WAWANCARA, Prawiro Teguh (ketua ranting Gerwani) Korban perempuan tragedi 65/66 ”Yang Penting Kebutuhan Hidup Terpenuhi....”
Prawiro Teguh (ketua ranting Gerwani)
Korban perempuan tragedi 65/66
”Yang Penting Kebutuhan Hidup Terpenuhi....”
Inilah sepenggal harapan mbah Teguh, demikian Beliau biasa dipanggil, saat komparasi bertandang kerumahnya beberapa waktu yang lalu di daerah Kotagedhe untuk silahturahmi dan berbagi pengalaman hidupnya. Di tengah himpitan ekonomi dan statusnya sebagai ekstapol-yang kita ketahui bersama demikian lekat dengan diskriminasi-Beliau tetap aktif berproduksi kue, satu-satunya pekerjaan yang masih ditekuninya sampai sekarang. Bahkan ketika usia Beliau yang telah lanjut, semangat itu tak jua luntur ditelan jaman. Berbeda dengan banyak tapol yang lain, mbah Teguh tidak menerima pengucilan yang berarti dari masyarakat tempat tinggalnya begitu dinyatakan bebas dari penjara. Beliau dengan mudah berbaur dan terintegrasi secara mendalam dalam masyarakat. Bahkan Beliau menjadi pelopor sebuah kelompok usaha bersama kue kembang waru.
Berikut penuturan Beliau selengkapnya :
Apa usaha yang bude geluti sebelum peristiwa 65/66 ?
Dulu saya pedagang Ceret mbak, sama suami saya. Lumayan besar usahanya sampai saya punya karyawan dan bakul-bakul di pasar. Laris banget, karena dulu belum banyak saingannya. Begitu peristiwa (ditangkap, red) ya jadi mandeg karena saya dan suami saya ditahan semua.
Berapa lama Bude ditahan ?
Berapa lama yaa.. dari tahun 1965 sampai kira-kira tahun 1979, ya 14 tahunan. Saya buka pintu sama nutup pintu
Setelah dibebaskan, apa yang bude lakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ?
Yo jual-jual gorengan disekolah-sekolah dan makanan macem-macem di pasar. Yaa apa saja to mbak yang bisa menghasilkan. Soalnya usaha Ceret sudah tidak laku lagi.
Sejak kapan usaha roti ini bude geluti ?
Sebenarnya udah lama, sebelum peristiwa 65 saya dan tetangga sini sudah mulai membuat roti. Tapi tidak mesti. Kadang hanya kalau ada acara atau ewuh-ewuh kita bikinnya. Kadang malah setaun sekali. Cuma jadi sampingan thok.
Tetangga ?
Iya, usaha roti ini usaha bersama. Disini ada kelompok usaha bersama. Tapi nggak hanya roti kembang waru saja, macem-macem jenisnya, ada donat, jenang (bubur), pokoke jajanan pasar sing macem-macem kae. Anggotanya sekitar 30 orang. Malah pernah dapat bantuan dari pemerintah. Yaa bantuan modal, yaa bantuan alat-alat produksi. Jadi usaha bersama ini dibina oleh pemerintah. Dikasi tata cara masak sehat, dikasi baju khusus masak, mulai dari kerudungnya, bajunya, malah disuruh inget-inget jangan lupa wijik (cuci tangan), ga boleh dikitek kukunya, ga boleh pake mas-masan tangannya, intine masak sehatlah. Opo meneh sejak gempa, di tinjau rumahnya dan dikasi bantuan.
Mendapat diskriminasi dari pemerintah mboten terkait status bude yang ekstapol ?
Ndak, ndak ada diskriminasi dari pemerintah, lancar-lancar wae. Entah karena memang ga ada diskriminasi atau karena ndak konangan (ketahuan) hehehe, soalnya terdaftarnya secara kelompok bukan perorangan. Tapi menurut saya, ndak ngurusi status tapol lagi. Kecuali masalah apel tiap bulan, itu wajib.
Siapa yang pertama kali memulai usaha roti ini ?
Saya. Dulu saya belajar dari pembuat roti yang diundang saat bapak saya khitanan anaknya. Kebetulan disuruh bantuin, ee malah sekalian sekolah nggawe roti. Setelah itu ngajari ibu-ibu yang disini, terus muncul ide buat roti sendiri kalo ada acara-acara khitanan atau ewuh2 di kampung. Akhirnya membentuk usaha bersama ini. Kalo dulu hanya sampingan sekarang jadi usaha pokok. Setiap minggu pasti ada pesenan. Kalo pesenannya banyak, dan tenaga saya ga mampu, ya dioper ke ibu-ibu yang lain untuk nggenepi.
Apa harapan Bude dengan kondisi usaha bude sekarang dan kepada pemerintah ?
Yah, sing penting laris, bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari anak-cucu. Itu udah cukup mbak, mas.
Status sebagai ekstapol tak seharusnya membelenggu kehidupan kita. Semangat dan usaha mbah Teguh diatas dapat kita jadikan contoh. Ditengah diskriminasi structural yang terus berjalan, dengan kewajiban apel tiap bulan layaknya tahanan runmah, tak menyurutkan usaha Beliau berjuang dalam hidupnya. Walaupun kecil, tapi terus berproduksi dan memulai usaha ekonomi, akan membangun kreativitas kita bahkan sampai ke anak-cucu kita nanti. (anant)
