WAWANCARA, Segala Perbedaan Hendaknya Diselesaikan lewat Dialog


syarikat - Posted on 06 Mei 2008

Munculnya berbagai aliran yang difatwakan oleh MUI sebagai “aliran sesat”  dirasakan sebagian umat Islam sebagai keresahan yang dianggap memecah umat. Sejauh ini kemunculan berbagai aliran yang berbeda dengan agama arus utama telah memicu konflik yang berujung pada pengrusakan dan kekerasan. Gejala ini  disinyalir akibat ketidak-pahaman umat akan keyakinan yang dipahaminya. Berikut wawancara RUAS dengan Haryadi MA dosen pada fakultas FISIP Universitas Jenderal Sudirman (UNSOED) Purwokerto terkait dengan kemunculan aliran-aliran yang dikenal sebagai aliran sempalan dan sesat

 

Di Indonesia tengah marak berbagai aliran agama. Menurut Anda fenomena apa yang sesungguhnya sedang terjadi?

 
Sebetulnya berkembgnya aliran2 dalam agama Islam sudah terjadi sejak lama. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di banyak negara. Penyebab utamanya adalah karena munculnya puasana terhadap aliran  arus utama yg cenderung melakukan penyeragamana kepada para pemeluknya tanpa mempertimbangnkan  kondisi2 yg sifatnya spesifik yang terkait dengan lokalitas atau aspek aslinnya. Artinya aliran-aliran arus utama itu diharapkan bisa memberi jawaban terhadap para pemeluknya. Kalau di Indonesia ya NU dan  Muhammadiyah. Akibatnya mereka mencari jawaban di luar jawaban yang disediakan agama (aliran utama0

Ada yang lain?

Persoalan ini juga terkait terkait dg gelombang politik identitas yang mulai muncul ke permukaan di tahun 80-an yang memperjuangkan kepentingan dan aspirasi yg spesifik dari komunitas-komunitas  tertentu, entah yang berlabel agama, etnik atau berlabel apa pun. Mungkin kasus ini merupakan kebangkitan dari kebangkitan identitas. Dua hal tadi untuk Indonesia mungkin cenderung yang pertama, kalau kedua itu terkait dg muatan globalisasi. kalau yg pertama sebetulnya umat Islam harus berefleksi merenungkan kembali apa yang salah dg pemahaman agama yg selama ini berkembang

Bagaimana itu bisa terjadi?

Karena ada masalah internal di kalangan  umat. Aliaran-aliran arus utama tidak bisa memberi jawaban pada kebutuhan spesifik yg barangkali berbeda untuk tiap komunitas karena ada kecendrungan aliran arus utama tidak memberikan ruang penafsiran lain di kalangan para pemeluknya sehingga mereka mengharuskan para pemeluknya untuk taat terhadap apa yang mereka katakan, padahal mereka tidak mampu memberi jawaban memuaskan bagi para pemeluknya. Karena ketidak puasan ini mereka mencari jawaban sendiri  dan salah satu ekspresi dari usaha untuk mencari jawaban sendiri ya lewat aliran itu.

Ada tidak keterkaitan atara ketidak-puasan umat dengan doktrin agama?

Mungkin. Hal ini terkait dengan indoktrinasi yang dilakukan oleh aliran arus utama sehingga tidak memberi kebebasan berpikir penganutnya, sehingga mereka mencari jawab di tempat lain. Munculnya aliran-aliran baru ini sesungguhnya bukan hal baru. Sejak dulu juga sudah terjadi. Misalnya saja aliran di suku Kajang.

Bisa dijelaskan interaksi agama dengan lokalitas?

Yang jelas agama itu intinya ajaran Tuhan. Tapi ekspresinya adalah kemanusiaan. Ini yang mungkin kurang dipahami pengikutnya. Bahasa Arab itu menunjukkan interaksi antara agama degan lokalitas karena ketika Al Quran di Arab yang berbahasa Arab. Andaikata di Jawa, ya mungkin saja berbahasa Jawa.

Kenapa terjadi konflik?

Sebenarnya, apakah konflik itu berbahaya, saya kira tergantung bagaimana kita melakukan managemen konflik tadi. Sebab konflik bisa berakibat negatif dan positif, tergantung bagaimana kita memaknainya. Tapi akan lebih baik kalau konflik yang berkaitan dengan agama ini diselesaikan dengan cara dialog.

Tapi faktanya, kekerasan jadi lebih dominan.

Ada beberapa. Pertama, pembangunan karakter bangsa belum selesai. Kedua, landasan berbanagsa dan bernegara kita belum jelas. Mau negara agama atau sekuler.

Adakah hubungan tindak kekerasan yang bersumber dari konflik agama ini dengan Tragedi ’65, ketika yang berbeda harus dihabisi?

Tadinya, Pancasila dinilai sebagai idiologi yang bisa mengikat. Ada nasionalis, agama dan komunis. Tapi komunis tidak diartikan atheis tapi komunis sebagai idiologi. Tapi kemudian, Pancasila dijadikan jargon ideologi yang berada di atas ideologi lain, sehingga yang menang merasa mempunyai hak untuk mengalahkan dan menghabisi yang lain.
(Ella).