Yang Muda Yang Dipercaya


syarikat - Posted on 26 Mei 2008

liaa

Yang Muda Yang Dipercaya

Rasa haru dan bangga, melihat para remaja berkumpul bicara tentang kekerasan. Remaja, satu kategori baru yang dibuat oleh disiplin psikologi untuk menandai usia manusia yang “tidak lagi anak-anak” namun juga “belum dewasa”. Oleh dunia industri, mereka sering ditempatkan sebagai “segmen” alias pasar, baik industri perbukuan, sinetron, mode, dll. Mereka adalah sasaran empuk. Menghadiri acara “Anak Muda dan Persepsi tentang Kekerasan” yang diadakan oleh Syarikat dan Kampung Halaman, 24 Mei 2008 di Jogja Student Center, bukanlah melihat remaja sebagai obyek. Mereka adalah subyek. Mereka membuat film berjudul “Bi You Yi Sheng (Masih Ada Jalan untuk Hidup)”, memutar, dan mendisukusikannya. Film ini dibuat oleh 3 orang pelajar SMA di Bandung. Lia, salah satu pembuat film itu hadir sebagai pembicara. Film dokumenter yang menceritakan kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Bandung itu didekati secara khas ala anak muda, bernuansa penuh curiosity tanpa menggurui.

Mempelajari sejarah etnis Tionghoa adalah melihat keterulangan derita kekerasan, sejak zaman kolonial, tahun 60-an dan hadir kembali tahun 1998. Tragedi pilu itu tidak ditemui dalam buku pelajaran sekolah. Didampingi oleh Syarikat, mereka bertiga lantas melacak kesejarahan Tionghoa melalui wawancara korban, pendapat pakar, dan komentar awam. Yang menarik dari film itu, ditayangkan salah seorang narasumber yang menutup lensa kamera sepanjang wawancara. Baginya, peristiwa itu “tidak perlu diceritakan ke anak-anak”. Ia berusaha menguburnya dalam-dalam, traumatisme yang dialaminya membuatnya takut untuk mengungkap.

Kesulitan semacam itu bisa dipahami. Tidak mudah mengharap korban kekerasan untuk bercerita, demikian ungkap Romo Sandyawan pendamping korban kekerasan seksual pada kerusuhan Mei 1998 (Kompas, 24 Mei 2008). Suatu langkah maju  pemerintah melalui Menteri Meutia Farida Hatta menyerahkan data korban kekerasan ke Jaksa Agung. Harus dilanjutkan untuk memikirkan ulang bagaimana aturan hukum produk “politik substantif-nya”, yakni moral dan keadilan. Tentang barang bukti misalnya. Film di atas tidak menyajikan pikiran ke arah hukum. Pesan eksplisit yang meluncur dari mulut gadis berjilbab pembuat film di atas adalah, Indonesia adalah bangsa yang beragam. Kita rayakan keragaman itu. Jangan ada diskriminasi terhadap kelompok lain. Mereka adalah saudara kita yang menginginkan “hidup mati di Indonesia, sebab mereka adalah warga Indonesia”.

Banyak hal menarik muncul ketika mereka diajak berpikir tantang apa yang terlintas ketika mendengar kata “kekerasan”. Mereka mengubungkan dengan “perempuan”, “fisik dan psikologis”, “sakit”, “traumatis”, bahkan salah satu pelajar yang hadir mengatakan: “UAN!”. Bagi dia yang pelajar STM, dua tahun belajar teori dan praktik yang memberinya ketrampilan teknis teranulir ketika ia masuk kelas tiga. Satu tahun terakhir itu dihabiskan mempelajari bahan-bahan ujian akhir nasional. Belum lagi bila dilanjutkan dengan menyuntuki soal-soal SPMB atau masuk ke PT. Baginya, inilah kekerasan! Persoalan UAN bukanlah gejala parsial. Banyak siswa merasa stres saat menghadapinya. Ditambah lagi ketika dihadapkan pada persoalan tiadanya biaya pendidikan. Tema kekerasan dalam perbincangan santai malam itu ternyata memiliki dimensi luas.
Keluarga yang telah berusaha menciptakan iklim toleran, demikian juga lingkungan sekitar, harus hati-hati dengan anaknya. Bisa jadi mereka mendapat perlakuan kekerasan dari sekolah. Mungkin bukan oleh sesama kawan atau guru dalam hubungan personalnya, namun sistem pendidikan yang mengancam!

Pengalaman membuat film itu bagi mereka adalah suatu caessura yang menandai kesadaran kritis dan keinginan kuat mendalami sejarah bangsanya, demikian jelas Rumekso Setyadi, sang produser. Mereka yang awalnya tidak cukup akrab dengan orang di lingkungan sekitar akhirnya menjadi karib, bahkan tahu bahwa tetangga Tionghoa itu adalah korban. Melalui pengalaman terlibat dan mencoba berbagai metode baru (teknologi audio-visual) sejarah dapat lebih optimal difahamkan. Lembaga Swadaya Masyarakat telah berupaya menyisir mulai dari pinggir hingga ke ruang-ruang formal untuk mengajarkan pentingnya memahami masa lalu. Gayung ini harus disambut oleh lembaga sekolah dan perguruan tinggi. Mereka harus saling mendekat. Demi pengetahuan yang lebih luas, demi bangsa agar tidak mengalami amnesia sejarah, ego masing-masing lembaga harus dihilangkan.

Di gedung pinggiran sungai pada malam Minggu itu, para remaja telah menunjukkan sikap kritis dan prestasinya. Remaja yang tidak hanya berpikir tentang kehidupan eksklusifnya, tetapi go beyond terhadap persoalan bangsa. Imajinasi mereka meluas, mengingatkan kembali pada sosok pemuda zaman Sukarni dan Sayuti Melik atau TRIP usia belasan tahun. Meyakinkan kembali akan kekuatan jaringan dan imajinasi yang dimiliknya. Mereka mampu bila diberi kepercayaan dan kesempatan itu. Merekalah, yang muda yang dipercaya!

Ahmad Nashih Luthfi
Penulis lepas, tinggal di Yogyakarta