ham

Tokoh Pembela Kaum Tertindas Itu Telah Kembali Untuk Tak Kembali

gus dur dan pram

Belum usai persoalan kemelut bangsa yang melanda negeri ini, tiba-tiba kita dikejutkan oleh musibah yang menimpa pejuang demokrasi, HAM, dan pluralisme, yaitu Abdurahman Wahid. Ia, setelah sempat dirawat beberapa hari dan menjalani cuci darah seperti biasa biasa, meninggal pada Rabu, sekitar pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM). Seluruh elemen masyarakat Indonesia pun berduka atas kepulangannya. Gusdur, demikian ia sering disapa, adalah guru bangsa yang telah mewarnai perjalanan Indonesia, Islam, dan keindonesiaan.

Masa lalu dan Politik Penyesalan

imam aziz

Masa Lalu dan ‘Politik Penyesalan’

Barangkali ada di antara kita, yang di waktu yang lalu melakukan kejahatan, membunuh, menghilangkan orang barangkali, dan para pelaku itu barangkali masih lolos dari jeratan hukum, kali ini negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi drakula dan penyebar maut di negeri kita. (Konperensi Pers Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pasca ledakan bom Kuningan, Jum’at 17 Juli 2009)

Masa lalu, sebuah topik penting yang menjadi perhatian kalangan akademik, politik, maupun aktivis untuk mamahami salah satu problematika dalam negara transisional. Apa makna masa lalu pada masa kini dan masa depan? Bagaimana masyarakat dan bangsa mengatasi peristiwa-peristiwa traumatik?

TUTUR: “Susahnya Hidup di Indonesia”

diana karmilah

Yuni Chen adalah aktivis keturunan Tionghoa yang lahir 26 tahun lalu. Meskipun beresiko dan tidak menguntungkan secara materi, semangat untuk mengabdi pada nilai-nilai sosial-kemanusiaan sebagai aktivis tetap ia jalani tanpa pamrih. Meskipun ditentang oleh ibunya, dan sempat diusir gara-gara aktif sebagai sekretaris MUDIKA (Muda-Mudi Khatolik), Yuni kini aktif di JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) di Jawa Barat, meskipun dengan sembunyi-sembunyi. Karena bagi dia, lembaga ini sesuai dengan idealismenya dan punya tujuan sama yaitu ingin mewujudkan perdamaian tanpa melihat perbedaan keyakinan.

Ruas Edisi V tahun 2009

ruasV-09.jpg

RUAS
Membangun Indonesia Damai dan Sejahtera

Penanggungjawab: AS. Burhan. Pemimpin Umum: Rumekso Setiadi. Sekretaris Redaksi: Pipit Ambarmirah. Redaktur: Ananto Sulistyo, Rafika Husniyati, Erwin Endaryanta, Ahmad Shidqi, Dianah Karmilah. Kontributor: PC LAKPESDAM Banyuwangi, LePIM Kediri, Sekolah Rakyat Merdeka Probolinggo, LPBH NU Pasuruan, Lembaga Studi dan Pengembangan Masyarakat Nganjuk, COLEPS Jember, PC LAKPESDAM Sumenep, Paricara Tulungagung, PC LAKPESDAM Blitar, LKIPP Situbondo, LPKP’ 65 Bali, ALUR Batang, LKTS Boyolali, FSAS Jepara, LPAW Blora, INDIPT Kebumen, PC LAKPESDAM Cilacap, DIALEKTIKA Purwokerto, FRESH Pati, INCReS Bandung, LAKPESDAM Indramayu, LAMUDA Cianjur, Yayasan Khatulistiwa Cirebon, LKA HAM Tasikmalaya, Lingkar Studi Garut, LAKPESDAM Gunungkidul, Fatayat NU Bantul, FOPPERHAM Yogyakarta, INFEST Sleman, Melati Putih Kulon Progo, LKIS dan Syarikat Yogyakarta.

Diskusi Pengarusutamaan Gender dalam Resolusi Konflik

Dalam diskusi selasa-an ini Syarikat Indonesia mengangkat tema gender dan rekonsiliasi. Tema ini menempatkan gender sebagai analisa sosial yang didalamnya menitikberatkan pada analisa peran, kedudukan dan relasi perempuan di dalam dimensi konflik. Analisa ini diharapkan mampu mendudukkan kesetaraan dan keadilan gender dalam pilihan – pilihan resolusi konflik yang feasible di Indonesia.

SisipanUkuran
MATERi diskusi syarikat.ppt196 KB

Penopang Kekuasaan Soeharto di Indonesia

Pilar Simbolik Penopang Kekuasaan Soeharto

 

purnawanOleh: Purnawan Basundoro

Di negara-negara penganut demokrasi modern penopang utama kekuasaan adalah rakyat. Rakyat melegitimasi kekuasaan melalui pemilihan umum. Indonesia kurang mengalami penglaman dalam hal ini. Hampir semua presiden di Indonesia memiliki legitimasi yang amat rendah dari rakyat, hanya presiden terakhir saja yang dipilih langsung oleh rakyat sehingga cukup legitimat. Hal ini menandakan bahwa masa lalu Indonesia belum menjadi negara yang demokratis. Sukarno naik menjadi presiden karena posisinya yang amat menonjol selama periode pergerakan sampai pendudukan Jepang. Posisinya hampir tidak tergoyahkan, dan upaya untuk meruntuhkannya hanya bisa dilakukan dengan sebuah konspirasi yang cukup canggih antara elemen-lemen penentang di dalan negeri dengan elemen-elemen di luar negeri. Hasilnya adalah pertumpahan darah di hampir semua wilayah Indonesia yang mengantarkan Jenderal Suharto menjadi presiden. Dengan demikian legitimasi terkuat naiknya Jenderal Suharto menjadi presiden adalah ceceran darah anak negeri yang melahirkan dalih bahwa untuk menghentikan ceceran darah tersebut maka ia harus mengambilalih kekuasaan. Lalu mengapa ia bisa bertahan sampai 32 tahun berkuasa? Apakah ia selalu mereproduksi legitimasi ceceran darah tersebut untuk melanggengkan kekuasaannya? Ataukah ia disangga oleh pilar-pilar yang demikian kokoh? Apa saja pilar-pilar penyangga kekuasaannya tersebut?

WAWANCARA, Kita Belum MERDEKA 100% !

PEjuang 45a.jpgTindakan kriminal dan kekerasan yang  terjadi di Indonesia belakangan ini tidak hanya disebabkan oleh perbedaan dalam memahami ajaran agama, namun juga kurang bisa mengerti makna demokrasi HAM dan paham kebangsaan.

Hal itu memunculkan tanggapan dari berbagai kalangan, diantaranya Mbah Karyadi Marto Diyono (77 th), salah satu pendiri dan pengurus LPRKROB Kab. Gunungkidul, mantan staf Dinas Penerangan Kab. Gunungkidul dan mantan Ketua I Com DPRGR Kecamatan Nglipa. Berikut ini wawancara Irham & Ikhsan dari RUAS yang disajikan kepada pembaca.

OPINI, Melanggengkan Kekuasaan Lewat Dendam & kebencian

Oleh: Cyprianus Lilik K. P. *

Lilik.jpgApa arti nasionalisme? Apa arti menjadi Indonesia? Tanyakan pada sekian banyak anak muda, tanyakan pada diri sendiri. Dan ternyata, kita dibuat gelisah karenanya. Barangkali, hanya anak-anak yang memiliki jawaban relatif lengkap dan positif. Tetapi itu takkan berlangsung lama. Tentu saja. Karena masih segar di kepala mereka pelajaran kebangsaan yang diperoleh. Sayangnya, biarpun mereka bisa menjawab toh jawaban-jawaban itu tak lagi selengkap anak-anak sekolah di zaman Orde Baru karena jawaban itu lahir dari indoktrinas. Akan tetapi ketidak-mampuan kita memandang positif rasa kebangsaan – bahkan merasakan kehadiran  kebangsaan – itu sebagai bagian eksistensial dari individualitas kita adalah sebuah kehilangan yang besar.

 

Misi dan Visi

Visi Syarikat Indonesia :
Mewujudkan  transformasi sosial menuju masyarakat Indonesia yang adil, menghargai HAM dan kemajemukan, damai dan demokratis.  

Misi dan Nilai Dasar:

CTC dan Anak SD

sdgombg1.jpg sdgombg2.jpg

Bulan Agustus ini, Syarikat Indonesia kedatangan tamu dari SD Gombang, kelas 4, 5 dan 6. Mereka bersama gurunya ingin belajar komputer dari level tidak pernah ketemu komputer. Anak-anak mengakses fasilitas CTC per kelas pada hari Senin, Kamis dan Sabtu jam sebelas hingga tigabelas siang.