Yang Berpulang Tak Bisa Pulang

Namun, keterlibatannya dalam dua organisasi yang sangat berpengaruh di masa
Orde Lama itu menimbulkan sejumlah tanda tanya, untuk tidak mengatakannya kontroversial.
Pasalnya, bagaimana mungkin seorang pengarang individualis dan cenderung antisosial
dalam keseharian dan karya-karyanya, kok bisa menjadi anggota organisasi kebudayaan
dan partai yang berhaluan komunis?

Apakah ia seorang komunis? Bagaimana ia menyelaraskan antara garis partai dengan
kebebasan kreatifnya sebagai pengarang?

Kini, Utuy memang tak mungkin lagi memberikan tanggapan terhadap pertanyaan-pertanyaan
semacam itu, sebab ia telah berpulang di Moskow, Uni Soviet, 17 September 1979,
sebagai orang di pengasingan yang-karena sikap politik pemerintah Orde Baru-tak
bisa pulang ke Tanah Air, meski hanya mayatnya. Beruntunglah kita, ia meninggalkan
warisan berupa sejumlah catatan penting, yang sedikit banyak membantu kita dalam
mencari jawaban atau mengenali kembali salah satu sastrawan Angkatan '45 yang
terpenting ini.



***

BUKU ini memuat sejumlah catatan biografis Utuy yang memadai untuk mengenal
kehidupannya sebelum dan selama menjadi orang di pengasingan, meskipun tidak
disusun secara kronologis sistematis. Awalnya, ia punya dua memoar yang berdiri
sendiri, Kenang-kenangan dan Renungan dan Di Bawah Langit Tak Berbintang. Namun,
Ajip Rosidi, sastrawan yang menyusun dan mengantar buku ini, menggabungkannya
dan memberikan judul seperti judul memoar kedua, dan membaginya menjadi dua
bagian.

Bagian Pertama, memuat tiga tulisan Utuy, yaitu Mengapa Mengarang, Haru yang
tak Kunjung Kering, dan What Is In A Name, yang semua melukiskan pengalamannya
di Indonesia. Tiga tulisan ini saling kait.

Tulisan pertama melukiskan pengalaman pertama Utuy menjadi pengarang (lantaran
jatuh hati pada gadis tetangganya) hingga ia pindah ke Bandung dan menyelesaikan
dua novel Sundanya, Mahala Bapa dan Tambera.

Tulisan kedua, mengisahkan pengalaman Utuy di Bandung, terutama perkenalannya
dengan seorang pedagang kopi sekaligus pelacur bernama Onih. Hubungan cinta
yang tak sampai ini begitu membekas dalam jiwa Utuy-semacam haru yang tak kunjung
kering, katanya-dan menjadi bahan yang berharga untuk karya-karya Utuy selanjutnya.
Karakter serupa Onih muncul dalam sejumlah dramanya, seperti Bunga Rumah Makan
dan Awal dan Mira.

Tulisan ketiga, mengisahkan mulai naiknya karir Utuy sebagai pengarang. Pada
masa ini ia mulai diundang ke konferensi kebudayaan di Jakarta, ia merevisi
dan mengalihbahasakan Tambera ke dalam bahasa Indonesia, ia sibuk di Poetera
(Poesat Tenaga Rakjat) cabang Bandung dan berkenalan dengan Aidit (yang kelak
menjadi Ketua CC PKI), menjadi anggota Lekra dan kemudian PKI, sampai ia mendapatkan
tawaran dari Aidit untuk berobat ke Cina.

Bagian Kedua, Di Bawah Langit Tak Berbintang merupakan tulisan mengenai kehidupan
Utuy dan delegasi Indonesia lainnya sebagai warga di pengasingan, di Cina. Dengan
paparan yang sangat hidup ia menggambarkan pengalamannya, lengkap dengan detail-detailnya,
rasa frustrasinya menghadapi realitas yang menekan, pertentangannya dengan pemimpin
delegasi Indonesia dan orang Indonesia lainnya, hingga percintaannya dengan
Sutinah, perempuan aktivis PKI yang mengantar suaminya berobat ke Cina.

Apa yang dialami Utuy saat itu merupakan gambaran umum nasib orang Indonesia
yang berada di Cina. Setelah pemberontakan PKI gagal semua orang Indonesia dikumpulkan
oleh pemerintah setempat, ditempatkan di kamp bernama Cengkareng dan setiap
hari diwajibkan melakukan otokritik terhadap kesalahan para pemimpin PKI karena
pemberontakan mereka gagal dan mempelajari pemikiran-pemikiran Mao Zhedong dalam
usaha mencari jalan keluar. Hidup dalam kamp itu, tentu saja, teramat menekan
mereka sehingga menimbulkan akibat buruk, seperti demoralisasi dan gila.

Di sinilah tampak bagi kita sikap Utuy yang sebenarnya. Seorang pengarang yang
amat individualis dalam keseharian dan karya-karyanya harus mengalami penaklukan
ideologis kolektif. Indoktrinasi pikiran-pikiran Mao Zhedong yang harus diikuti
oleh delegasi Indonesia, bagi Utuy, tak ubahnya penjajahan dalam bentuknya yang
lain. Mereka yang membeo tentang ajaran Mao tak ubahnya Don Kisot.

"Bagi saya, yang namanya belajar itu ialah mempelajari manusia. Mempelajari
manusia, termasuk diri saya sendiri, untuk ditulis menjadi buku. Tapi, yang
dipelajari orang-orang di sini justru sebaliknya. Mereka membaca buku untuk
mendapatkan petunjuk tentang apa itu manusia, tentang apa itu kesalahan Aidit,
kesalahan Nyoto dan sebagainya, yang notabene sekarang sudah pada mati. Begitulah
yang saya dengar tadi di dalam diskusi. Dengan mengemukakan dalil-dalil Mao
Cetung, mereka mengatakan bahwa PKI itu remo, bahwa pimpinannya memborjuiskan
diri. Yang jelas bagi saya, semua yang berbicara di regu saya tadi itu adalah
semacam pahlawan Don Kisot". (hlm. 95).

Kondisi yang terus menekan, perpecahan antardelegasi Indonesia, penyakit yang
tak kunjung sembuh, membuat Utuy kian frustrasi. Hal ini pula yang memicunya
ia pergi ke Belanda untuk tujuan berobat. Namun, dalam perjalanan ke Belanda
ia singgah di Moskow dan mendapatkan sambutan hangat (meski hanya pada awalnya
saja) dari orang Indonesia dan pemerintah Soviet. Maka, ia mengurungkan perjalanannya
ke Belanda.



***

SAYANGNYA Utuy tak meninggalkan catatan biografis tentang kehidupannya selama
di Moskow. Ini pula yang membuat kumpulan tulisan ini seperti mengalami jalan
buntu. Pembaca tidak bisa mengetahui bagaimana kehidupan pengarang ini hingga
akhir hayatnya di Negeri Beruang Merah.

Rasanya, perlu ada penulis yang dengan tekun menuliskan biografi Utuy yang
lengkap dan objektif, atau pengarang Indonesia lainnya dalam berbagai bentuk,
seperti Irving Stone menuliskan Vincent van Gogh, Peter Levi menuliskan Boris
Pasternak, dan Sjumandjaja menuliskan Chairil Anwar.

Namun, sebagus apa pun sebuah biografi seorang pengarang tidak akan bisa menambah
apresiasi penikmat sastra terhadap karya pengarang itu-kecuali dengan membaca
atau menggaulinya langsung. Biografi pengarang menjadi penting ketika kita ingin
mendapatkan gambaran yang lengkap tentang seorang pengarang, terutama episode-episode
penting hidupnya yang menjadi latar historis karya-karyanya.

Memoar Utuy ini bukan hanya akan melengkapi bagian-bagian yang hilang dalam
sastra Indonesia akibat kebijakan pemerintah yang memberangus karya-karya pengarang
Lekra dan yang dituduh bersangkut paut dengan G30S/ PKI, tetapi juga memberikan
kepada kita satu pelajaran akan kearifan dalam menilai seseorang. Segala stigma
dengan berbagai alasan dapat diberikan oleh setiap rezim yang berkuasa, tetapi
citra manusia yang sejati hanya ada pada sosok manusia itu sendiri.

Kekurangan dari memoar semacam ini adalah ia tidak bisa menghindarkan diri
dari subjektivitas penulisnya sebagai "orang pertama", pusat cerita,
dalam membuka peluang untuk menceritakan bagian-bagian yang membaguskan atau
menguntungkan sang pengarang, dan membuang bagian-bagian yang menjelaskan atau
merugikan dirinya.

Ia baru akan menjadi lain kalau si pengarang itu memiliki keberanian untuk
menelanjangi dirinya (jiwa dan raganya) di hadapan pembaca. Namun, ini membutuhkan
se-macam moral yang bukan hanya berani menertawakan kebodohan orang lain tetapi
kebodohan si "aku", pusat cerita. Siapa berani?

Nur Zain Hae Penyair