Sejarah
Portrait of Indonesian Nationality Tidal History
Agrarian Reform
(Portrait of Indonesian nationality Tidal History)1
Tri Chandra Aprianto2
Two-faced nature of many revolutionary movements and counter-revolutionary sometimes complicate the proper designation of such movements. Because the sound of revolution in many circles the term is not as bad as the counter-revolution so little movement that openly calls themselves as counter-revolution. (Wertheim, tt:233)
I. Introduction
Reformasi Agraria Indonesia
Reforma Agraria
(Potret Pasang Surut Sejarah kebangsaan Indonesia)
Tri Chandra Aprianto
Sifat yang bermuka-dua dari banyak gerakan revolusioner dan kontra-revolusioner kadang-kadang mempersulit pemberian sebutan yang tepat pada gerakan seperti itu. Karena bunyi istilah revolusi pada banyak kalangan tidak seburuk kontra-revolusi maka hanya sedikit gerakan yang secara terang-terangan menyebut dirinya kontra-revolusi. (Wertheim, tt:233)
| Sisipan | Ukuran |
|---|---|
| pasang surut sejarah RA di Indonesia-chandra-.pdf | 123.04 KB |
Antara Menulis Sejarah dan Mengkaji Politik Ingatan
Oleh Budiawan
Setiap upaya mengungkap misteri sejarah hampir selalu mengundang kontroversi. Sebab, misteri sejarah itu sendiri meninggalkan sikap ambivalen. Di satu sisi ada hasrat yang menggebu untuk ingin tahu; tetapi di sisi lain ada keraguan apakah hasrat ingin tahu itu bisa terpuaskan.
Keraguan itu sendiri bersumber dari kondisi bahwa suatu peristiwa atau episode atau tokoh sejarah disebut diselimuti misteri karena jejak-jejak historis yang ditinggalkannya – apapun bentuknya – sangat tidak mencukupi sebagai bahan rekonstruksi masa lalu. Itulah sebabnya orang cenderung menerima narasi sejarah yang telah menjadi semacam “kesepakatan umum”, namun tetap tak mampu membunuh, jika bukan memelihara, hasrat ingin tahu itu. Tidaklah mengherankan, munculnya setiap upaya mengungkap misteri sejarah dengan menyodorkan “fakta-fakta baru” hampir selalu mengundang antusiasme publik. Tetapi, hal ini tidak dengan sendirinya membuat “fakta-fakta baru” itu diterima sebagai “kebenaran baru”. Di sinilah letak kontroversi itu.
Memori Kolektif dan Memori Individu
Oleh : Abdul Syukur
Menarik mengikuti perdebatan soal history, his story dan sorry dari Julius Pour, Rumekso dan Romo Baskara. Pada dasarnya ini adalah perdebatan sejarah paling tua, yakni perebutan klaim kebenaran antara collective memory dengan individual memory. Sudah lama sejarawan memperdebatkannya, karena sering kali collective memory bertentangan dengan individual memory. Belum lagi antar collective memory juga bertentangan, misalnya collective memory Jepang dengan bangsa-bangsa yang pernah dijajahnya. Kita juga mempunyai potensi bertentangan collective memory dengan Timor Leste. Namun saya tidak ingin membahas pertentangan antar collective memory ini, karena tidak berkaitan dengan polemik Julius, Rumekso dan Romo Baskara. Polemik ketiganya harus dilihat sebagai representasi dari polemik collective memory dan individual memory. Dalam hal ini Julius mewakili collective memory, sementara Yoyok dan Romo Bas mewakili individual memory.
Membaca Sejarah secara Terbalik
Oleh: Rumekso Setyadi
Pertengahan 2006 sekelompok seniman Yogyakarta yang dimotori oleh Agus Suwage dkk yang disponsori oleh Cemeti Art House melakukan sebuah proyek seni rupa dengan tajuk “Masa Lalu, Masa Lupa”, kelompok seniman ini melakukan sebuah eksperimentasi untuk “bermain-main” dengan sejarah tetapi “serius” dengan penciptaan kreasi seninya.
Agus Suwage dkk membuat sebuah proyek membangun “Musium Kepahlawanan Sukrodimedjo”. Sukrodimedjo adalah tokoh rekaan yang sengaja dihadirkan untuk menguji sejauh mana sejarah dalam artian fakta itu cenderung lebih dekat dengan sebuah rekayasa yang disepakati dan mempunyai sifat yang rapuh dalam ingatan kolektif. Alhasil, dalam pameran seni ini, sang tokoh Sukrodimedjo dihadirkan secara visual melalui lukisan dan segala pernak-pernik memorabilia, yang khas kita dapatkan dalam sebuah museum, dipajang di pameran ini.
Supriyadi, Sejarah dan Narasi Masyarakat
Oleh Baskara T. Wardaya
Belum lama berselang seorang Sejarawan senior menulis di harian Kompas dengan judul “History”, “His Story” atau Sekadar “Sorry” (Kompas 13/9/2008)—judul yang tentu sangat menarik. Dengan menarik pula sejarawan tersebut mengulas sejumlah buku yang ditulis berdasarkan tuturan para pelaku sejarah. Menurutnya buku-buku seperti itu perlu dipertanyakan karena cenderung hanya merupakan kumpulan “his story” tanpa bukti. Dia terkesan bersorak ketika ada buku yang dibakar hanya karena ada bagian-bagian tertentu yang dianggapnya “ajaib”. Mengingat bahwa salah satu buku yang diulas adalah buku berjudul Mencari Supriyadi, kiranya sebuah catatan perlu disampaikan di sini.
"History", "His Story", atau Sekadar "Sorry"
|
| BUKU SUPERSEMAR / Kompas Images Soebandrio, eks Wakil Perdana Menteri I, di muka sidang Mahmillub, 3 Oktober 1966. |
Sabtu, 13 September 2008 | 03:00 WIB
Ahmad Tohari dan Rekonsiliasi
![]() |
Keterlibatan seniman dalam berbagai masalah yang dihadapi masyarakatnya memiliki nilai istimewa. Menurut Lucien Goldman, sastrawan besar tidak sekedar menyampaikan pikirannya sebagai seorang idividu. Dia merepresentasikan pandangan dunia (world view, weltanschauung) bahkan semangat jaman (spirit of time) sebuah kelompok masyarakat (Damono, 1977). Dengan demikian, apa yang dikemukakan sang seniman ‘serius’ dapat dikategorikan sebagai memori kolektif sebuah komunitas bangsa. |
Misi dan Visi
Visi Syarikat Indonesia :
Mewujudkan transformasi sosial menuju masyarakat Indonesia yang adil, menghargai HAM dan kemajemukan, damai dan demokratis.
Misi dan Nilai Dasar:
Diskusi Buku Menyintas dan Menyeberang
Penelitian menunjukkan bahwa Islam terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan agama yang dianggap sangat dekat dengan pelaku kekerasan di masa itu. Persepsi itu terbangun dari keterlibatan sejumlah ormas Islam di beberapa daerah dalam menyikapi peristiwa 1965, dan itu dianggap sebagai representasi dari kelompok Islam secara keseluruhan. Sikap keras sebagian kelompok Islam terhadap orang-orang yang memiliki keterikatan dan keterkaitan dengan komunis banyak dipengaruhi ketidaktegasan pemisahan antara agama dan politik, dirasakan oleh korban sebagai sebagai citra Islam secara keseluruhan.

