di Balik Tragedi Gestapu
Di dalam isi laporannya, pemotongan alat vital dan pencungkilan bola mata ketujuh Jenderal Angkatan Darat pada peristiwa Gerakan 30 September (G-30-S) 1965 itu tidak ada sama sekali. G-30-S sering juga disingkat Gestapu. Sangat jauh berbeda dengan yang dilansir, baik oleh semua surat kabar yang beredar di tahun 1965, maupun di dalam berpuluh-puluh edisi buku sejarah kebangsaan RI seputar drama keji Gestapu yang kita pelajari bertahun-tahun. Termasuk, oleh film "Pengkhianatan G 30 S/PKI" keluaran Pusat Produksi Film Negara (PPFN) yang disulap menjadi "alat propaganda" pemerintahan Orde Baru dalam merangkai sejarah bangsa ini.
Petikan wawancara dengan Dr Arif Budianto itu sendiri merupakan secuplik adegan di film Shadow Play. Tak lain, film dokumenter produksi Hilton Cordel/Vagabons Film 2001 yang menuturkan kisah lain seputar tragedi Gestapu 1965. Dan bukan tidak mungkin, satu dari sekian banyak cuplikannya, entah peristiwa, keterangan, atau pun wawancara dengan saksi hidup lainnya di film ini, bisa "berbicara banyak" dalam menyingkap tabir sesungguhnya di balik peristiwa Gestapu tersebut.
Mencoba Objektif
Berdurasi sekitar 76 menit, Shadow Play mencoba untuk lebih objektif mengemukakan peristiwa tahun 1965, baik dari perspektif sejarah maupun para korban pasca peristiwa Gestapu itu. Cerita dimulai dari penggambaran masa perang dingin antara blok Barat dan blok Timur yang memuncak di pertengahan tahun 1960-an. Sayangnya, dan tentu saja, kebijakan Non Blok yang diterapkan presiden Soekarno-yang saat itu sedang menjalin hubungan baik dengan Moskow dan Peking, malah membuat Amerika dan sekutunya di blok Barat memberikan penilaian, bahwa Indonesia terlalu "dekat" dengan pihak musuh, yakni blok Timur. Dus, tak bisa tidak, pemerintahan Soekarno dianggap membahayakan, dan harus segera dijatuhkan.
Sebetulnya, penilaian barat, terutama Amerika Serikat, itulah yang bisa diangkat sebagai titik tolak terjadinya peristiwa Gestapu. Karena, betapa Shadow Play ini lugas berkisah soal keterlibatan Amerika Serikat dan Inggris, atau lebih tepatnya melalui Central Inteligent of America (CIA) itu di dalam kancah politik saat itu. Menyusul peristiwa pembunuhan jenderal-jenderal senior di TNI Angkatan Darat pada 30 September 1965. Kiranya, tak hanya itu saja bahasan penting yang menjadi benang merah untuk dicermati seputar tragedi terbesar dunia politik dan sejarah Indonesia itu. Karena, kekejaman kemanusiaan sesungguhnya yang terjadi pada pasca peristiwa itulah yang dikuatkan di film ini. Yakni, bagaimana jutaan orang-orang PKI dan rakyat yang tak terbukti anggota PKI pun diasingkan, atau dibunuh dan dikubur layaknya binatang. Jawa Tengah yang disebut-sebut sebagai basis PKI, Bali, Jawa Timur dan daerah-daerah lainnya seakan berubah menjadi kuburan massal massa PKI dan rakyat tak berdosa. Sarwo Edhi Wibowo, yang kala itu sebagai perwira paling aktif memimpin penangkapan, menyatakan ada sekitar tiga juta rakyat telah dibunuh.
Lalu, bagaimana keterikatan kalangan pers sendiri dalam menyingkapi detik per detik peristiwa ini? Bisa disimak, baik pers asing yang ada di tanah itu, maupun pers kita sendiri saat itu menjadi silap mata, hingga menyembunyikan tragedi ini sedemikian rupa. Untuk hal satu ini, Shadow Play menampilkan wawancara dengan beberapa nara sumber dari BBC dan radio Australia, dan bahkan pemimpin propaganda dari Inggris yang telak-telak berbincang ihwal pemutarbalikan fakta yang terjadi saat itu.
Ditayangkan Terbatas
Konon, film arahan sutradara Chris Hilton yang diproduseri oleh Walter Slamer dan seorang pria Indonesia, Lexy Rambadeta, ini sudah ditayangkan di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia sejak 2001 hingga saat ini.
Di Indonesia sendiri Shadow Play baru akan diputar pada awal Oktober ini, (6-7 Oktober) di Goethehaus, Menteng, Jakarta Pusat. Namun, penayangannya masih terfokus untuk kalangan pelajar SMU dan anak-anak muda Jakarta. Rencananya, Off Stream Productions sebagai pemegang hak edarnya di Indonesia, baru akan menayangkannya daerah-daerah sekitar bulan Desember. Cukup fenomenal, tentu saja. Tapi amat disayangkan, belum terlihat tanda-tanda film ini akan ditayangkan secara utuh di televisi kita. Utuh, seperti film "Pengkhianatan G 30 S/PKI yang setiap tanggal 30 Sepetember selalu muncul di layar kaca itu. Nah, akankah Shadow Play ini bisa "membungkam" sejarah 1965 seperti di film keluaran Pusat Produksi Film Negara (PPFN) itu, yang bias tetapi nyata-nyata ada selama puluhan tahun? Semoga saja. (m. latief)

