Globalisasi : Tata krama dunia baru yang timpang
Gelombang besar perubahan dunia telah memaksakan sebuah paradigma baru “pembangunan". Tafsir pembangunan (tanpa reserve) hanya berlaku tunggal, yaitu seluruh upaya pembangunan kemanusiaan harus tunduk dalam perhitungan ekonomi/material. Yang terjadi kemudian adalah penetrasi perubahan yang sepihak (kolonialisasi) di seluruh sektor kehidupan yang berpusat pada kekuasaan modal dan dipaksakan ke seluruh penjuru dunia. Paradigma ekonomi baru telah menciptakan komposisi penting alat-alat kapital yaitu konglomerat, tentara dan negara. Mereka menjadi pelaku ekonomi tunggal dunia baik tingkat internasional sampai dengan daerah terbawah di desa-desa dengan job diskripsi Yang telah diatur sedemikian rupa.
Negara didirikan dan dipertahankan sebagai kaki-kaki penguat dan menjustifikasi penyebaran arus kapital (dengan regulasi) dengan menempatkan para "agent kapital" dalam birokrasi, memperkuat "anjing penjaga" dan memperluas akses kapital bagi konglomerat dengan paksaan deregulasi dan debirokratisasi. Yang pada akhirnya menciptakan model ekonomi baru yang menghisap dan menindas seluruh akses sdm dan sda lokal. Negara "boneka kapital" berdiri kokoh di atas korupsi, diskriminasi dan depolitisasi untuk mempertahankan sistem sosial yang materialistik dan hanya memakmurkan segelintir elite politik dan pengusaha.
Pembangunan yang berbasis pada kebijakan kekuasaan modal tidak terbendung lagi dampak buiruknya terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Dengan dalih mewujudkan kesejahteraan "pembangunan global" laju berkembang melalui industrialisasi, yang berlangsung secara mendunia hingga memaksa tumbuhnya usaha-usaha yang terkonsentrasi hanya pada dukungan industrialisasi. Akan tetapi fakta sejarah mengatakan bahwa problem kemakmuran dan penderitaan selalu hadir bersamaan dalam perebutan akses sumber daya, sejak jaman kolonialisasi kuno hingga kolonialisasi modern (globalisasi). Karena kapitalisme adalah sebuah paham atau ideologic yaitu paham ekonomi maka seluruh aspek kehidupan diintegrasikan dalam sistem ekonomi dunia melalui
Menengok Indonesia yang adalah basis agraris, tentunya seluruh upaya pembangunannya adalah pada sektor pengelolaan yang bijaksana terhadap sumber-sumber agraria tersebut. Kegagalan pembaruan agraria berarti sama dengan kegagalan pembangunan dan hilangnya kemerdekaan Indonesia.
Pendekatan baru tentang bagaimana menguarai benang kusut persoalan penindasan abad modern ini adalah dengan pendekatan ekonomi politik. Di mana keberadaan negara bangsa tidak akan pernah lepas dari konstelasi global internasional. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan yang terjadi di bangsa-bangsa dunia sangat saling mempengaruhi. Problem globalisasasi telah beriangsung dalam kurun waktu yang panjang dan telah merubah sistem baru di berbagai bangsa, sektor dan aktor yang berbedabeda. Seolah ada hukum yang talk tertulis yang syah yang menyokong tafsir globalisasi adalah kompetisi, standarisasi, spesialisasi dan perubahan teknologi. Perubahan tidak semata-mata dipengaruhi oleh keadaan domestik atau dalam negeri melainkan sangattergantung dengan kepada dunia internasional dan kekuatan lembaga keuangan internasional. Makna intemasional community telah terdistorsi dan terekayasa sedemikian rupa menjadi makna untuk menjustifikasi program-program “pembangunan internasional” yang mengubah tatakrama dunia baru. Pertarungan imperialisme agaknya memang belum benar berakhir. Dengan tatakrama yang baru yang telah tersusun sedemikian rupa dan ekonomi menjadi alat negosiasi baru penaklukan-penaklukan wilayah negara. Batas teritorial, sosial dan budaya tidak menjadi penting dan harus seragam untuk melayani akses eksploitasi sumberdaya dan pasar tanpa perlawanan.

