Secuil Kisah dari Banyuwangi

PEMBANTAIAN dukun santhet di Banyuwangi 11 tahun silam, tepatnya tahun 1998, bisa menjadi cermin rapuhnya kerukunan masyarakat. Saat itu keadaan kota Gandrung – sebutan Banyuwangi – sangat mencekam. Pembunuhan terjadi di mana-mana. Untuk sekedar mengingatkan kita, dari RUAS kali ini mewawancarai pak Amari (74 tahun), tinggal di dusun Jajangsurat Kalibendo, Rogojampi Banyuwangi, yang juga tokoh masyarakat sekaligus saksi mata peristiwa.


Gambaran umum kejadian itu?

Di desa saya, ada sekelompok orang yang melempar kecurigaan pada orang yang diduga sebagai “tukang sihir” (istilah Banyuwangi). Wong Jawa kulon menyebutnya sebagai dukun santet. Waktu itu kecurigaan meluas hingga sekelompok orang tersebut menuduh dan merencanakan menghabisi nyawa orang yang dituduh dukun santet.

banyuwnagi

 

Korban yang Bapak ingat?

Pak Salam dan pak Asy’ari. Tapi terus terang saya tidak tahu apa keduanya memang dukun santet? Yang pasti dua orang itu dibantai. Sedang orang satunya bernama pak Mudra’i. Dia berhasil melarikan diri, lolos dari kejaran massa dan melarikan diri ke desa Sragi kemudian pindah ke desa Blokagung. Di desa ini pak Mudra’i meninggal akibat sakit.

 

Pernah pulang ke desa?

Sampai meninggal pak Mudra’i tak pernah pulang kampung karena rumahnya sudah rusak dan hancur. Situasi baru mereda setelah aparat kepolisian dan TNI turun tangan. mengenai masalah ini. Saat itulah para pelaku melarikan diri. Hanya 3 orang yang dapat ditangkap.

 

Kapan itu terjadi ?

Kalau pak Asy’ari dibunuh habis Magrib, sekitar pukul 18.00 WIB. Dia dibunuh di jembatan Ganggangan, tepatnya di perbatasan antara dusun Jajangsurat dan dusun Bades. Kalau pak Salam dibunuh pukul 03.00 WIB menjelang subuh di sebelah timur SD N IV Karangbendo.

santet

 

Apa motifnya dan siapa aktor-aktornya?

Pada awalnya adalah rasa saling curiga dan konflik pribadi yang kemudian disebarkan hingga jadi penyebab inti terjadinya pembunuhan. Kalau aktornya, sampai sekarang tidak jelas. Yang jelas bukan agama dan tokoh masyarakat. Tapi orang-orang yang punya kepentingan tertentu. Sebab faktanya tokoh masyarakat dan staf desa tidak tahu menahu. Bahkan tidak ada tokoh agama yang menyerukan pembunuhan orang yang dituduh dukun santet itu.

 

Suasana waktu itu ?

Suasana waktu itu sangat kacau dan mencekam. Banyak aparat TNI dan polisi keliling desa untuk mencari para pelaku. Akibatnya, mayarakat jadi ketakutan dan trauma. Mereka tidak memiliki cara untuk mengatasi persoalan itu hingga kemudian semua persoalan diserahkan kepada pihak berwajib, misalnya aparatur desa atau Kepala Desa, Camat dan Bupati serta Kepolisian.

Sampai saat ini, masyarakat benar-benar tidak paham mengapa pembantaian itu bisa terjadi. Ada yang bilang, peritiwa tersebut adalah dampak konflik kekuasaan di tingkat pusat untuk mengalihkan issu besar yang sedang menimpa pemerintahan Orde Baru. Tapi, entahlah.

(Ainur Rofiq: Lakpesdam Banyuwangi)