konflik

Perlu Gerakan Menagih Janji KKR Wawancara dengan Priyambudi Sulistyanto

Priyambudi Sulistyanto

WAWANCARA : Perlu Gerakan Menagih Janji KKR

Dalam ‘Debat Capres’ yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum beberapa waktu lalu, isu rekonsiliasi yang sudah mulai senyap digulirkan kembali. Salah satu capres yaitu, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) bahkan berjanji akan membentuk KKR kembali. Lalu bagaimana sebenarnya masa depan KKR di Indonesia, berikut wawancara Pipit Ambarmirah dari RUAS dengan Priyambudi Sulistiyanto yang saat ini menjadi staf pengajar di Universitas Flinders Australia dan aktif menulis beberapa buku dan artikel tentang studi perbandingan politik di Indonesia, masalah otonomi daerah dan isu-isu HAM.

Rekonsiliasi sudah sering kita dengar sejak lama, sejak zaman reformasi sampai kemudian muncul KKR sebagai salah satu bentuk respon terhadapnya. Meskipun kemudian KKR sendiri dibatalkan oleh MK, tetapi kemarin dalam debat capres yang pertama isu tentang KKR ini digulirkan kembali. Apa tanggapan Anda?

Ruas Edisi V tahun 2009

ruasV-09.jpg

RUAS
Membangun Indonesia Damai dan Sejahtera

Penanggungjawab: AS. Burhan. Pemimpin Umum: Rumekso Setiadi. Sekretaris Redaksi: Pipit Ambarmirah. Redaktur: Ananto Sulistyo, Rafika Husniyati, Erwin Endaryanta, Ahmad Shidqi, Dianah Karmilah. Kontributor: PC LAKPESDAM Banyuwangi, LePIM Kediri, Sekolah Rakyat Merdeka Probolinggo, LPBH NU Pasuruan, Lembaga Studi dan Pengembangan Masyarakat Nganjuk, COLEPS Jember, PC LAKPESDAM Sumenep, Paricara Tulungagung, PC LAKPESDAM Blitar, LKIPP Situbondo, LPKP’ 65 Bali, ALUR Batang, LKTS Boyolali, FSAS Jepara, LPAW Blora, INDIPT Kebumen, PC LAKPESDAM Cilacap, DIALEKTIKA Purwokerto, FRESH Pati, INCReS Bandung, LAKPESDAM Indramayu, LAMUDA Cianjur, Yayasan Khatulistiwa Cirebon, LKA HAM Tasikmalaya, Lingkar Studi Garut, LAKPESDAM Gunungkidul, Fatayat NU Bantul, FOPPERHAM Yogyakarta, INFEST Sleman, Melati Putih Kulon Progo, LKIS dan Syarikat Yogyakarta.

Suara Mereka yang Teraniaya

Suara Mereka yang Teraniaya

PEMILU 2009 semakin dekat, semua parpol berlomba-lomba memasang iklan di media massa. Juga bilboard dan spanduk di jalan-jalan. Dengan kata-kata semanis madu, janji-janji muluk, para calon pemimpin itu mengobral janji pada para calon pemilih. Berdasar pengalaman masa lampau, semua hanya pemanis bibir saja “just talk no action”.
Bagaimana dengan pemilu 2009?

Konflik berkesinambungan

Regenerasi Konflik di Indonesia

Erwin Endaryanta

Dalam masyarakat yang heterogen, konflik dapat dipandang sebagai tenaga perubahan masyarakat maupun penghambat dalam perubahan masyarakat. Realitas heterogenitas Indonesia, baik dalam dimensi suku, agama, ras maupun sebaran sumber daya alam dan manusia yang beragam membutuhkan pengelolaan konflik sebagai manifestasi dari perubahan.

Download Formulir Pengaduan atas Laporan Pelanggaran Kampanye Pemilu 2009 ke Panwaslu

Mendukung perdamaian dan anti kekerasan adalah nafas yang selalu digunakan dalam berbagai bidang. Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 ini harus melibatkan berbagai pihak dengan satu nafas yaitu anti kekerasan dan perdamaian. Intrik-intrik politik yang terjadi tentusaja bukan buatan orang bodoh atau warganegara biasa yang dalam mencari sesuap nasipun masih kelabakan, dan entah esok hari mau makan apa. Tidak beda jauh dengan adanya krisis global maupun surplusnya APBN, tetep saja pendapatan harus diperjuangkan rupiah demi rupiah dari waktu ke waktu seakan tidak ada perubahan yang berarti.

SisipanUkuran
FORMULIR PENGADUAN.doc265.5 KB

Reformasi Agraria Indonesia

Reforma Agraria
(Potret Pasang Surut Sejarah kebangsaan Indonesia)
Tri Chandra Aprianto

Sifat yang bermuka-dua dari banyak gerakan revolusioner dan kontra-revolusioner kadang-kadang mempersulit pemberian sebutan yang tepat pada gerakan seperti itu. Karena bunyi istilah revolusi pada banyak kalangan tidak seburuk kontra-revolusi maka hanya sedikit gerakan yang secara terang-terangan menyebut dirinya kontra-revolusi. (Wertheim, tt:233)

SisipanUkuran
pasang surut sejarah RA di Indonesia-chandra-.pdf123.04 KB

Manajemen konflik berbasis warga

diskusi bulanan syarikat indonesiaMANAJEMEN KONFLIK BERBASIS WARGA[1]

Robert B. Baowollo[2]

 Pengantar

Saya dengan sengaja memilih judul makalah berbeda dengan tema yang diberikan panitia (’Model-Model Resolusi Konflik Berbasis Karakter Lokalitas’) karena dua alasan: pertama, pembahasan dan diskusi tidak perlu terjebak pada pekerjaan melakukan kompilasi atas model-model resolusi konflik – suatu pekerjaan yang jelas tidak mungkin selesai dalam satu sesi diskusi; kedua, saya menghindari penggunaan frasa ’lokalitas’ atau ’karakter lokalitas’ karena ingin memberi tempat pada aktor lokal ketimbang karakteristik lokal dan deskripsi atau spesifikasi kondisi locus konflik. Saya memilih memakai frasa ’berbasis warga’ (community based) mengandaikan bahwa adalah komunitas yang terlibat dalam konflik itulah yang harus diberdayakan untuk menjadi aktor pertama dan utama dalam mengelola konflik, baik itu konflik intrakelompok maupn konflik antarkelompok.

OPINI, Melanggengkan Kekuasaan Lewat Dendam & kebencian

Oleh: Cyprianus Lilik K. P. *

Lilik.jpgApa arti nasionalisme? Apa arti menjadi Indonesia? Tanyakan pada sekian banyak anak muda, tanyakan pada diri sendiri. Dan ternyata, kita dibuat gelisah karenanya. Barangkali, hanya anak-anak yang memiliki jawaban relatif lengkap dan positif. Tetapi itu takkan berlangsung lama. Tentu saja. Karena masih segar di kepala mereka pelajaran kebangsaan yang diperoleh. Sayangnya, biarpun mereka bisa menjawab toh jawaban-jawaban itu tak lagi selengkap anak-anak sekolah di zaman Orde Baru karena jawaban itu lahir dari indoktrinas. Akan tetapi ketidak-mampuan kita memandang positif rasa kebangsaan – bahkan merasakan kehadiran  kebangsaan – itu sebagai bagian eksistensial dari individualitas kita adalah sebuah kehilangan yang besar.

 

LAPORAN UTAMA, Perlu Kebijakan Kosisten dari Penyelenggara Negara

Oleh: Erwin Endaryanta

erwiin.jpgMASIH ingat peringatan hari kelahiran Pancasila 1 Juni 2008 di Monas Jakarta yang berakhir ricuh?  Peristiwa yang membuat tokoh-tokoh pendukung pluralisme berang ini mendapat tanggapan serius. Tak hanya dari tokoh-tokoh dalam negri tapi juga dari luar negri. The United Nations Committee against Torture (UNCAT) misalnya,  yang kemudian merekomendasikan bahwa Indonesia perlu menangani munculnya kekerasan terhadap minoritas agama tertentu. (Jakarta post, 22/05/2008). Akar persoalan peristiwa itu adalah munculnya kekerasan didalam menanggapi aksi yang mengusung agenda pengembalian nilai – nilai pluralisme dan toleransi terhadap perbedaan. Baik perbedaan agama, ideologi maupun politik, yang sebaiknya dikembalikan dalam ukuran-ukuran Pancasila.

Ruas, Agustus 2008

EDITORIAL

Mencari Makna Baru Kemerdekaan

ruas_AGUSTUS_Page_01.jpgMERDEKA artinya bebas. Bebas dari penjajahan, bebas mengemukakan pendapat, bebas berkumpul dan berserikat. Semua itu diatur dalam UUD 45. Artinya, negri ini telah sepakat mendasari kehidupan bangsanya dalam bangunan demokrasi.

Ketika Soekarno berkuasa, ia menerapkan konsep Demokrasi Terpimpin. Sebagian lawan politiknya masuk penjara. Tapi tak dipukuli dan dianiaya Keluarganya pun tak disangkut pautkan. Perempuan dan anak-anak tetaplah diberi kebebasan hidup di luar penjara sebagai warga negara biasa.