Hasrat Apa Yang Penting Secara Politis?
Bagian 2
Oleh: Bertrand Russel*
Kini kita bahas motif lain, cukup penting meski dalam pengertian yang kurang fundamental dari yang telah kita bahas. Pertama, motif kecintaan terhadap excitement (kegairahan). Ketika menghadapi kebosanan, manusia memperlihatkan sifat unggulnya. Pada tahap awal, spontan emosi manusia mungkin juga muncul pada hewan, seperti monyet. Pengalaman menunjukkan bahwa pelarian dari kebosanan merupakan hasrat yang kuat dari manusia. Ketika orang kulit putih pertama kali kontak dengan ras asli orang primitif, mereka menawarkan berbagai pemberian; dari ajaran agama, hingga kue labu. Namun, yang kita sesali, kebanyakan orang primitif menerimanya dengan tak acuh. Apa yang mereka hargai diantara pemberian itu adalah cairan yang memabukkan, yang mungkin baru pertamakali bagi mereka. Mengalami ilusi beberapa saat. Ketika bangsa Indian belum terpengaruh orang kulit putih, mereka mengisap pipa dengan liar, menghirup begitu dalam. Dan ketika pencapaian kenikmatan menggunakan nikotin gagal, seorang penyemangat kepahlawanan tampil membangkitkan mereka untuk menyerang suku yang akan memberikan semua kesenangan, seperti rasa yang muncul ketika kita melihat pacuan kuda atau saat mengikuti pemilihan umum. Kesenangan berjudi juga hampir seluruhnya berupa motif excitement ini. Monsieur Huc mendiskripsikan para pedagang Cina di musim dingin, berjudi sampai uangnya habis, lalu kehilangan semua termasuk pakaian akhirnya mati telanjang kedinginan.
Akar kecintaan terhadap excitement (kegairahan) dimulai sejak manusia dalam tahap berburu. Ketika laki-laki dengan senjata primitif berburu seekor rusa, dengan bangga dia menyeret hasil buruan, kemudian istrinya memasak daging tersebut, maka disitulah manusia membenamkan diri dalam kelelahan yang memuaskan. Dia mengantuk, tulangnya sakit, dan bau masakan memenuhi setiap rongga sudut kesadarannya. ia tidur nyenyak. Dalam kehidupan seperti ini, tidak ada kebosanan.
Namun ketika ia beralih ke pertanian, dan membuat istrinya melakukan semua pekerjaan berat di ladang, dia memiliki waktu untuk merefleksikan kehampaan kehidupan manusia, dengan menciptakan mitologi dan sistem filosofi. Memimpikan kehidupan akan datang (surga) di Valhalla, tempat dia dapat mengulang kembali berburu babi hutan. Mental manusia sepertinya sesuai dengan kehidupan keja fisik yang sangat keras. Ketika muda saya menghabiskan hari libur dengan berjalan-jalan. Berjalan sejauh 25 mil sehari, dan ketika malam saya tidak butuh menghindarkan diri dari kebosanan, karena banyak kepuasan bisa saya peroleh dari duduk-santai. Namun kehidupan modern tidak bisa dilaksanakan dengan prinsip yang berat secara fisik. Banyak pekerjaan rutin dan manual hanya melatih beberapa otot tertentu.
Mungkin juga tidak ada sorak sorai yang bergema di Alun-alun Trafalgar[fn]“Trafalgar Square” adalah lapangan besar atau alun-alun yang merupakan jantung kota London. Banyak event dan peristiwa berlangsung di tempat ini dari jaman Inggris tempo dulu, hingga sekarang—pent.[/fn] saat pemerintah menjatuhkan hukuman mati bagi siapa yang dianggap salah, jika kerumunan orang yang telah menempuh perjalanan sejauh 25 mil mendengar pengumuman tersebut. Namun “pengalihan” terhadap potensi agresifitas tidak selalu dapat dilaksanakan. Dan jika manusia ingin bertahan atas sesuatu, yang tak diinginkan, maka harus ditemukan sarana penyaluran tanpa dosa, untuk energi fisik sisa yang menghasilkan kecintaan terhadap excitement. Ini persoalan yang sedikit ditelaaah, baik oleh para moralis maupun para reformis sosial. Para reformis sosial beropini bahwa mereka memiliki hal yang lebih serius untuk dipertimbangkan. sebaliknya, moralis sangat terkesan dengan keseriusannya pada penyaluran yang diijinkan bagi ekspresi kecintaan terhadap excitement. Keseriusan menurut moralis berkaitan dengan dosa. Karena itu ruang dansa, gedung bioskop, zaman jazz, semuanya, jika kita bisa mempercayai telinga kita, merupakan pintu gerbang ke neraka, dan karenanya lebih baik kita tinggal di rumah sambil merenungkan dosa. Saya tidak seluruhnya sependapat dengan para “penjaga kuburan” (moralis-pent) yang mengabsolutkan peringatan ini. Menurut saya, setan punya banyak bentuk, ada yang dirancang memperdaya kaum muda, ada juga untuk memperdaya kaum tua maupun yang serius. Jika setan berusaha menggoda kaum muda dengan menyenangkan diri mereka sendiri, bukankah, mungkin, setan yang sama tapi lebih tinggi derajatnya, membujuk kaum tua, akan mengutuk kesenangan mereka? Dan bukankankah kutukan itu mungkin hanya suatu bentuk excitement, sesuai dengan usia lanjut? Dan bukankah obat seperti - opium - harus digunakan dengan dosis yang semakin kuat untuk menghasilkan efek yang diinginkan? Bukankah justru yang perlu dikawatirkan jika bermula dari kejahatan bioskop, kita diarahkan langkah untuk mengutuk partai politik yang berlawanan? orang latin, Italia, Asia, dan, setiap orang, kecuali para anggota klub kita sendiri? Dan dari kutukan seperti inilah bila tersebar luas, peperangan akan dimulai. Saya belum pernah mendengar suatu perang yang berasal dari lantai dansa!
Apa yang serius dari excitement adalah begitu banyak bentuk destruktif. Ketika orang tidak dapat menahan kelebihan alkohol atau berjudi ia destruktif. Menjadi destruktif, jika ia mengambil bentuk kekerasan massa. Dan terutama jika mengarah pada perang. Begitu dalamnya excitement yang butuh penyaluran yang hampir sama baik untuk yang merusak maupun yang aman. Penyaluran seperti ini ada dalam olahraga, dan dalam ilmu politik sepanjang itu dipertahankan dalam batas-batas konstitusional. Namun hal ini tidak cukup, terutama dalam banyak hal, politik yang begitu excitement juga merupakan jenis politik yang berdampak begitu merusak.
Kehidupan beradab sepertinya terlalu rumahan. Untuk stabil, kehidupan sekarang harus menyediakan penyaluran yang tidak merusak untuk implus (dorongan liar: pen) seperti kegiatan berburu yang memuaskan nenek moyang kita yang terisolir. Di Australia, ketika penduduknya sedikit dan jumlah kelinci banyak, saya melihat rakyat memenuhi dorongan primitif dengan cara primitif melalui pembantaian terampil ribuan kelinci. Namun, di London atau New York harus ditemukan cara lain untuk memuaskan dorongan primitif. Serius, rasa sakit harus keluar dari usaha sebagai penyaluran yang konstruktif atas kecintaannya terhadap excitement. Tidak ada di dunia ini yang lebih menyenangkan daripada momen penemuan atau kreasi spontan. Banyak orang dapat benar–benar mengalami momen seperti ini daripada sekadar memikirkannya.
Tentang motif politis lain, adalah dua nafsu yang berhubungan erat di mana manusia sangat rentan; yaitu rasa takut dan benci. Adalah normal membenci apa yang kita takutkan. Apa yang ditakutkan, itu yang dibenci. Dapat dimengerti kaidah antara orang primitif, di mana mereka takut sekaligus membenci apa yang tidak familiar. Mereka memiliki kelompok sendiri. Di dalamnya semua teman, kecuali ada alasan khusus untuk bermusuhan. Kelompok lain adalah musuh potensial. Anggota yang terpisah karena tersesat dari kelompok tersebut akan dibunuh. Kelompok asing akan dihindari sesuai kondisi. Inilah mekanisme primitif yang masih mengendalikan reaksi instingtif kita terhadap bangsa asing. Orang yang tidak pernah melakukan perjalanan akan memandang semua orang asing tak beradab. Namun orang yang sering berpergian, atau yang mempelajari politik internasional, akan menemukan jika kelompoknya ingin berjaya, maka, harus berbaur dengan kelompok lain.
Semua ini hanya benar sepanjang kita memperhatikan perilaku manusia lain. Kita mungkin menganggap tanah sebagai musuh, karena lahan tersebut enggan menghasilkan panen yang cukup. Kita mungkin menganggap alam sebagai musuh dan membayangkan kehidupan manusia sebagai suatu perjuangan untuk memperoleh alam yang lebih baik. Jika manusia memandang kehidupan dengan cara seperti ini, kerjasama manusia menjadi mudah. Dan dengan mudah manusia dibawa memandang kehidupan dengan cara ini, jika sekolah, koran dan para politisi mengabdikan diri mereka kepada tujuan akhir ini. Namun, sekolah berusaha untuk mengajarkan patriotisme; surat kabar berusaha untuk membangkitkan ecxitement; dan para politisi berusaha untuk dipilih kembali. Oleh karena itu tak satu pun di antara ketiganya, bisa melakukan sesuatu ke arah penyalamatan manusia dari bunuh diri timbal balik.
Ada dua cara untuk mengatasi rasa takut: pertama menghapuskan bahaya eksternal dan kedua menanamkan ketahanan stoic ( sikap tidak pernah mengkhawatirkan sesuatu). Bersikap seperti ini tidak bertahan lama, kecuali cepat mengambil tindakan, mengalihkan pikiran jauh dari penyebab rasa takut. Penaklukan rasa takut sangat penting. Rasa takut bergradasi dan mudah menjadi obsesi; ia menghasilkan kebencian terhadap yang ditakutkan, dan mengarah langsung pada kekejaman berlebih. Karena itu, rasa aman adalah efek yang menguntungkan manusia. Jika sistem Internasional yang dibentuk dapat menghapuskan rasa takut terhadap perang, maka perbaikan mentalitas masyarakat akan besar dan cepat. Rasa takut, sekarang memenuhi dunia. Bom atom dan bom bakterial, yang dimiliki oleh komunis jahat atau kapitalis jahat--sebagaimana yang terjadi--membuat Washington dan Kremlin khawatir, lalu mendorong orang menuju jurang kehancuran. Jika persoalan akan diperbaiki, maka langkah pertama adalah menemukan cara menghapuskan rasa takut. Dunia dihantui konflik persaingan ideologi. Dan penyebab konflik adalah keinginan terhadap kemenangan ideologinya sendiri. Bukan berarti motif fundamental di sini banyak berhubungan dengan ideologi. Saya menganggap ideologi hanyalah cara pengelompokan orang, lalu gairah yang terlibat adalah keinginan yang muncul di antara kelompok yang berlawanan. Tentu ada berbagai alasan untuk membenci komunis. Pertama, kita yakin bahwa mereka ingin mengambil hak milik kita. Itu juga dilakukan para pencuri. Karenanya, kita mencela para pencuri, namun sikap terhadap pencuri berbeda terhadap komunis. Mungkin karena pencuri tidak menginspirasikan derajat rasa takut yang sama. Kedua, kita membenci kaum komunis karena mereka ireligius (tak beragama). Namun sesungguhnya Cina sudah menjadi ireligius sejak abad XI. Dan kita baru mulai membenci kaum komunis ketika mereka mengusir Chiang Kai-Shek. Ketiga, kita membenci kaum komunis, karena mereka tidak percaya dengan demokrasi, namun kita menganggap ini bukan alasan untuk membenci Franco. Keempat, kita membenci komunis, karena mereka tidak memperkenankan kebebasan; Ini kita rasakan begitu kuat, sehingga kita memutuskan untuk meniru mereka. Jelaslah! tak satupun yang menjadi alasan riil berkaitan dengan kebencian kita. Kita membenci komunis karena takut kepada mereka, dan mereka mengancam kita. Jika orang Rusia masih menganut agama ortodok Yunani, jika mereka menggunakan pemerintahan parlementer, dan jika mereka memiliki pers yang bebas sekali yang memaki kita setiap hari, maka - asal saja mereka masih memiliki tentara yang kuat seperti sekarang ini - kita masih membenci mereka, jika mereka memberi alasan pada pemikiran kita tentang mereka sebagai bersikap memusuhi. Tentu ada saja odium theologicum (teologi kebencian luas), dan itu bisa menjadi penyebab permusuhan. Namun saya menganggap bahwa ini bagian dari perasaan kelompok; orang yang memiliki teologi berbeda merasa asing dan apapun yang asing pasti berbahaya. Ideologi, sebenarnya merupakan cara dari berbagai metode yang membentuk kelompok. Dan untuk psikologi dalam banyak hal sama, walau posisi kawanan kelompok justru yang diciptakannnya.
Kita merasa bahwa saya hanya memberikan tempat motif-motif jelek, atau setidaknya, netral secara etis. Sebenarnya saya khawatir kalau motif-motif tersebut, lebih kuat daripada motif-motif altruistik. Meski saya tidak menolak bahwa motif-motif altruistik ada, dan kadang mungkin menjadi efektif. Hasutan menentang perbudakan di Inggris di awal abad l9 adalah altruistik dan sangat efektif. Altruisme peristiwa ini dibuktikan fakta di tahun l833, para pembayar pajak Inggris mengeluarkan jutaan uang sebagai kompensasi untuk pembebasan para budak mereka kepada para tuan tanah di Jamaica. Dan adanya fakta bahwa di Kongres Wina, pemerintah Inggris bekerja keras dengan mengilhami bangsa-bangsa lain mengajukan konsesi-konsesi penting untuk meninggalkan perdagangan budak. Ini merupakan contoh dari masa lalu, namun sekarang ini Amerika sudah memberikan contoh sama jelasnya. Namun, saya tidak akan membicarakan ini dan tidak akan terlibat dalam kontroversi-kontroversi sekarang,
Tidak diragukan simpati merupakan motif sejati, orang suatu saat tak bisa membiarkan penderitaan yang dialami orang lain. Simpatilah yang telah banyak menghasilkan kemajuan-kemajuan kemanusiaan ratusan tahun terakhir. Kita terkejut mendengar cerita-cerita perlakuan buruk terhadap orang-orang gila, dan kini ada sejumlah asylum (panti rehabiltasi-pent) di mana mereka tidak diperlakukan secara buruk. Tahanan di negara-negara barat tidak seharusnya disiksa, jika ada, maka akan ada kemarahan publik ketika ditemukan fakta. Kita tidak setuju memperlakukan anak yatim sebagaimana mereka diperlakukan dalam Oliver Twist[fn]Oliver Twist, sebuah novel cerita yang mengambarkan kejahatan atas anak (yatim), yang sangat populer di Inggris—pent)[/fn]. Negara-negara protestan mencela kekejaman terhadap hewan. semua ini menunjukkan simpati efektif secara politis. Jika rasa takut terhadap perang dihapuskan, maka efektifitasnya akan menjadi jauh lebih besar. Mungkin harapan terbaik untuk masa datang manusia adalah ditemukannya cara untuk meningkatkan lingkup dan intesitas simpati.
Kesimpulannya, politik berkenaaan lebih pada kelompok dari sekedar pada individu. Dan keinginan besar yang penting dalam politik, karenanya, keinginan di mana anggota kelompok tertentu merasa sama. Secara luas, mekanisme alami yang musti dibangun untuk perbaikan bangunan watak politik adalah mekanisme kerjasama dalam rasa perkelompok dan permusuhan terhadap kelompok lain. Kerjasama dalam kelompok tidak pernah sempurna. Selalu ada anggota yang tidak meyesuaikan diri, dari sudut rasa bahasa disebut: “egregious.” Yang berarti, berada di luar kelompok. Para anggotanya orang yang berada di bawah atau di atas tingkat umum. Mereka adalah para idiot, kriminal, nabi, dan para penemu. Suatu kelompok yang bijak akan belajar memaklumi keanehan orang-orang di atas rata-rata, dan memberikan suatu eksperimentasi minimun terhadap mereka yang berada di bawahnya.
Tentang hubungan dengan kelompok lain, teknik modern telah menghasilkan konflik antara kepentingan sendiri dengan insting. zaman dulu, bila dua suku berperang, salah satu diantara mereka membasmi dan merebut wilayahnya. Dari sudut pandang si pemenang, operasi keseluruhan sangat memuaskan. Pembunuhan merupakan hal yang murah dan suatu kegairahan yang dapat dimaklumi. Tidak heran, perang terus berlanjut. Sayangnya, kita memiliki emosi yang sama seperti dalam peperangan primitif, walau operasi perang yang terjadi sekarang sudah berubah. Membunuh musuh dalam perang modern merupakan operasi sangat mahal. Jika anda menelaah berapa banyak orang Jerman terbunuh dalam perang; dan berapa banyak para pemenang sekarang membayar pajak pendapatan, kita dapat menghitung biaya seorang Jerman yang mati. Dan kita akan menemukannya cukup besar. Di Timur, musuh orang Jerman, pada masa awal, telah mengamankan sejumlah keuntungan dari pengusiran penduduk yang kalah dan menempati lahan mereka. Namun Para pemenang Barat, tidak memperoleh keuntungan seperti ini. Jelas, perang modern bukanlah jenis bisnis yang bagus dari suatu sudut pandang finansial. Walau kita memenangkan kedua perang dunia, kini kita seharusnya akan jauh lebih kaya, seandainya kedua perang tersebut tidak pernah terjadi. Dan andai saja orang termotivasi oleh kepentingan diri, di mana itu tidak terjadi- kecuali dalam kasus beberapa orang suci- maka sekarang manusia akan bekerja sama. Tak ada lagi perang. Tak ada Angkatan Darat, Angkatan Laut. Tak ada lagi bom atom. Disana juga tidak ada lagi tentara propagandis yang digunakan dalam meracuni pikiran bangsa A melawan bangsa B, atau sebaliknya. Tak ada tentara para pejabat diperbatasan untuk mencegah masuknya buku-buku dan ide-ide asing, walau ada ide betapa bagusnya diri mereka. Tidak akan ada rintangan bea cukai untuk menjamin eksistensi banyak perusahaan kecil, di mana bea cukai perusahaan besar akan lebih ekonomis. Semua ini akan terjadi sangat cepat jika manusia memungkinkan kebahagiaan mereka sendiri se-semangat saat mereka menginginkan kesengsaraan tetangganya. Namun, kita berkata “apa kegunaaan impian-impian utopian ini?” Kaum moralis memastikan kita tidak sepenuhnya egois, hingga berbuat begitu, yang tak mungkin tercapai dalam seribu tahun.
Saya tidak ingin berakhir dengan catatan sinis. Saya tidak menyangkal ada yang lebih baik pada selfishness (keegoan) dan beberapa orang mendapatkan manfaatnya. Namun saya bertahan pada sisi, bahwa banyak peristiwa pada organisasi besar—seperti apa yang menjadi concern politik, menunjukkan keegoan sebagai problem potensial yang tak bisa dibendung. Sementara, pada sisi lain, ada banyak keadaan di mana rakyat jauh mendapat manfaat dari keegoan, jika keegoan ditafsirkan sebagai pencerahan terhadap kepentingan diri.
Peristiwa (area politik-pent) ini, pada banyak orang, tidak mendapat manfaat keegoan,--celakanya-- yang terbanyak justru peristiwa yang meyakinkan orang bahwa mereka bertindak dari motif idealistik. Banyak hal yang diterima sebagai idealisme adalah bentuk kebencian atau kecintaan terhadap kekuasaan tersamar. Bila kita melihat sejumlah besar manusia yang digerakkan oleh apa yang nampak sebagai motif mulia, ada baiknya melihat di permukaan dan bertanya pada diri sendiri apa yang membuat motif ini efektif. Sebagian hal itu karena begitu mudah terpengaruh penampilan luar kemuliaan seperti yang ditunjukkan—dari apa yang penting tengah saya lakukan hingga kini—dengan psikologi. Sebagai kesimpulan, bahwa jika benar, hal utama yang dibutuhkan untuk membuat kebahagiaan dunia adalah kecerdasan. Dan ini merupakan kesimpulan optimistik. Karena, kecerdasan merupakan hal yang dapat ditumbuhkembangkan oleh metode pendidikan yang dikenal.(bur)

