Wawancara, Benahi Budaya, Hapus Kekerasan, Anarki Dan Korupsi


syarikat - Posted on 06 Mei 2008

BERKALI-KALI ganti pemerintahan namun bangsa kita tetap terpuruk. Krisis  ekonomi yang berkepanjangan, anarkisme yang merajela, politisasi agama dan konflik kepentingan terus saja terjadi. Kenapa? Karena kita lebih menghargai budaya asing dibanding budaya sendiri. Akibatnya, terjadilah apa yang disebut sebagai krisis kebudayaan sebagaimana diungkap wawancara RUAS dengan KH. Maftuh Kholil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Bandung.

            Bagaimana  tanggapan Kyai tentang kebudayaan kita?
Suatu bangsa dinilai dari budayanya, karakternya dan akhlaknya. Jika akhlak merosot bangsa pun akan binasa. Pada titik inilah pentingnya budaya dikedepankan. Apalagi budaya kita sudah cukup bagus karena bisa mempersatukan semua komponen  dari berbagai aliran sebagaimana tertuang dalam Bhineka Tunggal Ika. Kalau sampai bangsa ini terkotak-kotak, kebinasaan dan kehancuran akan terjadi karena kita sedang mengalami krisis kebudayaan.

Faktor penyebabnya?
            Banyak. Terutama maraknya  budaya global. Salah satunya adalah budaya konsumtif yang menjadi salah satu penyebab korupsi berkembang pesat. Dengan kebutuhan yang makin banyak, sementara pemasukkan tidak menyukupi akhirnya mereka melakukan hal-hal yang batil dan haram. Di sisi lain, budaya kita makin terpinggir dan terkotak-kotak tanpa ada mau peduli.

Apa yang bisa dilakukan?
Pertama, kita harus qona’ah tapi bukan berarti nrimo melainkan berusaha maksimal mencapai cita-cita dengan jalan halal. Gunakan materi secermat mungkin sebagaimana pepatah hemat pangkal kaya.  Kedua, pemerintah harus bertindak tegas. Penegakan hukum harus benar-benar dijalankan. Sebenarnya, DPR cukup produktif  menghasilkan regulasi tapi implementasinya tidak ada.

Contoh konkritnya?
Ketika Soeharto sakit, Ketua DPR malah minta penguasa Orde Baru itu dimaafkan. Padahal salah tidaknya menurut institusi kita kan diputus di pengadilan. Kalau memang dia dinyatakan bersalah, baru dimaafkan. Lha kalau sekarang pak Harto dimaafkan nanti para kroninya juga diberi maaf. Memang, Soeharto juga punya jasa bagi negeri ini. Tapi hukum harus ditegakkan. Saya berharap, tahun 2009 nanti kita punya pemimpin yang berani bertindak tegas di bidang hukum dan peduli pada penguatan budaya kita.

Langkah yang paling tepat?
Ya seperti yang saya bilang tadi. Kita harus secepatnya membenahi budaya bangsa. Perkuat fondasinya. Para birokrat, pejabat publik, institusi pendidikan, agamawan dan seluruh warga negara harus bersinergi untuk penguatan kebudayaan kita agar tindak korupsi, anarkhi dan segala bentuk kekerasan termasuk penghilangan nyawa orang tanpa diadili tidak lagi terjadi. (Hartie)