Hors d’oeuvre

Namun dengan pendekatan dekontruksi yang dilakukan oleh kelompok post modernis maka sastra itu semakin dekat dengan sejarah. Keduanya berkaitan dengan narasi. Sejarah seperti halnya sastra disampaikan oleh sejarawan melalui narasi. Narasi sejarah itu sendiri memakai pembabakan misalnya awal, pertengahan dan akhir yang merupakan pembabakan sastra juga. Lantas apa beda keduanya ? Kalau dikatakan soal keakuratan, sejarah juga bisa tidak akurat. Yang jelas, keduanya membutuhkan imajinasi dari penulisnya.

Tentu pendekatan dekonstruktif ini memiliki kelemahan pula. Para sejarawan dituntut untuk mengakui bahwa bahasa bukan sekedar alat untuk menyatakan pikiran atau menyimpan ingatan tetapi juga memiliki kemungkinan menciptakan realitas. Tetapi persoalannya kalau semuanya harus didekontruksi bukankah karya post modernis itu juga harus didekontruksi pula. Taufik Abdullah yang menolak dekonstruksi ini berpendapat “tanpa keyakinan bahwa kebenaran empiris dan historis adalah sesuatu yang bisa didapatkan, kita hanya akan menggerayang dalam kegelapan (Taufik Abdullah, Nasionalisme & Sejarah,  2001).

“Menggerayang dalam kegelapan”, sebagai selingan,  tentu bisa mendatangkan kenikmatan tersendiri, meskipun kebenaran empiris dan historis itu belum didapatkan. Penulis buku ini telah berupaya membaca demikian banyak sumber mengenai peristiwa 1965 sebelum atau ketika menulis serta menyertakan banyak dokumen. Boleh dikatakan bahwa karya ini dibuat dengan cerdas dan cermat (érudit). Bahkan penulisnya juga menyinggung salah satu aspek yang masih jadi gunjingan sejarah yaitu tewasnya Arief Rahman Hakim (di dalam buku ini bernama Hikam) tahun 1966, apakah dia sendiri yang gugur atau orang lain (kabarnya seorang gelandangan) yang ketika tertembak ditutup dengan jaket kuning berlabel ARH itu.

Sejarawan tentu lebih ketat dalam pengelolaan ruang dan waktu termasuk aspek kronologis. Namun di sini pengarang dengan leluasa berpindah dari kondisi sekarang menuju masa lampau seputar tahun 1965. Namun di tengah jalan bisa saja ia melompat ke depan dengan penggambaran tentang pembakaran Pasar Senen (yang mengingatkan kepada kasus Malari Januari 1974). Ending cerita berupa pengunduran diri Mayjen Theo Rosa mengingatkan pembaca kepada lengsernya Soeharto tahun 1998. 

Novel ini terbagi atas tiga bagian, petualangan-pembantaian-penentuan, yang dalam sejarah merupakan tahapan krusial dalam pengalihan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Soeharto. Kisah berawal dari sidang pengadilan yang memailitkan perusahaan kecap Mas Koki, Darius Johan sang manajer dalam kondisi PHK berusaha mencari pekerjaan. Darius yang entah kebetulan tanggal lahirnya sama dengan Noorca M Massardi (28 Februari), naik bis kota dan berdampingan duduk dengan seorang pemuda. Pemuda itu ternyata Bo Gesti seorang penulis freelance yang tulisan cukup banyak dimuat mediamassa. Entah kenapa, Darius sudah berada di rumah Bo. Mulailah ia merasuki kehidupan Bo Gesti bahkan sempat bercinta dengan pacar Bo yang kemudian diketahui bernama Nadya Duvierge, seorang gadis indo keturunan Perancis.  Bahwa Bo Gesti tak lain dari Marius bisa dilihat dari akses komputer di rumah Bo yang menggunakan kode “darius”.  Bo kemudian tiba pada suatu lokasi shooting di sebuah mall, dan merasuki tubuh bintang film Johan Bagus Redana. Pergaulan dengan Johan ini yang membawa Darius alias Bo Gesti, menjalin persahabatan dan masuk dalam kehidupan Ratna, Niko, Tamara dan Nadya. 

Merasuki seorang tokoh bukanlah unik dalam sastra walaupun memasuki jiwa dan raga seorang tokoh sejarah untuk mengintip apa yang dipikirkan dan dilakukannya adalah suatu upaya yang kreatif. Saya teringat kepada diskusi dengan budayawan (juga grand chef) Bondan Winarno mengenai buku “6000 Tahun Merah Putih” yang ditulis M Yamin. Bondan mendapat kabar bahwa di Salatiga pada masa lampau ada seorang cenayang (medium) yang melalui ritual bersama para pasiennya dapat terbang ke masa lampau yang jauh misalnya untuk bertemu nenek moyang atau melacak silsilah kebangsawanan. Tidak dijelaskan apakah M Yamin juga termasuk orang menggunakan jasa cenayang, hal itu tentu diverifikasi lebih lanjut.

Tragedi 1965 telah banyak ditulis walaupun seperti dikatakan W.F.Wertheim, kisah ini serupa dengan cerita detektif, banyak intriknya. Menurut Coen Holtzappelt ada missing link dalam kudeta itu terutama menyangkut keberadaan pasukan Pringgodani yang ditugaskan di Lubang Buaya. Kenapa Jenderal yang masih hidup dieksekusi di sana, bukankah itu sama dengan bunuh diri bagi gerakan ini, dengan kata lain, merupakan ini kudeta yang disengaja untuk gagal. Massardi berupaya lebih jauh menyoroti missing link ini di stasiun RRI yang menyiarkan pengumuman Gerakan 30 September secara berulang dan mencurigakan. Pengumuman itu dikeluarkan oleh Bagian Penerangan Gerakan 30 September yang mengingatkan kepada Bagian Penerangan Angkatan Darat.

Setting kehidupan borjuasi muda perkotaan (bintang film, wartawan terkemuka, model, dll) dituturkan dengan ungkapan yang plastis seperti ketika Bo menangkap badan Nadya bagai “kiper yang menangkap bola dari tendangan penalti”. Sopirnya bernama “nona jangan” alias Misno. Kehidupan metropolitan yang tak luput dari hubungan seksual antar jenis dan sesama jenis, salah satunya digambarkan sebagai “hubungan jasmani sampai ke ujung paling ujung dari segala ujung”.

            Dengan menyedot darah Niko, maka Darius bisa masuk ke tubuh siapa termasuk Bo Gesti, Niko dan menggauli Ratna, Tamara dan Nadya. Bahkan Darius bisa masuk ke tubuh Presiden Sukresno. Ia tahu bahwa Presiden menderita stroke ringan tanggal 4 Agustus (1965) Lalu Presiden melalui ajudannya Djiwakarno (tentu pembaca akan teringat Widjanarko) meminta kepada empat sekawan Bo, Niko, Tamara dan Nadya untuk mempersiapkan kontra propaganda yang telah dilancarkan sebelumnya oleh pihak militer.

            Kampanye militer telah dilakukan sejak tanggal 1 Oktober 1965 dengan melarang semua media terbit kecuali Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Baru seminggu kemudian media massa lain boleh terbit. Waktu itu sempat dimanfaatkan untuk menebarkan gosip bahwa kemaluan para Jenderal disilet oleh perempuan Gerwani di Lubang Buaya. Bulan Maret 1966 dikeluarkan pengumuman bahwa berita politik khususnya mengenai peristiwa 1965 harus seijin Pusat Penerangan Angkatan Darat.

            Itulah fakta yang terjadi dalam sejarah. Di dalam novel, kreativitas pengarangnya memunculkan alternatif empat sekawan yang berhasil mematahkan propaganda hitam itu dan akhirnya memojokkan Mayjen Theo Rosa selaku Panglima Komando Pasukan Cadangan AD (Kopascad) untuk mengakui semuanya di depan DPR. Theo sempat melakukan tembakan di gedung parlemen dan akhirnya mengundurkan diri sekaligus bunuh diri.

            Ungkapan “tiada gading yang tidak retak” konon sekarang sudah berganti menjadi “tiada gedung yang tidak retak” (di Yogya karena gempa, di tempat lain karena korupsi). Wawancara Johan di televisi terasa berkepanjangan. Ketika Presiden yang fasih berbahasa Perancis menyapa Nadya, ia memulai kalimat dengan memanggil anda (vouvoyer) namun pada kalimat berikutnya sudah menggunakan engkau (tutoyer). Benar atau tidak, tentu ini hanya novel yang fiktif. Muncul satu kali nama Presiden Soekarno (hal 434), padahal sepanjang novel ini tokoh tersebut disamarkan menjadi Soekresno. Nama Ratna berganti dengan Nadya, apakah tokoh yang satu merasuk ke tokoh yang lain (hal 359)? Namun terlepas dari ‘retak kecil” ini, buku ini adalah sebuah karya signifikan di antara novel yang bisa membantu proses dekonstruksi dan rekonstruksi  sejarah Indonesia kontemporer. Tokoh Niko dalam novel ini adalah pemimpin redaksi majalah Novum, kita tahu istilah ini berarti “bukti baru” di pengadilan. Masyarakat menunggu naskah ini difilemkan secepatnya.  

            Secara ringan, pembaca buku ini diberi semacam kuis oleh pengarang dengan menyodorkan nama-nama tokoh yang betul-betul ada dalam sejarah dan memplesetkannya misalnya Tasnio Hanu (A.H.Nasution), Mahya Nida (Ahmad Yani), Armandhio (Omar Dhani), Pangdam Jaya Usamahwaruduri (Umar Wirahadikusuma), Wakil PM Alimenje (J. Leimena), Arbie Djamhari (Ibrahim Adjie), Bowo Sitonu (Ibnu Sutowo), Malka Dima (Adam Malik), Dubes AS Sheerman Grall (Marshall Green), penyair Fatiqu Salimi (Taufiq Ismail).

            Lantas Mayjen Theo Rosa yang menjadi dalang kudeta September itu siapa ?   



[1] Pengantar untuk novel Noorca M.Massardi, September, 2006 (akan terbit)

[2] Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Politik LIPI. Lulus doktor sejarah dari EHESS (Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales), Paris, 1990.