Ruas, Agustus 2008
EDITORIAL
Mencari Makna Baru Kemerdekaan
MERDEKA artinya bebas. Bebas dari penjajahan, bebas mengemukakan pendapat, bebas berkumpul dan berserikat. Semua itu diatur dalam UUD 45. Artinya, negri ini telah sepakat mendasari kehidupan bangsanya dalam bangunan demokrasi.
Ketika Soekarno berkuasa, ia menerapkan konsep Demokrasi Terpimpin. Sebagian lawan politiknya masuk penjara. Tapi tak dipukuli dan dianiaya Keluarganya pun tak disangkut pautkan. Perempuan dan anak-anak tetaplah diberi kebebasan hidup di luar penjara sebagai warga negara biasa.
Lalu ketika rezim Soeharto berkuasa ia menerapkan sebuah konsep demokrasi yang disebutnya sebagai Demokrasi Pancasila – system yang tak lebih sama dengan Soekarno – namun berbeda pengetrapannya. Para Tragedi ’65 misalnya, Soeharto melakukan penangkapan, pemenjaraan, penyiksaan dan pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh terlibat G30S – PKI tanpa melewati proses pengadilan.
Dan kini, dibawah kepemimpinan SBY – JK, peristiwa demi peristiwa terjadi. Kekerasan demi kekerasan terus berjalan, meski dalam skala lebih kecil dibanding Tragedi ’65. Siapa yang salah? Kita yang belum mampu memahami demokrasi, atau karena kepemimpinan yang lemah? Yang jelals, kita belum mampu menyiptakan sistem pemerintahan dan pemahaman demokrasi secara benar.
Akibatnya, baragam politisasi terjadi di berbagai bidang. Pemaksaan atas kebenaran tunggal merebak bagai jamur di musim hujan. Berbagai cara dan jalur digunakan untuk menyampaikan “kebenaran tunggal” yang bersifat absolut. Di sisi lain, lemahnya kepemimpinan, kepedulian, dan tanggung jawab moral para pengambil kebijakan telah menjadikan negri ini dilanda berbagai persoalan yang tak kunjung selesai. Mulai dari persoalan ekonomi, politik, sosial dan budaya.
Itukah wajah kemerdekaan kita?
Ataukah kita belum benar-benar merdeka?
Jangan-jangan, kita yang konon menyebut diri sebagai negara dan bangsa merdeka ini justru sedang ingin memenjarakan perbedaan antar sesama bangsa hanya karena berbeda sikap, pandangan, tindakan dan keyakinannya?
Akankah kita berseteru terus dalam situasi ini sehingga tak sempat berfikir jernih bahwa kekayaan alam sedang dirusak dan terkuras habis oleh kekuatan jahat yang bernama kaum pemodal?
Rupanya, di tengah hiruk pikuk perayaan kemerdekaan ini, kita dituntut untuk jernih berfikir dan bersikap tegas, bagaimana seharusnya kita memaknai kemerdekaan ini demi kemaslahatan bangsa dan negri. Pembodohan, kemiskinan, pemenjaraan kebebasan berfikir, berkumpul, berserikat dan berkeyakinan haruslah menjadi modal utama bagi kesejahteraan negri.
Mudah-mudahan! (BN)

