturannya kepada RUAS.

Raka Swasta“Saya masuk Lekra karena ingin mengembangkan diri bersama para senior yang sudah  punya nama seperti Jendra, Affandi, Sudjoyono dan beberapa lagi lainnya. Saya juga tidak peduli apakah Lekra itu bagian dari PKI sebab cita-cita total berkesenian,” ujarnya memulai cerita.
Dengan semangat ingin berkembang Raka melukis berbagai penderitaan rakyat dan tuntutan rakyat. Itulah yang coba diungkap lewat karya-karyanya tanpa sedikit pun memiliki rasa permusuhan dengan seniman lain yang tergabung dalam LKN dan  Lesbumi
“Waktu itu kita kumpul sama-sama. Bahkan bikin teater modern dan drama gong bareng. Saya bertugas di bagian dekorasi. Dari sana saya banyak belajar mengenai sastra dan cara main drama,” kata Raka yang sejak tamat SMA (1960) mulai belajar melukis, bikin patung dari tanah liat.
Ketika peristiwa ’65 terjadi Raka Swasta ada di Denpasar. Saat tidur lelap massa datang mengobrak-abrik. Sepeda motor miliknya dibakar. Tiga bulan kemudian (Desember) Raka ditangkap dan dipenjara di Trangiya.
“Tadinya saya khawatir dibunuh. Tapi setelah saya pikir, tidak mungkin saya dibunuh karena merasa tidak punya musuh. Tiap malam ada saja tapol yang diambil tentara dan diserahkan massa untuk dihajar sampai berdarah-darah. Setelah itu baru dikembalikan ke dalam sel,” ujar Raka di rumahnya Studio 2 Banjar Abian Semal yang terletak di Ubud.
            Tahun 1968 Raka dibebaskan. Ia bekerja sebagai penggambar poster di sebuah bioskop. Karena film mulai tidak laku ia pindah kerja jadi pengggambar ramalan plutu (togel) setelah di tahun 1969 menikah dengan perempuan anggota PNI yang bapaknya penggemar sabung ayam.
“Sampai sekarang saya ndak ngerti, mengapa seniman seperti saya dan juga teman-teman lain ditangkap dan dipenjara. Padahal, saya hanya ingin mengembangkan bakat seni yang saya miliki demi kokohnya kebudayaan nasional yang kita miliki. Tapi sudahlah. Nasi sudah jadi bubur. Tak perlu disesali karena kita memang harus berdamai dengan diri sendiri lebih dulu sebelum berdamai dengan orang lain,” tutur Raka mengakhiri kisah hidupnya.  (Roro)