penelitian
Awal Mula Syarikat
Pada sebuah pertemuan jaringan kaum muda NU di Pesantren “Ribatul Muta’allimin” Pekalongan (Jawa Tengah) pada awal tahun 2000, disepakati untuk mengusung isu “Tragedi 1965”. Sejak itu mulai dilakukan diskusi-diskusi, dan merancang strategi untuk menggarap isu sensitif ini. Dikatakan sensitif karena di dalam sejarahnya, keterlibatan kelompok Islam dan khususnya Nahlatul Ulama dalam proses pembasmian (orang-orang) komunis di Indonesia, sangatlah masyhur dan tak bisa ditutup-tutupi.
Bedah Buku di PSSAT UGM
![]() |
Ketika Sejarah Berseragam Jumat, 29 Agustus 2008 Bersama: |
Temu Kiprah Perempuan DIY dan Komnas Perempuan

Ibu-ibu survivors 65 DIY yang tergabung dalam KIPER, mengadakan diskusi dengan KOMNAS PEREMPUAN Divisi pengembangan sistem pemulihan pada Minggu 24 Agustus 2008 di rumah ibu Sumarmiyati, Yogyakarta, dalam pertemuan tersebut, anggota KIPER hadir kurang lebih 15 orang (ada anggota yang datang dari Bantul), sedangkan dari KOMNAS PEREMPUAN dihadiri oleh Ibu Nunuk , Ibu Azriana, Ibu Sri Wiyanti, Ibu Sawitri.
Menyintas dan Menyeberang
![]() |
Menyintas dan Menyeberang : Perpindahan Massal Keagamaan Pasca 65 di Pedesaan Jawa ISBN : 978-979-1287-01-3 Pesan via e-mail : terbit@syarikat.org |
Ketika Sejarah Berseragam
![]() |
Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer No. ISBN : 978-979-1287-01-2 Pesan via e-mail : terbit@syarikat.org |
Seeing the Indonesia’s past from my village
By Budiawan
Mdm. Francois Mitterand’s visit
I had never dreamed before that the river near the village where I grew up was visited by the former first lady of France, Mdm. Francois Mitterand. It was February 2, 1999, eight months after Suharto stepped down following the mass student demonstrations and racialized pogroms in a number of big cities in Indonesia, Mdm. Mitterand and a number of French and Indonesian human rights advocates visited the river. Another group of visitors coming with them were tens of former political prisoners who had been accused of being involved in the September 30, 1965 events, i.e., the kidnapping and killing of six top army officers and a lieutenant. (Since the Indonesian Communist Party [or the PKI] was accused of having masterminded the killing, anybody having been associated with the Party was either killed or imprisoned without trials for years).
Dewan Jendral "Adakah?'
Pada saat makin banyak orang mulai meragukan tuduhan Orba, G30S didalangi PKI, seorang yang menggunakan nama samaran Pelana Kuda, malah berubah sikap menjadi sehaluan dengan Orba untuk menuduh PKI-lah dalang G30S. Menjadi seorang yang berusaha dengan keras mempertahankan tuduhan Orba bahwa PKI adalah dalang G30S, yang sudah mulai diragukan kebenarannya dan melihat tuduhan itu merupakan pemutar-balikan kenyataan, hanya digunakan oleh Letjen Soeharto ketika itu sebagai alasan untuk melarang dan membasmi PKI dari bumi Indonesia saja PROF DR W.F. WERTHEIM : 'SOEHARTO DALANG G30S"



