WAWANCARA, Kita Belum MERDEKA 100% !


malamini - Posted on 26 August 2008

Tindakan kriminal dan kekerasan yang  terjadi di Indonesia belakangan ini tidak hanya disebabkan oleh perbedaan dalam memahami ajaran agama, namun juga kurang bisa mengerti makna demokrasi HAM dan paham kebangsaan.

Hal itu memunculkan tanggapan dari berbagai kalangan, diantaranya Mbah Karyadi Marto Diyono (77 th), salah satu pendiri dan pengurus LPRKROB Kab. Gunungkidul, mantan staf Dinas Penerangan Kab. Gunungkidul dan mantan Ketua I Com DPRGR Kecamatan Nglipa. Berikut ini wawancara Irham & Ikhsan dari RUAS yang disajikan kepada pembaca.

 

Mengapa kekerasan terus terjadi?
Sebenarnya peristiwa Monas ada benarnya dan ada salahnya. Benarnya, mereka (FPI) menuntut ketegasan pemerintah atas kasus Ahmmadiyah dengan mengulur waktu dikeluarkannya SKB tiga Menteri. Salahnya, kenapa harus ada kekerasan ? Pemerintah dalam hal ini aparat tidak cepat ambil tindakan.

Apa yang seharusnya dilakukan ?
Pemerintah atau Aparat harus cepat menindak orang-orang yang bersalah melakukan kekerasan berdasar hukum. Meski kadang tindakan kekerasan justru dilakukan aparat hingga kita takut mengungkap kebenaran yang ditutupi selama ini

Berarti kita belum merdeka ?
Secara fisik kita sudah merdeka sejak 1945, tapi belum bisa dikatakan 100%. Kemerdekaan itu masyarakatnya bebas tapi terbatas (terpimpin), termasuk demo tidak boleh ada kekerasan, apalagi korban jiwa.
                        
Kenapa belum merdeka 100% ?
Rakyat belum bisa mengenyam hasil kemerdekaan. Contohnya, Zaman penjajahan, walaupun terjajah, pajak tidak diatur oleh undang-undang, sekarang ini diatur undang-undang. Rakyat ditekan dan dibebani pajak, tiap punya apa saja harus ada pajak. Beli motor seharga 15 juta, tiap tahun harus bayar pajak, jangka berapa puluh tahun pajak yang dibayarkan bisa lebih tinggi dari harga beli.

Contoh lain ?
Tambang-tambang di Indonesia di kontrak asing, rakyat dapat apa ? Indonesia punya tambang minyak, di negri sendiri kok harganya mahal, karena yang menentukan harga orang asing. Di Irian ada tambang emas, tapi lebih banyak dibawa ke luar negeri,  disalurkan lewat terowongan bawah tanah hingga tidak sembarang orang tahu.

Apa yang dialami  masyarakat sekarang ?
Masyarakat kehilangan arah, kemana-mana salah. Seperti dalam Pemilu, mereka tidak bisa membedakan orang yang jujur/baik dan tidak. Banyak yang berpikir pendek, yang penting dapat uang. Mencari pemimpin yang jujur dan baik sangat susah, biasanya orang yang jujur tidak mau masuk politik dan pemerintahan. Jika ada malah diogrok-ogrok seperti Gus Dur waktu jadi presiden dulu.

Apa harapan Bapak ?
Masyarakat harus sadar, harus bersatu, menunggalkan tekad untuk menegakkan kemerdekaan 100%, dengan cara menegakkan hukum dan menghindari tindak kekerasan dan diskriminasi.