Belajar menuju Kemanusiaan yang adil dan beradab

Belajar Menuju Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

Pernah terdengar dalam sebuah perhelatan seminar di Klaten, dimana seorang bapak korban tragedi 1965 mengungkapkan harta bendanya yang telah dirampas. Dia sangat hafal dan secara santun mengungkapkannya dengan sangat detail hingga harga kambing dan sapi miliknya saat itu bahkan piring, gelas juga tikar.

Reparasi Hak Perempuan

Diskusi “Reparasi Hak Perempuan” Bersama Mantan Anggota Komisi VIII DPR RI (2004-2009)


DISKUSI bertema “Hak Reparasi Perempuan” digelar Syarikat Indonesia (1 Juni 2010) di pendopo Joglo Abang, desa Gombang, kalurahan Tirtoadi, Kec Mlati, Sleman. Hadir sebagai pembicara utama adalah Ibu Hj Latifah Iskandar dari PAN (Partai Amanat Nasional) dengan moderator Erwin Endaryanta.

 

Tutur: Saya dan Islam

Tutur: Saya dan Islam
(Oleh Linda Christanty)

LELAKI itu terkesima ketika mengetahui saya seorang muslim. Ia bergabung dengan klub koresponden asing di Hong Kong, seorang Inggris yang saya lupa namanya dan hadir dalam diskusi saya tentang Islam dan dunia modern. Ia kemudian bertanya apa nama keluarga ayah saya dan ketika saya menjawab, “Abdul Malik,” ia berkata, “Ooh…” seraya menunjukkan ekspresi lebih takjub lagi.

Temali :

Temali : Hasrat Apa Yang Penting Secara Politis?1

  • 1. *Pernah disampaikan pada Nobel Lecture (Pidato Nobel), 11 Desember 1950. Diterjemahkan oleh A.S. Burhan, dari naskah aslinya yang berjudul “What Desires Are Politically Important?”.

Resolusi:

Resolusi: Menyempitnya Makna Kekitaan Melahirkan Kekerasan Atasnama Agama
Oleh: Bondan Nusantara

Penguatan Kapasitas Fasilitator Rekonsiliasi Akar Rumput

UNTUK meningkatkan kapasitas dan kemampuan para aktifis gerakan sosial pro demokrasi menyangkut isu-isu resolusi konflik dan rekonsiliasi berbasis kekerasan masa lalu, Jaringan Kerja Syarikat Indonesia menggelar pelatihan dengan berbagai kalangan.

Harapan di tengah Kemujudan

(Pijakan Perilaku Bagi Agama-agama Besar)

Dari sekian aturan yang menjadi sorotan penting dalam isi UU No.1/PNPS/1965 ialah eksistensi dari sekian banyak penganut aliran kepercayaan yang tumbuh dan hidup dari bumi Nusantara.

Tokoh Pembela Kaum Tertindas Itu Telah Kembali Untuk Tak Kembali

Belum usai persoalan kemelut bangsa yang melanda negeri ini, tiba-tiba kita dikejutkan oleh musibah yang menimpa pejuang demokrasi, HAM, dan pluralisme, yaitu Abdurahman Wahid. Ia, setelah sempat dirawat beberapa hari dan menjalani cuci darah seperti biasa biasa, meninggal pada Rabu, sekitar pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM). Seluruh elemen masyarakat Indonesia pun berduka atas kepulangannya. Gusdur, demikian ia sering disapa, adalah guru bangsa yang telah mewarnai perjalanan Indonesia, Islam, dan keindonesiaan.

Masa Lalu Ter(Di)lupakan

Hingar-bingar praktik politik yang sedang berlangsung telah berhasil menyedot perhatian massa rakyat Indonesia. Semua energi politik yang ada di masyarakat tumpah mengikuti proyek politik (baca: pemilu) yang sedang berlangsung. Betul-betul seperti candu lima tahunan yang melenakan berbagai pikiran kritis.

Sejenak upaya membuka kotak pandora tentang berbagai luka kebangsaan Indonesia, sejak tragedi kemanusiaan 1965-1966 hingga tindakan yang menafikan nilai-nilai kemanusiaan semasa ORBA, “dihentikan”. Memori kolektif tentang luka kebangsaan diistirahatkan dalam hingar-bingar praktek politik yang sedang berlangsung. Seolah-olah dikatakan lukanya ditahan dulu hingga perhelatan politik selesai. Luka tidak perlu menjadi discourse dalam pesta, luka itu menjijikkan dan luka membuat trauma. Karena yang sedang dilakukan adalah proses pembangunan nasional dan menata masa depan Indonesia. Lagi-lagi, masa lalu tidak pantas dibincangkan hari ini.

Ruas Edisi V tahun 2009

RUAS
Membangun Indonesia Damai dan Sejahtera