rekonsiliasi
Ahmad Tohari dan Rekonsiliasi
![]() |
Keterlibatan seniman dalam berbagai masalah yang dihadapi masyarakatnya memiliki nilai istimewa. Menurut Lucien Goldman, sastrawan besar tidak sekedar menyampaikan pikirannya sebagai seorang idividu. Dia merepresentasikan pandangan dunia (world view, weltanschauung) bahkan semangat jaman (spirit of time) sebuah kelompok masyarakat (Damono, 1977). Dengan demikian, apa yang dikemukakan sang seniman ‘serius’ dapat dikategorikan sebagai memori kolektif sebuah komunitas bangsa. |
Seeing the Indonesia’s past from my village
By Budiawan
Mdm. Francois Mitterand’s visit
I had never dreamed before that the river near the village where I grew up was visited by the former first lady of France, Mdm. Francois Mitterand. It was February 2, 1999, eight months after Suharto stepped down following the mass student demonstrations and racialized pogroms in a number of big cities in Indonesia, Mdm. Mitterand and a number of French and Indonesian human rights advocates visited the river. Another group of visitors coming with them were tens of former political prisoners who had been accused of being involved in the September 30, 1965 events, i.e., the kidnapping and killing of six top army officers and a lieutenant. (Since the Indonesian Communist Party [or the PKI] was accused of having masterminded the killing, anybody having been associated with the Party was either killed or imprisoned without trials for years).
REKONSILIASI, RAKA SWASTA, Nasi Sudah Jadi Bubur, Tak Perlu Disesali
SENIMAN adalah manusia merdeka. Tapi di era Soekarno mereka harus memilih tempat untuk mengekspresikan karyanya. Ada yang ikut Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), ada yang ikut LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) dan ada pula yang masuk Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia).
Celakanya, begitu negeri ini dilanda prahara politik tahun ’65, banyak seniman anggota dan simpatisan Lekra ditangkap dan dipenjara karena dituduh PKI. Padahal karya-karya mereka begitu bermakna bagi tumbuh suburnya jiwa nasionalisme. Satu di antaranya adalah Raka Suwasta, seniman lukis bali yang dipenjara karena menjadi anggota Lekra. Berikut ini penuturannya kepada RUAS.
Pengungkapan Fakta 1965 Tanpa Disertai Ancaman
SLEMAN, KOMPAS - Sebagai upaya rekonsiliasi mewujudkan perdamaian di Indonesia, masyarakat perlu memberi kesempatan bagi pengungkapan fakta-fakta yang terjadi di seputar tahun 1965. Karena ada berbagai macam fakta di lapangan, pengungkapannya diharapkan dapat dilakukan tanpa disertai ancaman pada kelompok lain yang berbeda pandangan.
Tentang Tragedi 1965
Tahun 2005 merupakan tahun peringatan 40 tahun salah satu lembaran paling hitam dalam sejarah Indonesia, yakni Tragedi 1965. Dalam tragedi itu ada tujuh orang perwira tinggi Angkatan Darat ditangkap dan dibunuh sebagai akibat operasi militer yang diadakan oleh Letkol Untung dan kawan-kawan. Selanjutnya ada ratusan ribu rakyat Indonesia yang kemudian dalam tempo beberapa bulan tewas dibantai oleh sesama warga negara.
Membangun Teologi Rekonsiliasi
Membangun Teologi Rekonsiliasi
Oleh Abdul Mukti Ro'uf,
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta
SELAIN agenda pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), bangsa Indonesia masih memiliki utang sejarah tentang penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia yang menumpuk sejak peristiwa G-30-S hingga tragedi 12-13 Mei 1998. Peristiwa politik yang menjadi beban sejarah bangsa hingga saat ini masih amat sulit untuk dipecahkan. Sejarah kelam ini harus secara jujur diakui sebagai 'borok' bagi sebuah perjalanan bangsa yang besar. Momentum reformasi yang diharapkan dapat memberikan jalan pelurusan sejarah sepertinya masih 'ketar-ketir'. Ada keengganan politik yang menyelimuti para decision maker untuk berani membuat terobosan sejarah.
Konspirasi dan Genocida
Kemunculan Orde Baru dan Pembunuhan Massal
Oleh Bonnie Triyana
KONSPIRASI DAN GENOSIDA:
Kemunculan Orde Baru dan Pembunuhan Massal 1
Oleh Bonnie Triyana 2
Gestapu 1965: Awal Sebuah Malapetaka

