Etika Politik dan Visi Kebangsaan Khittah NU
Halaqah Nasional Alim Ulama PWNU DIY
“Etika Politik dan Visi Kebangsaan Khittah NU”
Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta
2 April 2009
Signifikansi Eksistensi, itulah dua kata yang sepanjang sejarah peradaban di Indonesia telah diperankan oleh NU dan ulamanya. Bahkan jauh hari sebelum NU sebagai jam'iyah diniyah ijtima'iyah, organisasi sosial keagamaan, dideklarasikan, 31 Januari 1926. Banyak indikasi riil menunjukkan signifikansi eksistensi tersebut. Kehidupan para wali dan ulama sesudahnya, telah bersengaja membangun model pendidikan pesantren yang tidak hanya sebagai benteng terakhir pengembangan dan cagar keberagamaan ASWAJA, TETAPI sekaligus sebagai benteng terakhir dalam mengawal kedaulatan rakyat dalam bermasyarakat dan berbangsa.
KETIKA, 100 tahun lalu peribadatan yang diajarkan para WALI dan penerusnya diusik dengan gerakan global pemberangusan oleh KELOMPOK WAHABI, para pendahulu NU gigih melawan dengan membentuk TASFIRUL AFKAR yang disusul dengan berdirinya NAHDLADTUT TUJJAR. Benteng pemikiran dan kekuatan ekonomis inilah EMBRIO bangkitnya NU. Ketika di negeri ini marak nasionalisme primordial dengan berdirinya Jong Java, Jong Celebes, dan sebagainya, para ULAMA NU justru mengingatkan pada anak muda dengan membentuk NAHDLATUL WATHAN, kebangkitan yang kebangsaan levelnya, jauh sekali dari semangat primordialisme.
Sejarah modern Indonesia memang tidak pernah telepas dari signifikansi peran tersebut. Ketika semangat pemberangusan WAHABI semakin marak, para ulama NU membentuk satu tim diplomatik ke Arab Saudi untuk memperkarakan. Misi besar tim yang disebut dengan KOMITE HIJAZ, telah sukses besar menghentikan upaya WAHABI dengan diakuinya kebebasan berpikir dan eksistensi ASWAJA. Serentetan perjuangan bagi pengembangan mutu keberagamaan Aswaja dan mutu kesejahteraan inilah yang kemudian mendorong deklarasi berdirinya NU, 31 Januari 1926. Eksistensi formal Jam'iyyah NU semakin signifikan seputar PROKLAMASI RI. Kemerdekaan, polemik PANCASILA dan PIAGAM JAKARTA, Hari Pahlawan 10 Nopember dan sebagainya, tidak pernaha akan selesai dengan baik tanpa peran politik para PEMIMPIN NU.
NAMUN, kini, ketika serangan WAHABI kembali semakin marak dengan Tabdi' dan Tafkir (membid'ahkan dan mengkafirkan) terhadap ASWAJA-NU, dan ketika bangsa ini semakin berjalan SALAH KIBLAT, Signifikansi Eksistensi NU dipertanyakan oleh anak-anak muda NU. Setidaknya, keprihatinan itulah yang muncul di kalangan anak muda NU yang tergabung dalam Lesbumi, RMI, FSPP, dan jajaran jaringannya. Peran strategis NU yang menjadikan eksistensi NU diperhitungkan selama ini, dirasakan kian memudar. Kepeloporan NU dalam menyikapi persoalan, bernegara maupun bermasyarakat dirasa semakin kurang. Juga dalam menyikapi persoalan agama, sosial, budaya dan ekonomi. Padahal NU dengan Sarbumisi, Lesbumi dan lainnya tempo hari adalah garda terdepan, mengukir nama besar dalam sejarah bangsa. Begitupun di lapangan politik praktis, NU memainkan peran sangat signifikan dalam upaya mendorong revitalisasi politik kebangsaan dan kerakyatan.
Acara ini akan berlangsung pada tanggal 2 April 2009, dari pagi hingga malam, di PP Sunan Pandanaran, Jalan Kaliurang KM. 12 Yogyakarta. Dengan peserta antara lain:
- Perumus Khittah NU 1926 yang meliputi: KH Muchit Muzadi, KH. Ma’ruf Amin, K.H. A. Musthofa Bisri, K.H. Abdurrahman Wahid, K.H. Said Agil Sirodj, K.H. Masdar Farid Mas’udi, K.H. Ahmad Bagja, Drs. H. Slamet Effendi Yusuf
- Perwakilan dari unsur PBNU
- Syuriah dan Tanfidiyah PWNU Se-Indonesia
- Syuriah dan tanfidiyah PCNU DIY
- Pimpinan Banom dan Lembaga di lingkungan PWNU DIY
- Pengasuh Pondok Pesantren se-DIY
- Tamu undangan lain
TOR dan susunan acara lengkap silahkan download sisipan di bawah.

