Development


Refresh Nasionalisme, Pluralisme, dan Sejarah Indonesia

ga_pidato

Kita, Sejarah dan Kebhinekaan:

Merumuskan Kembali Keindonesiaan*

Oleh: I Gusti Agung Ayu Ratih**

Di sini kami berdiri di ambang subuh jaman baru, jaman yang akan membawakan terang ke seluruh Jawa. Dan sekali jaman itu terbit, akan lebih banyak dituntut perjuangan, penderitaan, berperang dan memenangkannya; mula-mula sekali adalah melawan Sang Baginda Prasangka, kemudian Sri Ratu Kepicikan dan Kekerdilan, putri-putri, yang dipuja dan dituruti oleh sebagian terbesar penduduk Jawa. … Ada kami lihat Adipati-Adipati Sri Baginda Kepicikan, Kekerdilan, dan Prasangka menggigil sakit hati karena terhina undang-undangnya yang keramat itu tersentuh.
------- Kartini, Een Gouverneur-Generaalsdag

human rights defenders testimonies

THE JAKARTA POST, 8 June 2007
UN rep hears RI human rights defenders testimonies

Several Indonesian human rights activists delivered five-minute reports on their work at a public hearing with a special UN representative in the hope of receiving greater protection and attention from the world body.

Receiving the reports was Special Representative of the UN Secretary General on Human Rights Defenders Hina Jilani.

Menyintas dan Menyeberang

Menyintas dan Menyeberang :

Perpindahan Massal Keagamaan Pasca 65 di Pedesaan Jawa

ISBN : 978-979-1287-01-3
Penulis : Singgih Nugroho
Penerbit : Syarikat Indonesia
Tanggal : Juli 2008
Halaman : xx + 329
Ukuran : 14 x 21cm
Berat : -0-
Kategori : Sejarah
Harga Toko: Rp. 40.250,-
Distributor : Jagad Media Inc.

Pesan via e-mail : terbit@syarikat.org

Ketika Sejarah Berseragam

Ketika Sejarah Berseragam:

Membongkar Ideologi Militer
Dalam Menyusun Sejarah Indonesia

No. ISBN : 978-979-1287-01-2
Penulis : Katharine E. Mcgregor
Penerbit : Syarikat Indonesia
Terbit: Juli 2008
Jumlah Hlm : xxvii + 459
Ukuran : 14 x 21 cm
Berat Buku : -0-
Kategori : Sejarah
Harga Toko : Rp. 55 000,-
Distributor : Jagad Media Inc

Pesan via e-mail : terbit@syarikat.org

REKONSILIASI, Mantan TAPOL & Masyarakat Main Kethoprak Bersama

REKONSILIASI
Mantan Tapol & Masyarakat
Main Ketoprak Bersama

PENTAS ketoprak rakyat lakon “Karta Pokil” yang akan digelar Syarikat Indonesia bekerjasama dengan para mantan tapol ’65 dan masyarakat Kulonprogo tak hanya bertutur tentang bahaya AIDS tapi juga tentang stigmatisasi perempuan yang pernah dituduh makar dalam sebuah negara.

OPINI, Poligami Dan Potensi Kekerasan Terhadap Kaum Perempuan

OPINI

Poligami dan Potensi Kekerasan
Terhadap Kaum Perempuan

Oleh : Ahmad Nawawi ‘Aqiel

NAMANYA sederhana, Sujana. Pria berusia 36 tahun yang sehari-hari punya profesi sebagai pedagang tanaman hias ini tidak setenar Aa Gym, profesinya pun tidak berhubungan langsung dengan sesuatu yang berkaitan dengan dakwah. Tetapi dalam hal jumlah istri, Mang Jana begitu panggilan akrabnya, tidak kalah dengan Aa Gym. Mang Jana memiliki dua orang istri. Istri terakhirnya ia nikahi tiga bulan yang lalu.

Hak Ekosob di Indonesia

Ahmad Baso

Pelaksaanaan Kovenan Internasional
Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Indonesia

Pada 30 September 2005 DPR dan Pemerintah  sepakat meratifikasi piagam penting hak asasi manusia (Bill of Rights) yaitu  International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights dan International Covenant on Civil and Political Rights. Proses ratifikasi tersebut dilakukan pada  28 Oktober 2005, dimana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan UU No. 11 tahun 2005 tentang pengesahan Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik dan No. 12 tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Ratifikasi terhadap the bill of human rights ini tentu saja membawa harapan baru bagi kondisi yang lebih kondusif bagi pemajuan penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia di negeri ini. 

Ruas, Juni 2008

EDITORIAL 

Merevitalisasi Nilai-nilai Lama

PERKAWINAN, sebagaimana perceraian  dan poligami adalah sesuatu yang selalu menarik dibicarakan. Berbagai tayangan di televisi bisa jadi buktinya.  Kawin cerai seolah telah menjadi biasa dengan berbagai alasan seperti ketidak-cocokan, perselingkuhan, ekonomi dan beragam soal lainnya.

Seeing the Indonesia’s past from my village

budiawan

By Budiawan

Mdm. Francois Mitterand’s visit

I had never dreamed before that the river near the village where I grew up was visited by the former first lady of France, Mdm. Francois Mitterand. It was February 2, 1999, eight months after Suharto stepped down following the mass student demonstrations and racialized pogroms in a number of big cities in Indonesia, Mdm. Mitterand and a number of French and Indonesian human rights advocates visited the river. Another group of visitors coming with them were tens of former political prisoners who had been accused of being involved in the September 30, 1965 events, i.e., the kidnapping and killing of six top army officers and a lieutenant. (Since the Indonesian Communist Party [or the PKI] was accused of having masterminded the killing, anybody having been associated with the Party was either killed or imprisoned without trials for years).  

Puisi "SAMPAH" dan "DIRINYA".

SAMPAH

Sampah...
Sampah...
Dan sampah...
Kalian yang terbuang... tetaplah terbuang

Kami...
Tidak akan pernah mau
Kami tidak akan pernah mau ada kalian

Kalian
Tidak akan pernah pantas kalian ada di sekeliling kami
Tidak akan pernah ada ruang buat kalian
Bukankah kutukan itu
Kutukan itu... datang hanya untuk kalian
Bukan untuk kami...

Maka
Nikmatilah... nikmatilah
Rasakanlah
Semua hasil jerih payahmu
Semua hasil perilakumu
Hanya sesal dan kehancuran yang akan menghampirimu
Pergilah kalian
Lenyaplah kalian
Jangan pernah ada disini
Di Dunia kami...