RUAS


REKONSILIASI, Menepis Stigma lewat Seni

Oleh: Pipit Ambarmirah

SALAH satu cara yang dapat digunakan untuk rekonsiliasi kultural adalah lewat kesenian rakyat. Selain bisa untuk mengobati trauma juga sebagai ajang melestarikan kesenian rakyat yang hampir dilupakan.
Pada Minggu terakhir Mei 2008, selama 4 hari berturut-turut tanggal 26, 28, 29 dan 30, Kulon Progo, Bantul, Yogyakarta dan Prambanan diadakan road-show ketoprak rakyat yang berjudul “Karto Pokil” dan teater remaja RDJ (“Ra Duwe Jeneng”).

WAWANCARA, Kita Belum MERDEKA 100% !

Tindakan kriminal dan kekerasan yang  terjadi di Indonesia belakangan ini tidak hanya disebabkan oleh perbedaan dalam memahami ajaran agama, namun juga kurang bisa mengerti makna demokrasi HAM dan paham kebangsaan.

Hal itu memunculkan tanggapan dari berbagai kalangan, diantaranya Mbah Karyadi Marto Diyono (77 th), salah satu pendiri dan pengurus LPRKROB Kab. Gunungkidul, mantan staf Dinas Penerangan Kab. Gunungkidul dan mantan Ketua I Com DPRGR Kecamatan Nglipa. Berikut ini wawancara Irham & Ikhsan dari RUAS yang disajikan kepada pembaca.

OPINI, Melanggengkan Kekuasaan Lewat Dendam & kebencian

Oleh: Cyprianus Lilik K. P. *

Apa arti nasionalisme? Apa arti menjadi Indonesia? Tanyakan pada sekian banyak anak muda, tanyakan pada diri sendiri. Dan ternyata, kita dibuat gelisah karenanya. Barangkali, hanya anak-anak yang memiliki jawaban relatif lengkap dan positif. Tetapi itu takkan berlangsung lama. Tentu saja. Karena masih segar di kepala mereka pelajaran kebangsaan yang diperoleh. Sayangnya, biarpun mereka bisa menjawab toh jawaban-jawaban itu tak lagi selengkap anak-anak sekolah di zaman Orde Baru karena jawaban itu lahir dari indoktrinas. Akan tetapi ketidak-mampuan kita memandang positif rasa kebangsaan – bahkan merasakan kehadiran  kebangsaan – itu sebagai bagian eksistensial dari individualitas kita adalah sebuah kehilangan yang besar.

 

LAPORAN UTAMA, Perlu Kebijakan Kosisten dari Penyelenggara Negara

Oleh: Erwin Endaryanta

MASIH ingat peringatan hari kelahiran Pancasila 1 Juni 2008 di Monas Jakarta yang berakhir ricuh?  Peristiwa yang membuat tokoh-tokoh pendukung pluralisme berang ini mendapat tanggapan serius. Tak hanya dari tokoh-tokoh dalam negri tapi juga dari luar negri. The United Nations Committee against Torture (UNCAT) misalnya,  yang kemudian merekomendasikan bahwa Indonesia perlu menangani munculnya kekerasan terhadap minoritas agama tertentu. (Jakarta post, 22/05/2008). Akar persoalan peristiwa itu adalah munculnya kekerasan didalam menanggapi aksi yang mengusung agenda pengembalian nilai – nilai pluralisme dan toleransi terhadap perbedaan. Baik perbedaan agama, ideologi maupun politik, yang sebaiknya dikembalikan dalam ukuran-ukuran Pancasila.

LAPORAN UTAMA, Belum Sepenuhnya Negara Menjamin Hak Ekosob Warganya

HASIL penelitian jaringan Syarikat Indonesia di 26 kota di Jawa, hampir semua korban tragedi politik 1965-66 mengalami pergeseran dalam organisasi dan pekerjaan sebelum dan sesudah peristiwa berdarah itu.Yang semula aktif menjadi ragu dan takut terlibat dalam organisasi, apapun bentuk dan tujuannya. Demikian juga dalam hal pekerjaan, yang awalnya berstatus PNS (Pegawai Negri Sipil) sekarang harus kerja serabutan. Demikian pula yang dulunya  berstatus pelajar/ mahasiswa, saat ini banyak yang menganggur. Kebanyakan dari mereka mencoba bertahan hidup dengan bekerja seadanya.

Ruas, Agustus 2008

EDITORIAL

Mencari Makna Baru Kemerdekaan

MERDEKA artinya bebas. Bebas dari penjajahan, bebas mengemukakan pendapat, bebas berkumpul dan berserikat. Semua itu diatur dalam UUD 45. Artinya, negri ini telah sepakat mendasari kehidupan bangsanya dalam bangunan demokrasi.

Ketika Soekarno berkuasa, ia menerapkan konsep Demokrasi Terpimpin. Sebagian lawan politiknya masuk penjara. Tapi tak dipukuli dan dianiaya Keluarganya pun tak disangkut pautkan. Perempuan dan anak-anak tetaplah diberi kebebasan hidup di luar penjara sebagai warga negara biasa.

REKONSILIASI, Mantan TAPOL & Masyarakat Main Kethoprak Bersama

REKONSILIASI
Mantan Tapol & Masyarakat
Main Ketoprak Bersama

PENTAS ketoprak rakyat lakon “Karta Pokil” yang akan digelar Syarikat Indonesia bekerjasama dengan para mantan tapol ’65 dan masyarakat Kulonprogo tak hanya bertutur tentang bahaya AIDS tapi juga tentang stigmatisasi perempuan yang pernah dituduh makar dalam sebuah negara.

TEROPONG, Bisakah Kita Memilih Dari Rahim Siapa Dilahirkan?

TEROPONG:
Bisakah Kita Memilih
Dari Rahim Siapa Dilahirkan? 

KETIKA seseorang mendapatkan pendamping yang secara fisik lebih baik dari dirinya, orang akan bergarau dengan mengatakan: untuk memperbaiki keturunan. Dalam falsafah Jawa, keturunan tidak hanya dilihat secara fisik, tetapi juga asal-usul atau silsilah keluarga. Inilah yang disebut bibit.

Berkaitan dengan bibit, para eks Tapol dan anak-anaknya sering dianggap mempunyai silsilah yang ”cacat”, dan itu acapkali menjadi penghambat bagi mereka untuk menikah.  Contohnya, Tri Endang Batari, anak eks Tapol dari Pengasih, Kulon Progo, Yogyakarta.

WAWANCARA, Diskriminasi Anak TAPOL Di Era Demokrasi

WAWANCARA:

Diskriminasi Anak Tapol
di Era Demokratisasi

 Pengantar Redaksi:
PERKAWINAN adalah perjalanan hidup yang harus dilalui. Tetapi sering juga dijumpai banyaknya kendala untukmenuju ke sana. Dalam tradisi jawa  menentukan pasangan calon selalu mempertimbangkan bibit, bebet dan bobot.Hal itulah yang  sering membenturkan kita dalam impian untuk berumah tangga, terlebih lebih  kalau sudahdihadapkan pada black list dari daftar keluarga. Untuk itu Ruas mewawancarai ibu Maspiah (43 th), pengurusPaguyuban Petani Perempuan  Manyaran - BanyakanKediri yang juga pernah jadi pengurus PMII tentangpersoalan itu. Berikut ini cuplikannya:

OPINI, Poligami Dan Potensi Kekerasan Terhadap Kaum Perempuan

OPINI

Poligami dan Potensi Kekerasan
Terhadap Kaum Perempuan

Oleh : Ahmad Nawawi ‘Aqiel

NAMANYA sederhana, Sujana. Pria berusia 36 tahun yang sehari-hari punya profesi sebagai pedagang tanaman hias ini tidak setenar Aa Gym, profesinya pun tidak berhubungan langsung dengan sesuatu yang berkaitan dengan dakwah. Tetapi dalam hal jumlah istri, Mang Jana begitu panggilan akrabnya, tidak kalah dengan Aa Gym. Mang Jana memiliki dua orang istri. Istri terakhirnya ia nikahi tiga bulan yang lalu.