Temali :
Temali : Hasrat Apa Yang Penting Secara Politis?1
Bagian 1
Oleh: Bertrand Russel2
Mencoba menelusuri berbagai hasrat/motif seperti kecintaan terhadap kekuasaan (love of power) dan kecintaan akan kegairahan (love of excitement) dan banyak motif lainnya-- yang dalam tradisi positivistik Barat waktu itu justru diabaikan. Terbukti dengan sedikitnya pendekatan psikologi dalam kajian sosial politik maupun hubungan internasional--, Bertrand Russell dalam tulisan ini menunjukkan bagaimana motif yang penting secara politis sebenarnya menjadi selubung dari apa yang disebut selfishness, watak yang berorientasi mementingkan dan berpusat pada diri. Suatu contoh menarik tentang hal ini adalah motif kebencian sebagian bangsa Barat dan dunia atas komunis. Menurut penerima Nobel ini, derajat kebencian itu sungguh tak masuk akal, dan ia beragumentasi bahwa motif fundamental ini tidak banyak berhubungan dengan ideologi. Karena baginya ideologi hanyalah sebuah cara pengelompokan orang, dan bahwa gairah yang terlibat dalam keinginan yang selalu muncul di antara kelompok-kelompok yang berlawanan merupakan suatu bagian dari perasaan kelompok. Orang yang memiliki ideologi berbeda merasa asing dan apapun yang asing dianggap pasti berbahaya.
--------
Kebanyakan kajian tentang politik dan teori politik saat ini tidak cukup memperhatikan psikologi. Biasanya kajian yang ada selalu dengan cepat menunjukkan fakta-fakta ekonomi, statistik kependudukan, organisasi konstitusional, dan seterusnya. Karena itu –mengacu pada perang Korea misalnya—kita tidak akan kesulitan untuk menemukan berapa jumlah orang Korea Selatan dan Korea Utara ketika Perang Korea itu dimulai. Atau, jika kita membaca buku-buku yang tepat, maka kita akan mengetahui berapa pendapatan per kapita, dan berapa besar jumlah masing –masing tentara di Korea. Akan tetapi yang menjadi persoalan, jika kita ingin mengetahui jenis pribadi seperti apakah orang Korea itu dan apakah ada perbedaan nyata antara orang Korea Utara dan Korea Selatan? Hal yang sama, jika kita ingin mengetahui apakah yang mereka inginkan dari kehidupan, apa kekecewaan mereka, apa harapan dan apa ketakutan mereka? Demikianlah, jika ada pertanyaan-- seperti yang mereka katakan, “Apa yang menggerakkan mereka?”--, maka akan sia-sia bagi kita untuk mencari referensi dalam buku. Dan apakah orang Korea Selatan sangat berharap pada PBB, atau akan lebih menyukai persatuan dengan saudara-saudaranya di Utara? Maka kita juga tidak bisa mengemukakan jawaban dengan tepat. Kita juga tidak bisa menerka secara tepat, apakah mereka berkeinginan menolak reformasi tanah demi mendapatkan hak untuk memberikan suara bagi para politisi yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Sejumlah pertanyaan seperti itulah yang sering diabaikan oleh elit yang berada di pusat kota, jauh dari kawasan tersebut. Ini tentu seringkali memunculkan kekecewaan. Karena di sini politik tampak begitu ilmiah, dan peristiwa selalu mengejutkan. Padahal, seharusnya pemikiran politik kita menembus secara lebih mendalam ke dalam sumber-sumber tindakan manusia. Apa pengaruh kelaparan terhadap slogan-slogan? Bagaimana keefektifan slogan itu berfluktuasi dengan jumlah kalori dalam makanan kita? Bagaimana saat seseorang menawarkan Demokrasi kepada kita dan yang lain menawarkan sekarung beras? Pada taraf kelaparan, apakah kita akan lebih memilih beras daripada hak suara? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat sedikit sekali dipertimbangkan. Untuk saat ini, marilah kita melupakan dulu bangsa Korea dan menelaah ras manusia.
Semua aktivitas manusia didorong karena hasrat. Tetapi, merupakan kekeliruan—seperti diajukan para moralis-- bahwa pengaruh hasrat itu mungkin sekali dapat ditahan hanya oleh prinsip tanggung jawab dan moral. Saya katakan ini keliru, bukan karena tidak ada orang yang bertindak karena dorongan suatu rasa tanggung jawab, namun karena tanggung jawab tidak menguasainya. Kecuali seorang berkeinginan untuk menjadi bertanggung jawab. Jika kita ingin mengetahui apa yang akan dilakukan orang-orang, maka kita –paling tidak-- bukan saja harus mengetahui keadaan-keadaan materi mereka, namun juga keseluruhan sistem hasrat mereka dengan kekuatan-kekuatan relatif mereka..
Ada beberapa hasrat atau keinginan yang sudah dianggap biasa. Hasrat ini meskipun sangat kuat, tidak memiliki nilai penting politis yang besar. Kebanyakan orang pada rentang waktu kehidupannya berkeinginan untuk menikah. Namun, biasanya mereka dapat memuaskan hasrat ini tanpa harus mengambil tindakan politik dalam bentuk apapun. Tentu saja ada perkecualian; seperti yang terjadi dalam legenda pemerkosaan kaum perempuan Sabin dan juga yang terjadi di Australia Utara. Suatu daerah yang perkembangannya tidak bisa keluar dari fakta kelompok pemudanya yang energik - yang mesti melakukan pekerjaan-- tidak suka menjadi sepenuhnya terasing dari perempuan. Namun kasus-kasus seperti ini tidak lazim, dan pada umumnya, ketertarikan antara lelaki dan perempuan berpengaruh sangat kecil terhadap politik.
Hasrat yang penting secara politis bisa dibagi menjadi kelompok primer dan sekunder. Dalam kelompok primer terdapat hasrat hidup berkaitan dengan pangan, papan dan sandang. Ketika kebutuhan ini sangat langka, maka tidak akan ada batas bagi usaha apapun yang akan dilakukan manusia, termasuk juga batas bagi kekerasan apapun yang akan ditampilkan manusia demi memperolehnya. Para pengkaji sejarah awal manusia sudah menunjukkan bagaimana besarnya pengaruh kekeringan di gurun Arabia--dalam empat peristiwa yang terpisah -- pada bidang politik, budaya dan keagamaan. Kekeringan menyebabkan penduduk kawasan itu membanjiri daerah sekitarnya. Pengaruh besar dari gelombang kekeringan yang terakhir dari empat peristiwa itu adalah munculnya Islam yang berekspansi keluar dari kawasan itu. Pengaruh dorongan dari akibat kekeringan ini juga terlihat sama, saat penyebaran berangsur-angsur suku-suku Jerman dari Rusia Selatan ke Inggris, dan kemudian ke San Fransisco. Tidak diragukan lagi, hasrat terhadap pangan masih merupakan salah satu penyebab utama peristiwa-peristiwa politik besar.
Namun, manusia berbeda dari hewan dalam satu hal yang sangat penting. Yakni, manusia memiliki hasrat yang tak terbatas, yang tidak dapat terpuaskan sepenuhnya, dan yang akan membuatnya terus gelisah sekalipun di surga. Seekor ular sawah setelah memperoleh cukup makanan, ia akan tidur, dan tidak bangun hingga dia memerlukan makanan lagi. Manusia sebagian besar tidak seperti itu. Ketika bangsa Arab, yang sudah terbiasa hidup hemat dengan hanya memakan beberapa butir kurma, mendapatkan kekayaaan kekaisaran Romawi Timur dan tinggal di istana yang sangat mewah, mereka tidak puas dalam keadaan ini dan menjadi pemalas. Kelaparan tidak bisa lagi menjadi motif, karena para budak Yunani menyediakan bagi mereka berbagai jenis makanan hanya dengan sekali anggukan kepala. Namun, hasrat lain membuat mereka tetap aktif: terutama empat hal yaitu: keserakahan, persaingan, kesombongan dan cinta kekuasaan.
Keserakahan atau ketamakan – hasrat untuk memiliki sebanyak mungkin barang, atau hak terhadap barang – adalah suatu motif yang menurut saya berasal dari gabungan rasa takut dan hasrat akan kebutuhan. Saya pernah menolong dua orang gadis kecil dari Estonia yang sedang sekarat dalam sebuah bencana kelaparan. Mereka tinggal dalam keluarga saya, dan tentu saja banyak sekali makanan yang bisa dimakan. Namun mereka menghabiskan waktu senggang mereka untuk mengunjungi ladang tetangga dan mencuri kentang yang mereka timbun. Rockefeller yang pada masa kanak-kanaknya mengalami kelaparan, menghabiskan hidupnya dengan cara serupa. Demikian pula kepala suku Arab, meski berada di atas ranjang sutra Bizantium, mereka tidak dapat melupakan gurun pasir, dan menimbun kekayaan jauh melebihi yang diperlukan secara fisik. Namun, apapun yang disebut psikoanalisis mengenai keserakahan, tak seorang pun dari mereka dapat mengingkari bahwa keserakahan merupakan salah satu dari sekian motif – khususnya di antara motif yang lebih kuat -- yang seperti saya katakan sebelumnya, termasuk salah satu motif yang tak terbatas. Berapa pun banyaknya yang anda peroleh, anda akan selalu ingin untuk memperoleh lebih banyak lagi. Kepuasan adalah suatu impian yang tak akan pernah tercapai.
Namun keserakahan, meskipun merupakan dorongan utama kapitalisme, bukan berarti sesuatu yang sifatnya begitu kuat sebagai motif yang dapat bertahan terus dalam masa kelaparan. Persaingan merupakan motif yang jauh lebih kuat. Berkali-kali dalam sejarah Islam, banyak dinasti berduka karena para putera seorang Sultan dari ibu yang berbeda-bed tidak bisa sependapat dan perang saudara yang terjadi, hasilnya adalah kehancuran universal. Hal yang sama terjadi di Eropa Modern. Ketika pemerintah Inggris secara sangat bodoh mengijinkan Kaisar hadir pada suatu peninjauan Angkatan Laut di Spithead, gagasan yang muncul dalam benak Kaisar bukanlah seperti yang biasa kita kira. Apa yang dia pikirkan adalah, “Saya harus memiliki Angkatan Laut sebaik yang dimiliki Nenek”. Dan dari gagasan ini muncul seluruh persoalan berikutnya. Seolah-olah persaingan tidak lebih kuat dari keserakahan, maka dipikirkanlah dunia akan menjadi tempat yang lebih menyenangkan. Walaupun, kenyataannnya, banyak sekali orang akan dengan senang hati dalam kekurangan, jika mereka dengan hal itu dapat menghancurkan para pesaingnya.
Kesombongan juga merupakan motif dengan potensi sangat besar. Seseorang yang banyak bergaul dengan anak-anak mengetahui bagaimana mereka selalu melakukan hal lucu dan dengan mengatakan “Lihatlah aku!”. “Lihatlah aku!” adalah salah satu hasrat manusia yang paling fundamental yang bisa mengambil bentuk dengan jumlah yang tak terhingga dari yang lucu hingga pengejaran kemasyhuran. Ada seorang putera Pangeran Italia pada masa Renaissance yang diminta oleh pendeta menjelang kematiannya jika ia memiliki sesuatu untuk diucapkan. “Ya”, katanya. “Pada suatu peristiwa saya pernah mendapatkan kunjungan dari Kaisar dan Paus secara bersamaan. Saya mengajak mereka ke puncak menara saya untuk melihat pemandangan, dan saya menyia-nyiakan kesempatan untuk melemparkan mereka berdua ke bawah, yang akan memberi saya kemasyhuran abadi.” Sejarah tidak menceritakan apakah pendeta memberinya pengampunan. Salah satu kesulitan mengenai kesombongan yakni bahwa kesombongan tumbuh bersama-sama asal usul kesombongan. Semakin anda banyak dibicarakan, semakin anda ingin untuk dibicarakan. Pembunuh terhukum yang diijinkan melihat laporan pengadilannya di media cetak akan marah jika sebuah surat kabar tidak melaporkan dengan akurat. Dan semakin dia menemukan dirinya dalam surat kabar lain, dia akan makin marah pada peran yang melaporkannya secara kurang. Para politisi dan sastrawan berada dalam kasus yang sama. Semakin mereka terkenal, semakin sulit kantor berita membuat berita singkat yang dapat memenuhi keinginan mereka. Hampir tidak mungkin melebihkan besar mana pengaruh kesombongan atas tingkatan hidup manusia, pada anak berusia tiga tahun atau pada raja yang kemarahannya ditakuti dunia. Apalagi sikap manusia memperlakukan sejenis kesalahan yang mirip kesombongan itu kepada Dewa, objek yang mereka bayangkan sebagai kehendak yang harus selalu dipuji (maha terpuji).
Tetapi sebesar apapun pengaruh dari motif yang telah dipertimbangkan itu, ada yang yang lebih penting dari semuanya. Yang saya maksudkan adalah cinta kekuasaan. Cinta kekuasaan bersanak dekat dengan kesombongan, namun tidak sepenuhnya sama. Yang dibutuhkan oleh kesombongan untuk mencapai kepuasan adalah kebesaran. Dan mudah mencapai kebesaran tanpa kekuasaan. Orang-orang yang memiliki keagungan terbesar di Amerika Serikat adalah para bintang film. Namun jaya atau jatuhnya para bintang ini, kedudukannya bisa ditempatkan oleh Komite Un-American Activities. Di Inggris, Ratu lebih banyak memiliki keagungan daripada Perdana Menteri, namun Perdana Menteri lebih banyak kekuasaan daripada raja. Banyak orang menyukai keagungan daripada kekuasaan, namun secara keseluruhan mereka ini kurang memiliki pengaruh terhadap peristiwa dibandingkan dengan orang-orang yang mencintai kekuasaan. Ketika Blücher, pada 1814, melihat istana Napoleon, dia berkata, “Bukankah ia seorang yang bodoh karena memiliki semua ini, namun ingin menguasai Moscow?”. Napoleon, yang jelas-jelas sombong, lebih memilih kekuasaan ketika ia harus memilih. Bagi Blücher, pilihan ini nampak bodoh. Kekuasaan seperti kesombongan tidak pernah terpuaskan. Tidak ada jeleknya berkuasa yang mungkin dapat sepenuhnya memuaskan. Dan karena hal ini pula yang khususnya menimpa pada orang besar; efektifitasnya yang bermula dari kecintaan terhadap kekuasaanlah seringkali terjadi di luar kewajaran. Memang inilah yang selama ini menjadi motif terkuat dalam kehidupan orang-orang penting.
Kecintaan terhadap kekuasaan sangat ditingkatkan oleh pengalaman berkuasa dan ini berlaku pula seperti pada kekuasaan kuno para raja dulu. Di hari-hari yang menyenangkan, sebelum tahun l914, ketika para nyonya dapat memiliki sejumlah pelayan, kesenangan mereka menonjolkan kekuasaan terhadap para pelayan tersebut semakin meningkat seiring dengan usia mereka. Demikian pula dalam semua rezim otokrasi, para pemegang kekuasaan semakin bersifat tirani dengan pengalaman kesenangan yang dapat diperoleh dari kekuasaan. Karena kekuasaan terhadap manusia diperlihatkan dengan membuat mereka melakukan apa yang tidak ingin mereka lakukan. Orang yang digerakkan oleh kecintaan terhadap kekuasaan, lebih suka membebankan rasa sakit daripada memberikan rasa senang. Jika kita meminta cuti kepada atasan karena suatu alasan yang masuk akal, kecintaannya terhadap kekuasaan akan mendapatkan kepuasan yang lebih besar dengan ia menolak, ketimbang menyetujuinya. Jika kita membutuhkan ijin bangunan, petugas yang picik, jelas-jelas akan merasa lebih senang dengan mengatakan “tidak” daripada mengatakan “ya”. Hal semacam inilah yang membuat kecintaan terhadap kekuasaan menjadi motif yang berbahaya.
Namun, cinta terhadap kekuasaan memiliki sisi-sisi lain yang lebih atraktif. Pengejaran pengetahuan menurut saya, terutama didorong oleh kecintaan terhadap kekuasaan. Demikian pula dengan semua pengembangan dalam teknik ilmiah. Dalam politik, seorang reformis juga dapat memiliki kecintaan terhadap kekuasaan yang sama kuatnya dengan pemimpin yang lalim. Adalah kesalahan besar untuk mengukur kecintaan terhadap kekuasaan pada dirinya, semuanya adalah motif. Apakah kita akan diarahkan oleh motif ini kepada tindakan yang bermanfaat atau tercela? Hal ini bergantung kepada sistem sosial yang kita anut dan pada kapasitas kita. Jika kapasitas kita berhubungan dengan teori atau teknis, maka kita berjasa terhadap pengetahuan atau teknik dan biasanya aktivitas kita akan bermanfaat. Jika Anda seorang politisi, Anda didorong oleh kecintaan terhadap kekuasaan, namun biasanya motif ini akan bergabung dengan sendirinya, dengan keinginan untuk melihat suatu keadaan yang terealisasi karena suatu alasan Anda lebih menyukai status quo. Seorang Jenderal mungkin, seperti Alcibiades, benar-benar tidak peduli tentang sisi mana yang dia perjuangkan, namun sebagian besar jenderal lebih suka berjuang untuk negerinya sendiri. Dan oleh karena itu, memilih motif-motif lain di samping kecintaan terhadap kekuasaan. Politisi dapat mengubah keberpihakannya begitu sering, agar selalu berada dalam kelompok mayoritas. Namun kebanyakan politisi memilih suatu partai daripada yang lainnya, dan menurunkan kecintaan terhadap kekuasaan. Dan pada pilihan ini, kecintaan terhadap kekuasaan semurni mungkin dapat dilihat dalam berbagai tipe manusia yang berbeda. Salah satu tipe adalah tipe tentara bayaran, dimana Napoleon salah satunya. Napoleon, saya kira tidak memiliki kecenderungan ideologis terhadap Perancis atas Corsica, namun jika dia menjadi Kaisar Corsica dia tidak akan menjadi pria yang sehebat dirinya ketika berpura-pura menjadi seorang Perancis. Orang-orang seperti ini, bagaimanapun, bukan benar-benar contoh murni. Karena mereka juga memperoleh kepuasan besar sekali dari kesombongan. Tipe termurni adalah tipe eminence grise - kekuasaan di balik tahta yang tidak pernah nampak di depan umum, dan hanya merengkuh dirinya sendiri dengan gagasan rahasia : “Betapa sedikit boneka-boneka yang mengetahui siapa yang memegang kendali!”. Baron Halstein, yang mengendalikan kebijakan luar negeri kekaisaran German dari tahun l890 - hingga l906 merupakan ilustrasi tipe ini dengan sempurna. Dia tinggal di suatu tempat kumuh. Ia tidak pernah muncul di depan masyarakat ; dia menghindari pertemuan dengan kaisar, kecuali dalam satu peristiwa ketika desakan Kaisar tidak bisa dihindari. Ia menolak semua undangan untuk fungsi-fungsi istana, dengan alasan bahwa ia tidak memiliki pakaian yang pantas. Dia memperoleh rahasia-rahasia yang memungkinkannya untuk memeras chancellor-nya, dan banyak teman-teman dekat Kaisar. Dia menggunakan kekuasaan pemerasan, bukan untuk memperoleh kekayaan/kemasyuran, atau suatu keuntungan yang jelas lainnya, Namun, hanya untuk memaksakan penggunaan kebijakan luar negeri yang ia pilih. Di Timur, karakter-karakter serupa sangat lazim di antara para Kasim1 (Eunuchs). (bersambung)
- 1. *Pernah disampaikan pada Nobel Lecture (Pidato Nobel), 11 Desember 1950. Diterjemahkan oleh A.S. Burhan, dari naskah aslinya yang berjudul “What Desires Are Politically Important?”. Sumber tulisan ini diambil dari website: http://www.nobel.se/literature/laureates/1950/ dan juga dari situs: kumpulan pidato-pidato Nobel, literatur l901-l967.
- 2. *Filosof besar dan juga ahli matematika peraih nobel untuk karya dan pemikirannya di bidang filsafat, pada tahun 50-an.

