Berdamai dengan Sejarah
Seorang korban peristiwa 1965 ini mengisahkan perjuangan hidup untuk bangkit kembali dalam buku "Dari Pulau Buru ke Tanah Suci Mekah" yang baru terbit. Suparman Amirsyah adalah Pemimpin Umum Harian Warta Bandung menjelang peristiwa naas Gerakan 30 September. Sepulang dari pulau Buru, tentu ia tidak bisa bekerja di dunia pers.
Walau tidak memiliki latar belakang linguistik, ia terpaksa mengajar bahasa Inggris. Hanya lowongan sejenis itu yang mungkin bagi seorang tapol. Ternyata ia memiliki metode pengajaran bahasa yang ampuh. Prinsipnya, "belajar bicara adalah pelajaran yang paling mudah selama Anda tidak gagu". Ia teringat ketika masuk HIS dahulu. Tidak bisa berbahasa Belanda sama sekali, tetapi karena tiap hari mendengar dan menirukan terus menerus, maka secara otomatis ia bisa mengucapkannya dengan baik dan benar, hanya dalam tempo beberapa bulan.
Dalam hubungan ini Suparman teringat kepada sobekan majalah Reader Digest yang ditemukannya di kamp penahanan Kebon Waru Bandung sebelum dikirim ke pulau Buru. Pada kertas sobekan itu terdapat ungkapan linguis Robert Lado yang mengatakan "Otak manusia bisa merekam sesuatu yang baru setelah ia mengucapkannya keras-keras selama 30 kali berulang-ulang." Bagi kaum Muslimin barangkali hal ini bukan hal yang baru atau luar biasa, tapi sudah menjadi kewajiban setiap hari pada saat salat 5 waktu. Nabi Muhammad saw mengajarkan wirid sejak abad ke-7, diucapkannya 33 kali dengan suara yang keras. Luar biasa. Ternyata beliau bukan hanya seorang Rasul tetapi juga seorang paedagog yang agung.
Peserta didik Suparman semakin banyak. Bukan hanya perorangan, tetapi kemudian meningkat berbentuk permintaan mengajar dari instansi, antara lain dari Nurtanio (kemudian jadi PT Dirgantara Indonesia).
Suparman juga diminta mengajar oleh PT Mercubuana, milik konglomerat Probosutejo. Pada tahun 1981, Mercubuana mendapat projek membangun bendungan PLTA Saguling bekerja sama dengan perusahaan Prancis Dumez. Di projek itu Suparman ditempatkan di sebuah Base Camp yang fasilitasnya sama dengan orang-orang Prancis.
Penghasilannya semakin bertambah. Anak-anak tercukupi kebutuhannya. Selain itu ia bisa mengangsur pinjaman kepada serorang dosen yang baik budi dengan ikhlas memberi pinjaman tanpa bunga untuk membangun rumah. Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1980 rumah itu selesai. Berukuran relatif besar, 10 X 20 meter persegi, 3 kamar tidur, kamar pembantu, dua kamar mandi, dapur dan ruang tamu, ruang makan yang luas. Terletak di Gegerkalong Girang, kira-kira lima ratus meter sebelah barat pondoknya Aa Gym.
Dalam tempo satu tahun lebih sedikit mereka sudah tinggal di rumah sendiri dan mengisi perabotannya. Ini merupakan prestasi tersendiri. Sementara masih banyak teman-teman yang hidupnya masih belum menentu. Mereka masih terlunta-lunta dari satu kantor ke kantor lain untuk mencari pekerjaan. Semua pintu tertutup bagi bekas tapol yang betul-betul menjadi pecundang dari keganasan sistem totaliter Orde Baru.
Beberapa tahun kemudian, usahanya dalam bidang pendidikan berkembang baik terutama setelah ia hijrah dari Bandung ke Tasikmalaya dan bersama rekannya mendirikan sekolah sendiri. Kepada aparat keamanan yang mencoba memeriksa, Suparman memberi penjelasan bahwa ia hanya berusaha mengembangkan ketrampilan masyarakat bukan untuk berpolitik.
Ia kemudian sempat menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu naik Haji ke Mekah. Berarti melalui perjalanan hidupnya (termasuk dalam pengajaran bahasa asing), Haji Suparman telah memadukan antara IQ (intelligence quotient), EQ (experimental quotient) dengan SQ (spiritual quotient). Perjalanan ke tanah suci Mekah baginya merupakan perjalanan menembus tirai kebesaran Ilahi.
"Bagi saya, kepergian saya bersama istri saya tercinta, melaksanakan ibadah haji mempunyai makna yang lain, makna yang agung, yang tak pernah disadari sebelumnya, yaitu kesadaran apa yang kami lakukan selama ini, termasuk selama kami dikucilkan, dipenjarakan dan dibuang ke pulau Buru oleh pemerintah zalim Soeharto, hanya karena kami menginginkan, merindukan terciptanya sebuah masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, aman dan damai tanpa ada perbedaan strata sosial, tanpa ada kekerasan dan tanpa ada diskriminasi. Semua sama, sama seperti di hadapan Allah Subhanahu Wataala."
"Dengan kekuasaan Allah dan ihtiar manusia yang terus menerus, tak henti-hentinya, dengan segala penderitaan dan kesabaran, serta ketawakalan, pada suatu saat kelak, akan terciptalah di atas bumi ini suatu masyarakat yang damai, yang adil dan yang sejahtera, yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Amien Ya Robbul Alamin. Allahu Akbar."
Membaca kisah Haji Suparman ini saya teringat kepada Haji Misbach tokoh pergerakan kiri pada awal abad ini. Juga para haji yang berontak tahun 1926/1927 di Silungkang dan Banten melawan pemerintah penjajah Belanda. Buku Suparman ini juga diberi pengantar yang menyejukkan oleh Acep Zamzam Noor, sastrawan dari pondok pesantren Cipasung. Ia menilai apa yang dilakukan ini sebagai rekonsiliasi kultural. Memang tidak adanya gunanya melanjutkan dan mewariskan dendam, bangsa kita harus berdamai dengan sejarah. ***
Oleh ASVI WARMAN ADAM
Pikiran Rakyat, 2 Oktober 2006
Penulis, Ahli Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
