Hidup Bersama Keluarga Korban Tragedi 1965-66


syarikat - Posted on 16 April 2006

Sebaliknya, saksi non PKI cenderung bangga
bercerita, meski hampir pasti akan dimulai dengan kecurigaan. Jika pun saksi
non PKI mulai bercerita, tidak jarang kisah-kisah saksi non PKI itu
bercampur-baur dengan bumbu-bumbu imajinatif, terutama berkaitan sikap
“heroisme sang pemenang”. Mungkin sebab stigma atas PKI saat ini masih mengakar
kuat dan yang berkembang di mana-mana.

Kepercayaan
itu penting

Keruwetan aspek data mungkin dapat diatasi dengan
rumusan metodologis. Sementara aspek trauma, berdasarkan pengalaman saya,
pasang-surutnya sebanding dengan aspek kepercayaan, yang tumbuh-kembangnya
dipengaruhi oleh banyak factor. Setidaknya tiga utama; factor kekerabatan dan
kedekatan (saudara/kawan), intensitas interaksi dan akses informasi yang
mempengaruhi pandangan korban dan pelaku atas peristiwa.

Banyak perspektif dapat menjelaskan mengapa aspek
kepercayaan menjadi penting di dalam seluruh rangkaian proses di dalam bertemu
dengan keluarga korban. Dan bahwa kepercayaan yang terbangun, kadarnya akan
sebanding dengan proses trauma healing dan truth[4] telling yang diharapkan.

Ungkapan
kisah yang berlapis-lapis

Tahun 1999 pertengahan, saya tinggal di kawasan
perkebunan teh, 37 kilometer ke arah selatan dari kota Pekalongan. Saya tinggal
di keluarga Suripto[5] yang
bekerja di perkebunan. Ekonomi keluarga Suripto dibanding sekitarnya tergolong
sangat berkecukupan. Dan saat itu, karena kesulitan mendapatkan data dari
kalangan korban peristiwa 1965, saya terbatas hanya dapat mewawancarai
tokoh-tokoh NU. Latar belakang keluarga saya sangat membantu proses wawancara
itu.[6]

Di pertengahan tahun 2000, konflik tanah antara
masyarakat sekitar perkebunan dengan pabrik perkebunan memanas. Situasi
menyeret saya terlibat dalam arus penyelesaian masalah sehingga tahu bahwa
salah satu latar belakang konflik tanah berkaitan perampasan tanah rakyat oleh
perkebunan pasca tragedy 1965-66. Selain itu, saya menjadi tahu bahwa salah
satu mandor di pabrik itu ketika tragedy 1965-66 terjadi, ditangkap dan dibuang
ke Pulau Buru, dan menetap di sana. Orang itu adalah bapaknya Suripto.
Informasi ini jelas satu kebetulan yang tidak pernah saya duga sebelumnya.
Keberuntungan pertama saya dapatkan.

Keberuntungan kedua saya datang. Di saat terjadi
konflik kekerasan Poso dan Ambon, ternyata hawa permusuhan juga merembet sampai
ke Pulau Buru. Pengungsian terjadi di mana-mana. Bapaknya Suripto, sebut saja
Dahuri[7],
beserta istri, kakaknya Suripto-istri dan anak-anaknya “mengungsi” ke Jawa, ke
rumah Suripto. Sampai beberapa bulan mereka tinggal di rumah Suripto. Saya
dapat berkenalan mereka. Hingga di saat kerusuhan mereda, kakak Suripto kembali
ke Pulau Buru. Sedangkan Dahuri dan istri yang sedang sakit, dan anak-anak
tetap tinggal. Belakangan saya tahu, bahwa keluarga Dahuri merupakan satu dari
banyak keluarga korban yang mengikuti pernyataan pihak militer untuk menyusul
korban ke Pulau Buru.

Keinginan, sekaligus problem saya saat itu adalah
bagaimana saya dapat mendengarkan kisah hidup Dahuri sejak terjadinya tragedy
1965-66 di perkebunan?

Saya sering ”kinthil” Dahuri ke kebun.
Dalam kesempatan bersamaan, saya sering bertanya-tanya tentang hal-ihwal
pohon-pohon, juga tentang pabrik dan perkebunan. Di saat sepi berduaan di meja
makan, saya beranikan diri bertanya, bagaimana ceritanya sampai ke Pulau Buru.
Dahuri selalu hanya menatap saya dengan tersenyum. Kuingat, Dahuri sering
memegangi dan memutar-mutar cangkir alumunium putih bertuliskan namanya[8],
seakan-akan ingin menunjukkan kepada saya. Tidak ada jawaban. Bahkan Dahuri
pergi meninggalkan saya sambil mengambil sabit menuju kebun di belakang rumah.

Saya tahu diri. Sejak empat bulan berkenalan
dengan Dahuri, baru sekali saya menanyakan kepada Dahuri tentang Pulau Buru.
Melihat sikapnya, satu bulan kira-kira lamanya saya memilih untuk tidak
bertanya lagi. Di saat bersamaan, saya hanya bercerita tentang perkembangan
konflik tanah dan nasib beberapa petani yang ditahan di kantor polisi. Sesekali
saya juga bercerita tentang perkembangan proses penyusunan RUU KKR yang saya
ikuti. Pertemuan dengan beberapa tokoh di YPKP 1965-66, satu organiasasi korban
Orde Baru pimpinan Ibu Sulami dan juga pertemuan kami, anak muda NU, untuk
mempersiapkan penelitian tragedy 1965-66 di Jawa.

Suatu pagi, berduaan di meja makan Dahuri
bercerita tentang lakon wayang di radio semalam. Dahuri menyebut dalang yang
tidak begitu kukenal dan terlupakan namanya. Dalam lakon wayang semalam, Dahuri
bercerita tentang perubahan yang akan terjadi seperti “mbalik ndog dadaran”[9]. Saya mendengarkan dan menjadi sadar bahwa Dahuri memang suka mendengarkan
radio, terutama di malam hari.

Esok harinya, di kebun saya beranikan bertanya,
adakah temen-temen Dahuri dahuluyang sama-sama sampai ke Pulau Buru yang
sekarang masih hidup? Dahuri menyebut tiga nama. Satu nama kabarnya sekarang
tinggal di Wonosobo. Nama yang kedua kabarnya tidak jelas masih hidup ataukah
telah meninggal. Dan yang ketiga satu nama yang pernah kudengar dari cerita
tokoh PNU di saat tragedy 1965-66 terjadi, yaitu Ngadam[10].
Cerita tokoh PNU kepada saya, Ngadam dulu akrab dengannya di NASAKOM dan
kadangkala masih datang bertamu di rumahnya.

Bersama dengan anak tokoh PNU itu, saya datang ke
rumah Ngadam. Agak terkejut Ngadam menerima kami berdua. Kami memperkenalkan
diri. Teman saya menyampaikan salam dari bapaknya untuk Ngadam dan saya
sampaikan salam untuk Ngadam dari Dahuri. Seketika wajahnya ceria. Ngadam
bertanya tentang keadaan tokoh PNU itu. Ngadam juga bertanya tentang Dahuri.
Saya bercerita wayang yang didengar Dahuri tentang zaman mbalik ndog dadaran.
Saya juga bertanya tentang kisahnya dulu sampai akhirnya dibuang ke Pulau Buru.
Di saat kami pamit, Ngadam titip salam untuk tokoh PNU dan untuk Dahuri.

Salam dari Ngadam saya sampaikan. Dahuri tersenyum
dan bertanya bagaimana kabarnya sekarang. Saya ceritakan semua tentang kisah
dan keadaan Ngadam sekarang. Dahuri kelihatan semakin enjoy dekat dengan
saya. Tetapi kedekatan saya dan Dahuri ini tidak lama. Saya tidak tahu apa
sebabnya, tiba-tiba Dahuri kelihatan menjauhi saya. Saya pura-pura tidak
merasakan dan saya berusaha tetap “kinthil” sama Dahuri.

Suatu hari, saya dekati Dahuri yang sedang
memperbaiki kandang ayam. Saya sedang bincang-bincang dengan Dahuri, ketika
tiba-tiba ia berhenti bercerita. Kulihat, Suripto, anak laki-lakinya mendekati
Dahuri dan memintanya ke kebun saat itu juga untuk memetik kopi. Saya sadar,
Suripto berusaha menghalangi kedekatan saya dengan Dahuri.

Saya faham jika Suripto khawatir. Pekerjaannya di
perkebunan adalah sumber penghasilan utama bagi keluarganya. Sementara konflik
tanah yang kemarin memanas lagi, masih terdengar selentingan dan rumor tentang
bangkitnya gerakan PKI”. Saya tahu, kakak Suripto sebelum pulang
kembali ke Pulau Buru, juga sempat bergabung dengan kelompok tani yang melawan
perkebunan. Saya juga tahu, Dahuri masih sering kontak dengan beberapa anggota
petani yang melawan perkebunan, meskipun tidak berani terang-terangan
menunjukkan sikapnya untuk melawan perkebunan. Saya fikir, Suripto dalam posisi
yang sulit. Apalagi sikap istrinya yang kelihatan “anti” terhadap Dahuri dan
istrinya.

Saya kiranya dapat merasakan konflik batin di
dalam hubungan semua anggota keluarga Suripto. Tetapi saya memilih diam dan
tidak memperdulikan semua. Saya tetap berkomunikasi seperti biasa dengan
Suripto, istrinya, dan Dahuri. Berkali-kali Suripto ketika mendapati saya berduaan
dengan Dahuri berusaha memisahkan saya dengan Dahuri dengan cara yang halus.
Tetapi saya bersikap seakan wajar-wajar saja. Sekali-kali, saya menyempatkan
berduaan dengan Suripto. Saya bercerita banyak hal tentang perubahan setelah
Soeharto turun. Saya juga sesekali bercerita bagaimana hasil penelitian
temen-temen tentang tragedy 1965-66 di banyak kota di Jawa. Meskipun Suripto
tidak memintanya.

Suatu hari, saya berduaan dengan Dahuri yang
sedang memberi makan ayam. Sampai saat itu, meski sudah hampir enam bulan saya
dekat Dahuri, belum juga bercerita kepada saya bagaimana kisah hidupnya di saat
bekerja di perkebunan, ditangkap karena tuduhan terlibat G 30 S, hingga dibuang
ke Pulau Buru. Suripto melihat kami dan menghampiri kami. Tetapi Suripto
membiarkan kami tetap berduaan. Malamnya, saya berduaan dengan Suripto menonton
TV. Di luar dugaan, tanpa saya minta, tiba-tiba Suripto bercerita bagaimana
susahnya hidup di saat tragedy 1965-66 terjadi. Cerita keluarga yang sangat
panjang, dari A sampai Z. Saya harus akui, inilah kisah keluarga korban tragedy
1965-66 pertama yang kudengar langsung dari anak mereka, bukan dari buku atau
orang lain. Setelah itu, saya berusaha untuk menuliskan kembali semua kisah
keluarga yang saya dengar dari Suripto, juga pengalaman saya sendiri.

Keluarga
“orang asing”

Dahuri ditangkap awal November 1965. Kira-kira
satu bulan ditahan di Gudang Kapok. Dipindah ke LP. Cikalsari Pekalongan sampai
kira-kira tiga bulan. Setelah itu kurang lebih dua bulan dipekerjakan[11] untuk membangun bendungan di Kedungwuni, daerah selatan Pekalongan. Kemudian
dipekerjakan lagi di Batang untuk perluasan pelabuhan Batang sampai kurang
lebih dua bulan. Setelah itu Dahuri dibuang ke Nusakambangan dan dikapalkan ke
Pulau Buru.

Suripto bercerita, selama empat bulan Dahuri
ditahan, satu per satu barang berharga di rumah dijual. Tidak hanya untuk
keperluan meransum Dahuri di tahanan. Tetapi juga untuk keperluan makan di
rumah. Suripto masih ingat bahwa meja makan, satu-satunya barang yang tersisa
di rumah yang paling terakhir dijual. Setelah itu, bahkan Suripto dan istri
Dahuri harus mengungsi ke rumah saudara di Wonosobo, sebab di rumah sudah tidak
ada yang dapat dimakan.

Sementara di tahanan, kata Dahuri, sejak bulan
kedua di tahanan LP. Cikalsari, rata-rata lima orang mati tiap hari sebab
busung lapar. Mereka kabarnya dibuang dan dikubur di pantai Slamaran Pekalongan.
Mayat-mayat itu dikubur di pinggiran pantai di saat air laut surut. Dan di saat
air pasang datang, ombak menyapu banyak mayat tahanan dan membawanya ke tengah
laut. Sampai-sampai orang-orang Pekalongan, ke barat dan ke timur, saat itu
pantangan makan ikan laut[12].

Suripto melanjutkan cerita. Masa itu begitu susah.
Tidak ada makanan di rumah. Di saat Dahuri dipekerjakan untuk perluasan
pelabuhan Batang, Suripto bahkan ikut bekerja bersama Dahuri untuk mendapatkan
makan. Meskipun Suripto masih anak-anak dan bukan tapol. Beberapa hari sekali
pulang rumah. Jarak rumahnya di perkebunan dengan pelabuhan Batang kira-kira 40
kilometer. Suripto menempuhnya dengan jalan kaki, bahkan dengan sedikit memutar
sebab di salah satu pertigaan menuju desanya selalu ada razia terhadap
orang-orang PKI. Apapun dilakukan Suripto untuk menyambung hidup.

Terdengar kabar Dahuri dari Pulau Nusakambangan
dipindah ke Pulau Buru. Itu saja kabar terakhir yang terdengar. Bertahun-tahun,
apapun Suripto lakukan untuk menyambung hidup. Hingga suatu hari Suripto
memutuskan bekerja menjadi kernet angkutan pedesaan. Bertahun-tahun menjadi
kernet, hingga Suripto mahir menyetir mobil dan naik pangkat menjadi supir.

Entah tahun ke berapa Dahuri di Pulau Buru,
terdengar kabar bahwa keluarga tapol diperbolehkan menyusul. Buru-buru Suripto
datang ke Kodim. Benar kabar itu, istri Dahuri dan kakak Suripto menyusul ke
Pulau Buru. Suripto tinggal sendirian. Bahkan di tahun 1979 ketika para tapol
semua diperbolehkan pulang ke Jawa, Dahuri dan istri, dan kakaknya Suripto
memilih tetap tinggal di Buru. Kabarnya, Dahuri telah memiliki lahan untuk
pertanian. Sedang kakak Suripto bisnis berdagang sapi. Bercocok tanam dan
merawat sapi, dua keahlian rata-rata yang dimiliki orang sekitar perkebunan.

Sampai tahun 2000[13],
puluhan tahun Suripto, istri dan empat anaknya tidak pernah berdekatan dengan
Dahuri dan keluarganya yang di Buru. Saya belakangan tahu bahwa istri kakak
Suripto, saya memanggilnya Mbak As, juga perempuan berasal dari sekitar Kudus[14] yang dibesarkan di Pulau Buru. Mbak As di usia muda dibawa Bu Dhenya ke
Pulau Buru.

Di saat Dahuri, istri dan keluarganya datang, problem
pertama muncul. Rumah Suripto tidak cukup. Problem lainnya tentang tanggungan
hidup. Keluarga Suripto bertambah beban hidup lima orang. Untung Mbak As dapat
bekerja di kota. Selain mendapatkan uang untuk biaya sekolah dan makan
anak-anaknya yang tinggal di rumah Suripto. Mbak As juga mendapatkan tempat
tinggal untuknya. Seminggu atau maksimal sebulan sekali, anak Mbak As
menengoknya di kota. Hanya saja, tampaknya anak Mbak As yang pertama gagal
beradaptasi. Ia memaksa pulang ke Buru, menyusul ayahnya. Bahkan akhirnya,
adiknya juga memaksa pulang ke Buru.

Dahuri kini tinggal di keluarga Suripto. Istri
Dahuri telah meninggal. Mbak As tetap tinggal di kota. Di saat anak-anak hendak
pulang ke Buru, terlontar Dahuri mengajak Mbak As bersamanya ikut pulang ke
Buru. Mbak As menolak dan akhirnya memilih pulang ke kota asalnya. Mbak As mengaku
ada masalah dengan suaminya, kakak Suripto. Sedangkan Dahuri merasa lebih dekat
dan merasa hidupnya tergantung pada Mbak As, anak menantu. Dahuri merasa tidak
betah tinggal dengan keluarga Suripto. Meskipun kabarnya, banyak hartanya
dikirim ke Suripto untuk membantu membangun rumah gedhong Suripto yang
sekarang ditempati. Suripto sendiri juga dalam posisi dilematis karena istrinya
yang sangat tidak dekat dengan Dahuri. Dahuri mengaku lebih enak tinggal di
Buru. Dan di saat Mbak As benar-benar pulang ke kota asalnya, runtuhnya relasi
psikologis keluarga korban tragedy 1965-66 telah menjadikan Dahuri sebagai
orang tua yang benar-benar terasing.

Epilog

Hari itu, Winnie The Pooh[15] pusing keliling. Si Macan Belang bersikeras bahwa ia punya keluarga.
Berhari-hari Si Belang mencari keluarganya mengelilingi hutan. Di saat
menemukan pohon besar dengan pola kulit yang belang-belang, Si Belang yakin
bahwa itulah pohon keluarga Si Belang. Ternyata bukan. Si Belang terus mencari,
tetapi tidak menemukan keluarga belang, hingga ia murung dan putus asa.

Apa yang harus Winnie dan kawan-kawan lakukan
untuk membahagiakan hati si Belang? Si Beruang berinisiatif, “sebaiknya kita
membuat surat atas nama keluarga belang bahwa keluarga belang akan datang
berkunjung”
. Menerima surat itu, hati Si Belang sangat bahagia. Ia
melompat-lompat girang. Saat itu juga, Si Belang menyulap rumah singgahnya di
atas pohon, bak istana bagi keluarga belang, menghias dan mempersiapkan
makan-makanan yang lezat.

Winnie dan kawan-kawan melongo bingung. Mereka
tidak mengira akan begitu jauh akibatnya. Bagaimana jadinya jika Si Belang tahu
bahwa surat itu, Winnie dan kawan-kawan yang membuat? Padahal Si Belang sudah
lama menunggu datangnya keluarga belang. Apa yang harus dilakukan? Semua sibuk
memikirkan nasib Si Belang. Hingga mereka sadar, musim salju telah datang,
sementara semua belum mengumpulkan makanan untuk melewatinya. Tetapi demi
teman, mereka putuskan untuk merubah rupa diri bak keluarga belang. Winnie dan
kawan-kawan menjahit pakaian motif belang dan memakainya bak keluarga belang.

Di hari yang ditentukan, mereka berangkat ke rumah
Si Belang. Surprise bagi Si Belang! Begitu bahagia Si Belang. Keluarga belang
berkumpul. Mereka menari-nari bersama. Hingga, Si Belang mengajak tarian khusus
keahlian keluarga belang. Tarian ini jika dilakukan akan membuat keluarga
belang dapat berlari secepat kilat. Sekali lagi Winnie dan kawan-kawan melongo
bingung. “Gawat! Terbongkar penyamaran kita…“, pikir Winnie. Untung, Si
Kanguru Kecil pernah berlatih tarian itu dari Si Belang, meski belum ahli. Si
Kanguru Kecil terpaksa menari melayani Si Belang.

Tetapi sial, Si Kanguru Kecil gagal menari.
Penyamaran keluarga belang terbongkar. Si Belang marah dan lari meninggalkan
semua, di tengah badai salju. Winnie dan kawan-kawan mengejar tetapi kehilangan
jejak. Winnie dan kawan-kawan meminta bantuan Si Kancil untuk melacak ke mana
Si Belang pergi. Di bawah ancaman badai salju semua mencari. Hingga di suatu
tempat, tampak Si Belang sedang berjalan. Semua mengejar. Tetapi salju longsor
datang. Semua menyelamatkan diri dengan memanjat pohon belang-belang yang
begitu besar. Bagaimana nasib Si Macan Belang? Ia terancam tersapu longsoran
salju. Refleks, dengan sepenuh hati, Si Kanguru Kecil melakukan tarian keluarga
belang…aaiit syuiit…secepat kilat Si Kanguru Kecil dapat terbang
menyelamatkan Si Belang dan membawanya berkumpul dengan Winnie dan kawan-kawan
di pohon belang-belang. “Di pohon belang-belang inilah akhirnya keluarga
belang; sahabat-sahabatku berkumpul”
, demikian guman Si Macan Belang.



[1] Tulisan ini pernah disampaikan di dalam lokakarya
tentang “Historiografi Kekerasan Masa Lalu” yang diselenggarakan oleh PUSdEP
USD, 10 s/d 11 Desember 2004, dengan beberapa perubahan.

[2] Saiful H. Shodiq adalah pegiat Syarikat
Indonesia, satu jaringan kerja yang konsern pada rekonsiliasi dan rehabilitasi
korban tragedy 1965-66.

[3] Pekalongan pada masa peristiwa politik 1965 masih
membawahi tiga kawedanan di wilayah Batang berdasarkan UU no. 13/1950, yang
setelah itu berubah menjadi Kabupaten Batang tersendiri berdasarkan UU no.
9/1965.

[4] Kata truth di sini lebih dimaksudkan
sebagai kebenaran menurut penuturan siapa dalam perspektif masa lalu.

[5] Bukan nama sebenarnya.

[6] Saya besar dan dibesarkan di lingkungan NU. Kakek
buyut saya, KH. Shiddiq Ismail adalah pengagum berat KH. Wahid Hasyim, terutama
kaitan “gerakan pendirian madrasah” di lingkungan pesantren. Di saat NU keluar
dari Masyumi tahun 1952, KH. Shiddiq Ismail memimpin NU keluar dari Masyumi dan
mendirikan PNU. Beliau wafat akhir bulan Januari 1965.

[7] Bukan nama sebenarnya.

[8] Setelah banyak bertemu dengan para bapak-bapak
eks tapol 65 di Yogyakarta, saya tahu bahwa cangkir alumunium dengan goresan
nama merupakan cangkir jatah yang banyak dimiliki oleh para tahanan politik.

[9] Mbalik ndog dadaran secara harfiah berarti
membalik telur dadar di penggorengan. Di sini yang dimaksud adalah akan adanya
perubahan seperti terbaliknya telur dadaran di penggorengan, yang di bawah
menjadi di atas dan sebaliknya. Komentar ini keluar di saat rezim Gus Dur
berkuasa.

[10] Siapa Ngadam dapat dibaca di RUAS edisi IV,
Maret-April 2002, terbitan Syarikat Indonesia.

[11] Menurut para eks tapol kebih cocok untuk disebut
“di-romusha-kan”, sebab kenyataanya yang hampir mirip. Bedanya ada jatah
makan, tetapi tetap tidak digaji.

[12] Kisah ini banyak didengar di kalangan masyarakat,
tetapi sangat sulit untuk memastikan lokasi penguburan massal itu karena
pengikisan pasir maupun penambahan kawasan pantai karena penumpukan pasir.

[13] Dahuri di Nusakambangkan tahun 1966. Sejak itu
Suripto tidak pernah bertemu. Bahkan ketika tahun 1979 para tapol dipulangkan,
Suripto tidak pula bersua. Pertemuan kembali pertamakali terjadi di tahun 2000,
di saat Dahuri ikut mengungsi ke Jawa sebab konflik kekerasan di Ambon-Poso
yang merambat sampai Buru.

[14] Kepastian tempat asalnya saya samarkan.

[15] Diceritakan seluruhnya dari satu judul film
anak-anak Winnie The Pooh.