Ruas, Februari 2008
EDITORIAL
Membangun Watak Bangsa
Lewat Gerakan Budaya
MENGELOLA masa depan yang baik tak akan pernah berhasil tanpa kita mampu menengok dan mengelola masa lalu dengan baik pula. Padahal sesungguhnya, dinamika sejarah masa lalu yang terjadi di negeri ini dapat menjadi cermin sekaligus piranti pembelajaran untuk menapak ke masa depan yang lebih baik.
Kita sama-sama tahu. Ketika pemerintahan Soekarno menerapkan slogan “politik sebagai panglima” (tahun 1950 hingga 65) maka yang terjadi adalah pembantaian massal yang biasa kita sebut sebagai Tragedi Kemanusiaan ’65. Ratusan ribu, bahkan jutaan warga – sesama bangsa – saling bunuh dan saling tikam demi kepentingan “politik atas nama” yang diwakili oleh mereka yang memenangkan pertarungan kekuasaan pada saat itu.
Munculnya pemerintah Orde Baru dengan slogan utamanya “politik no, pembangunan yes” ternyata pula tak menjamin bangsa dan negeri ini bertambah baik. Meski pada awalnya terlihat “gemah ripah kerta raharja” (segalanya serba tersedia dan murah), tapi pada akhirnya pembangunan yang berorientasi pada ekonomi semata ini menunjukkan wajah aslinya. Hutang luar negeri semakin menumpuk, krisis ekonomi terjadi begitu dahsyat, KKN merebak tak terkendali. Inilah hasil yang dipetik ketika ekonomi diletakkan sebagai panglima.
Maka, menjadi tidak aneh pula ketika krisis melanda, jutaan mahasiswa turun ke jalan melakukan tuntutan reformasi atas pemerintahan Orde Baru yang berakibat lengsernya Soeharto. Meski tetap saja ada korban jiwa – baik melalui penculikan dan penyiksaan serta penembakan – namun reformasi terjadi juga.
Persoalannya kemudian, reformasi yang diharapkan menjadi obat mujarab bagi negeri ini hasilnya tetap saja nihil. Berbagai biaya hidup toh tetap mahal. Mulai dari biaya sekolah, biaya rumah sakit, harga barang sampai pada kebutuhan lapangan pekerjaan tetap saja sulit dijangkau oleh kaum miskin. Korupsi justru dilakukan dengan cara berjamaah.
Ironis memang. Disaat kita mengaku diri sebagai manusia modern yang berfikiran maju, disaat yang sama pula kita menyaksikan berbagai tindak anarkhis, main hakim sendiri dan tindakan brutal hampir setiap waktu dapat ditemui di berbagai media, belum perilaku para pengambil kebijakan yang cenderung mengutamakan kepentingan diri dan kelompoknya katimbang berfikir dan bertindak untuk menyejahterakan rakyatnya.
Sebuah kesimpulan sementara menyebut; kita sedang dilanda krisis kebudayaan, sebab kebudayaan bukan hanya kesenian tapi menyangkut sikap, pola pikir dan perilaku tapi juga erat berkaitan dengan masalah moral yang di dalamnya terkandung tiga faktor penting yakni: keadilan, kemanusiaan dan spiritualitas. (Bond)


Komentar
legal y me horario se N10-004
legal y me horario se N10-004 exam fijo de 9-4. Ahora dicen que tengo que quedarme a comer porq mi jornada excede de 6 hrs y por tanto mi horario seria de 70-647 exam 9-5 con una hora a comer. Los viernes siempre tenemos jornadas de 7 hrs y no incluyen hora para comer al igual que el horario de verano. Es legal que me obligen a quedarme a comer? La empresa no cierra a la hora de comer 70-646 exam y el trabajo que realizo puedo seguir desempeñandolo durante esa hora de comida. Gracias...